![]() |
| Febiola Br Purba, siswi SMK Bersama Brastagi didampingi kedua orangtuanya saat menjalani perobatan di RS |
Kondisi Febiola Purba dikabarkan mengalami situasi yang sangat memprihatinkan, yakni kehilangan memori sehingga tidak lagi bisa mengenal teman-temannya. Bahkan Febiola disebut- sebut sulit untuk mengenali wajah kedua orang tuanya, adiknya, guru, hingga beberapa barang milik pribadinya.
Padahal Febiola sebelumnya dikenal sebagai siswi yang sangat aktif. Putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang ini dikenal sebagai siswi dengan prestasi akademik yang menonjol. Ia beberapa kali berhasil meraih peringkat pertama di kelas.
Selain berprestasi dalam bidang akademik, Febiola juga aktif dalam kegiatan organisasi dan dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua OSIS. Dalam keseharian, ia juga aktif membantu merawat kebun orang tuanya.
Kondisi Febiola mulai berubah setelah ia mengonsumsi makanan dari program MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026. Setelah kejadian tersebut, Febiola disebut mengalami sejumlah gejala keracunan.
Ia sempat menunjukkan perkembangan positif dua setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Namun pada minggu, 16 Agustus 2026, Ia mengalami kejang hebat dan kehilangan kesadaran sehingga harus dilarikan ke rumah sakit di Medan.
Dari keterangan medis yang disampaikan keluarga, Febiola mengalami gangguan ingatan atau amnesia yang diperkirakan mencapai sekitar 70 persen. Dalam proses penanganannya, Febiola telah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, hingga RS Amanda Karo.
Dokter menyampaikan bahwa Febiola masih membutuhkan terapi intensif secara berkala dan diperkirakan harus menjalani perawatan tersebut setidaknya selama satu tahun. Kondisi itu dipastikan sebagai dampak dari MBG yang ternyata mengandung racun.
Dinas Kesehatan Sumut telah memastikan adanya kandungan racun di dalam MBG itu setelah melakukan penelitian laboratorium terhadap sampel makanan yang ada. Setidaknya tiga jenis bakteri berbahaya ditemukan dalam sampel makanan tersebut, dengan kadar yang melampaui ambang batas aman. Ketiga bakteri itu adalah Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli).
Rinciannya, sampel nasi MBG itu dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus, sedangkan sampel ikan dencis bersaus positif mengandung Staphylococcus aureus, sementara sampel buah melon terkontaminasi bakteri E coli.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rizal, menegaskan kadar temuan bakteri ini bukan ukuran biasa, melainkan sudah pada level yang membahayakan kesehatan.
“Bakteri itu memang secara alami ada di mana-mana, termasuk di dalam makanan. Tetapi menjadi berbahaya ketika jumlah atau volumenya sudah melebihi ambang batas atau standar yang ditentukan,” ujar Hamid, Selasa (8/9).
Tak heran jika banyak pelajar Brastagi yang mengalami keracunan parah. Kondisi Febiola adalah yang terburuk karena sampai sekarang ia belum juga pulih. Tak heran jika kasus ini mendapat sorotan DPR RI karena dianggap merupakan kasus yang tidak biasa.
“Kasus di Berastagi, Karo ini sudah masuk kategori serius dan tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa,” ujar Nurhadi, anggota Komisi IX DPR RI kepada wartawan, Rabu, 9 September.
Untuk itu Nurhadi meminta pemerintah memastikan seluruh korban memperoleh pemeriksaan dan pengobatan secara tuntas. Penanganan tidak boleh berhenti setelah gejala akut akibat dugaan keracunan dinyatakan membaik, tetapi para korban perlu mendapatkan pemantauan terhadap kemungkinan dampak kesehatan dalam jangka panjang.
"Seluruh korban harus mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara tuntas, termasuk pemantauan dampak kesehatan jangka panjang, bukan hanya sampai gejala akutnya hilang,” tegasnya lagi.
Selain penanganan medis, Nurhadi juga meminta pemerintah membuka hasil investigasi secara transparan kepada orang tua korban maupun masyarakat. Ia juga meminta dilakukan audit menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG.
Ia menekankan, audit tersebut harus mencakup seluruh rantai proses penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, transportasi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa.
“Harus dilakukan audit total terhadap SPPG, mulai dari bahan baku, proses memasak, penyimpanan, distribusi, transportasi sampai makanan diterima dan dikonsumsi siswa,” katanya.
Legislator NasDem dari Dapil Jawa Timur iru pun mengingatkan agar persoalan tersebut tidak berhenti hanya pada pencopotan kepala SPPG. Menurut Nurhadi, apabila hasil investigasi dan bukti ilmiah membuktikan adanya kelalaian yang menyebabkan anak-anak menjadi korban, maka harus ada pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kendati demikian, ia menekankan pentingnya memastikan terlebih dahulu penyebab kejadian berdasarkan hasil investigasi dan bukti ilmiah.
“Kalau memang terbukti ada kelalaian yang menyebabkan anak-anak menjadi korban, harus ada pertanggungjawaban yang jelas sesuai aturan. Sebaliknya, kita juga harus memastikan penyebabnya berdasarkan hasil investigasi dan bukti ilmiah, bukan sekadar saling menyalahkan,” katanya.
Jangan Korbankan Siswa
Nurhadi menegaskan program MBG merupakan program pemerintah yang baik dan penting, namun pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan aspek keamanan pangan. "Program MBG adalah program yang baik dan sangat penting, tetapi program yang baik tidak boleh mengorbankan keselamatan penerimanya,” katanya.
Sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN), anggota komisi bidang kesehatan itu mengatakan pihaknya akan mendorong agar kasus di Kabupaten Karo menjadi momentum untuk memperketat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG secara nasional.
“Sebagai mitra pemerintah di Komisi IX, kami akan mendorong agar kasus Karo ini menjadi momentum untuk memperketat standar keamanan pangan MBG secara nasional. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang,” pungkas Nurhadi. ***
