-->

Hujan Deras Kembali Rendam Tapteng, Janji Mitigasi Bencana dari Pemerintah Tak Kunjung Berjalan

Sebarkan:

Kondisi wilayah di Tapanuli Tengah yang kembali dilanda banjir manakala hujan lebat turun
Hujan deras yang kembali mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menyebabkan banjir di sejumlah wilayah pada Minggu (13/9). Lonjakan intensitas hujan sejak pukul 15.30 WIB membuat debit sungai meluap secara cepat dan meluap hingga merendam permukiman warga.

Kondisi tersebut berdampak pada beberapa wilayah di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tukka, Badiri, dan Sarudik. Di sejumlah titik genangan, ketinggian air terpantau meningkat drastis dalam waktu relatif singkat sehingga memaksa warga bersiap menghadapi luapan air.

Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah adalah Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka. Pada pukul 15.43 WIB, ketinggian air yang awalnya tercatat sekitar 40 sentimeter melonjak hingga mencapai satu meter hanya dalam waktu 15 menit.

Kenaikan air yang cepat tersebut membuat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng bergegas melakukan langkah evakuasi di lapangan. Sebanyak 15 kepala keluarga yang terdiri atas 37 jiwa, termasuk di antaranya tujuh anak-anak, dipindahkan ke lokasi aman di Gereja HKBP Sipange.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Tapteng, Agus Harianto, menegaskan komitmen penanganan darurat yang dilakukan oleh jajarannya saat berada di Pandan.

“Prioritas utama kami adalah keselamatan jiwa warga. Tim langsung diterjunkan ke titik-titik genangan tinggi,” kata Agus Harianto.

Selain di Kecamatan Tukka, ancaman banjir juga meluas ke Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri. Debit air di Sungai Lopian tercatat mengalami kenaikan sekitar 60 sentimeter hingga akhirnya meluap dan menutupi badan jalan di sekitarnya.

Sementara itu, di Kecamatan Sarudik, kenaikan debit air terjadi di Sungai Sarudik hingga mencapai sekitar dua meter.Luapan sungai ini kemudian memasuki rumah-rumah warga yang berada di Lingkungan VIII, yang memicu sebagian masyarakat untuk melakukan proses evakuasi secara mandiri.

Penanganan banjir di Tapteng tidak hanya berfokus pada proses evakuasi semata. Munculnya banjir setiap kali hujan deras turun menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian lebih, terutama terkait kondisi fisik sungai, kelayakan saluran drainase, daerah resapan air, hingga keberadaan infrastruktur pengendali banjir.

Dalam merespons situasi darurat ini, pemerintah daerah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Pos SAR Sibolga, serta unsur TNI dan Polri bergerak bersama untuk memantau kawasan terdampak, mengarahkan lalu lintas, dan membantu evakuasi warga.

Memasuki pukul 20.00 WIB, genangan air di beberapa lokasi dilaporkan mulai berangsur surut. Meski demikian, personel BPBD tetap disiagakan di lokasi untuk memantau situasi dan mengantisipasi potensi kenaikan debit sungai jika hujan deras kembali mengguyur.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, permasalahan ini bukan sekadar dampak saat banjir melanda. Tantangan jangka panjang yang dihadapi adalah bagaimana memastikan curah hujan yang tinggi tidak selalu berdampak pada kecemasan, proses evakuasi berulang, dan lumpuhnya aktivitas warga.

Banjir yang terjadi di Tapteng ini membuat masyarakat sekitar semakin menderita karena sebelumnya  mereka juga menjadi korban banjir besar yang terjadi pada November 2025. Penanganan kasus banjir itu malah belum tuntas sampai sekarang. Janji pemerintah untuk menerapkan mitigasi bencana ( pengurangan risiko bencana) tidak kunjung berjalan.

Para pejabat negara hanya datang berkunjung ke Tapteng, tapi aksi mereka di lapangan sangat minim. Hanya lebih  banyak pencitraan ketimbang menyusun perencanaan yang akurat.

Padahal kabupaten Tapanuli Tengah sangat membutuhkan penguatan ketangguhan bencana sekaligus penanganan jangka panjang agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus bertahan setiap kali hujan deras turun. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini