-->

Survei Membuktikan Elektabilitas Gibran Anjlok Parah, Rakyat kian Realistis Menilai Pemimpin

Sebarkan:

Gibran Rakabuming, elektabilitasnya semakin anjlok karena rakyat semakin sadar politik
Hasil survei lembaga Median kembali melakukan survey terkait elektabilitas sejumlah tokoh politik di Indonesia. Dari survey itu,  elektabilitas Prabowo Subianto masih menempati posisi teratas dalam pemilihan, baik dalam pertanyaan terbuka maupun semi terbuka. Hal ini memang biasa, karena pemimpin yang berkuasa tentu memiliki tingkat popularitas lebih tinggi. Bukan soal kinerja, tapi soal persepsi masyarakat saja.

Namun yang paling parah adalah elektabilitas Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, yang ternyata sangat  jauh dibawah. Tingkat elektabilitas Gibran bahkan kalah jauh dibanding tokoh-tokoh seperti  Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Agus harimurti Yudhoyono.

Anjloknya citra itu dipastikan karena rakyat sudah melihat betul kemampuan leadership dari Gibran yang sangat tidak memadai untuk menjabat sebagai wakil presiden. Teknik komunikasinya sangat buruk, dialektikanya dibawah standar dan karyanya juga tidak ada yang jelas. Apalagi ia sama sekali tidak bisa menjelaskan kegagalan janji-janji kampanye politiknya.

Latar belakang pendidikan yang dipermasalahkan serta citranya sebagai ‘anak haram konstitusi’ dianggap masih melekat dalam ingatan rakyat sehingga popularitas Gibran  terus melorot. Jelas, sangat tidak pantas ia menjabat wakil presiden.

Direktur eksekutif Median Rico Marbun mengatakan, untuk survey dalam bentuk pertanyaan terbuka, posisi Prabowo Subianto juga masih cukup tinggi, memperoleh elektabilitas sebesar 32,2 persen.

Posisi berikutnya ditempati Dedi Mulyadi dengan 19,8 persen dan Anies Baswedan dengan 19,5 persen.

"Dalam pertanyaan terbuka, Prabowo Subianto memperoleh 32,2 persen, kemudian Dedi Mulyadi 19,8 persen dan Anies Baswedan 19,5 persen," kata Rico dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9).

Setelahnya, survei menemukan elektabilitas Ganjar Pranowo tercatat sebesar 4,5 persen, disusul Sherly Tjoanda 3,5 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,3 persen, Joko Widodo 2,0 persen, Gibran Rakabuming Raka 2,0 persen, Mahfud MD 1,8 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa 1,3 persen.

Rico mengatakan hasil yang tidak jauh berbeda terlihat dalam pertanyaan semi terbuka. Prabowo Subianto kembali berada di posisi pertama dengan elektabilitas 32,4 persen.

"Dalam pertanyaan semi terbuka, Prabowo Subianto memperoleh 32,4 persen. Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 20,6 persen dan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 20,5 persen," ujar Rico.

Selanjutnya, Ganjar Pranowo memperoleh 5,0 persen, Sherly Tjoanda 4,1 persen, Gibran Rakabuming Raka 2,6 persen, Mahfud MD 2,1 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,0 persen, Andika Perkasa 1,5 persen, serta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok 1,2 persen.

Survei Median dilakukan secara tatap muka (face-to-face interview) pada 21 Juli-2 Agustus 2026.

Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Target sampel dalam survei ini sebanyak 1.212 responden, dengan margin of error (MoE) ±2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel dipilih secara random menggunakan metode multistage random sampling. Distribusi sampel dilakukan secara proporsional berdasarkan populasi provinsi dan gender.

Untuk memastikan kualitas data, survei juga melakukan quality control terhadap 20 persen sampel yang ada. Median menyatakan hasil survei ini menggambarkan dinamika politik yang terjadi selama masa pengambilan data, yakni pada periode 21 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Bukan sekali ini saja ada sebuah survey yang menyebutkan anjloknya elektabilitas Gibran Rakabuming. Survei dari lembaga lainnya juga menyatakan demikian. Hal ini menjadi bukti bahwa rakyat semakin sadar dalam melihat kualitas seorang pemimpin.

Bagaimanapun hebatnya pencitraan terhadap pemimpin itu, kalau kualitasnya buruk, tetap akan memunculkan aib di masyarakat. Sepandai-pandai buzzer mengangkat citra Gibran, kelemahannya tetap tidak bisa ditutupi.

Kecerdasan tidak bisa dipaksakan meningkat. Kalau goblok ya tetap goblok. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini