![]() |
| Bobby Nasution bersama Listyo Sigit Prabowo |
Sebelum berstatus sebagai menantu, Bobby sama sekali tidak dikenal warga Sumut. Bahkan temannya di wilayah ini bisa dihitung dengan jari.
Maklum, sejak kecil hingga menyelesaikan pendidikan sarjana, Bobby lebih lama tinggal di luar Sumut. Masa kecilnya dihabiskan di Lampung, sedangkan masa remajanya di Kalimantan dan kemudian berlanjut di Jawa. Jadi wajar kalau warga Sumut tidak mengenalnya.
Namun sejak menikah dengan Kahiyang Ayu pada November 2017, Bobby langsung memanfaatkan statusnya sebagai menantu presiden untuk bisa meniti karir di politik. Ambisinya ini mendapat dukungan dari sang mertua, sehingga Jokowi pun mengerahkan kekuatan semua lembaga negara untuk membantu kemenangan Bobby Nasution pada Pilkada pertama yang diikutinya, yakni Pilkada Medan 2020.
Salah satu yang berperan besar mendukung kemenangan Bobby adalah Partai Coklat, istilah bagi permainan polisi dalam politik.
Partai Coklat ini yang melakukan tekanan ke arus bawah untuk memastikan mengalirnya suara kepada Bobby Nasution. Partai Coklat berperan memobilisasi kepala desa, kepala lingkungan dan para camat di berbagai daerah untuk bergerak membantu Bobby Nasution.
Jabatan Kepala Desa dan kepala Lingkungan akan terancam manakala di daerahnya suara Bobby kalah dari pesaingnya. Mereka ditakut-takuti dengan tuduhan korupsi.
Partai Coklat juga berkordinasi dengan KPU dan Bawaslu sehingga semua sistem pada Pilkada 2020 benar-benar menguntungkan Bobby. Dua sosok jenderal polisi yang bermain mengendalikan Partai Coklat adalah Komjen Agus Andrianto (waktu itu menjabat Kabaharkam Polri) dan Kapolri Listyo Sigit.
Bahkan Agus Andrianto berkali-kali turun ke Medan untuk mengawal kemenangan Bobby.
Partai Coklat juga bekerjasama dengan berbagai Ormas untuk menggerakkan massa di berbagai sudut kota Medan. Sementara Bobby Nasution hanya duduk manis sebab sejak awal ia memang sudah diplot untuk menduduki jabatan walikota Medan.
Bobby kabarnya tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk Pilkada itu. Semua ditangani sponsor. Bahkan bisa dikatakan ia untung besar.
Peran Partai Coklat untuk kepentingan dinasty politik Jokowi secara gamblang pernah dibeberkan Sekjen PDI Hasto Kristiyanto ke sejumlah media. Hasto tahu betul, sebab ia pernah menjadi bagian dari konspirasi itu, di saat hubungan keluarga Jokowi dan PDIP masih sangat mesra.
Setelah hubungan itu pecah pada 2023, Hasto langsung membeberkan semua fakta ini.
Hasto membenarkan, kalau Partai Coklat tidak bermain, tidak akan mudah bagi Bobby Nasution untuk memenangkan Pilkada di Medan pada 2020. Apalagi Bobby sama sekali tidak berpengalam dalam politik. Ia murni mengandalkan dukungan mertuanya. Kemenangannya sangat bergantung kepada dukungan lembaga negara.
Sukses memenangkan Pilkada Medan 2020, Bobby meningkatkan ambisi politiknya pada Pilkada berikutnya. Lagi-lagi dukungan partai Coklat kepada Bobby Nasution kembali diberikan pada Pilkada Gubernur 2024. Permainan sama yang dilakoni Partai Coklat pada Pilkada 2020 kembali dijalankan pada Pilkada 2024.
Partai Coklat kembali bermain di akar rumput untuk menekan Kepala desa, camat dan Kepala lingkungan. Sedangkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bermain di level ASN.
Singkatnya, seluruh kekuatan lembaga negara dikerahkan untuk memenangkan Bobby pada Pilkada Sumut. Dengan kerjasama itu, sehingga Bobby Nasution melenggang menduduki jabatan Gubernur. Ia mengalahkan Edy Rahmayadi yang jauh lebih senior.
Karir politik Bobby melesat bak meteor. Bayangkan, dari seorang anak muda yang tidak dikenal public, dengan modal pernikahan, dalam waktu singkat ia bisa menduduki jabatan walikota Medan dan kemudian berlanjut jabatan Gubernur. Tak salah jika dikatakan karir politik Bobby melesat berkat surat nikah..!
Negara bukan hanya membantu Bobby menduduki jabatan politik, menantu Jokowi itu juga mendapat perlindungan hukum dari segala indikasi kasus korupsi yang dilakukannya. Tak bisa dibantah, Bobby Nasution adalah symbol bagi kejayaan dinasti Jokowi di Sumatera Utara.
Berkat sukses menjalankan misi dinasti politik Jokowi, sehingga Jokowi pun merekomendasikan kepada Prabowo untuk tetap mempertahankan Tito Karnavian sebagai Mendagri. Sementara untuk masa jabatan Listyo Sigit sebagai Kapolri terus diperpanjang.
Listyo pun tercatat sebagai Kapolri dengan masa jabatan terlama pasca era reformasi. Biasanya jabatan Kapolri paling lama hanya dua atau tiga tahun, tapi Listyo Sigit bisa menjabat sampai 5 tahun, 8 bulan, 4 hari.
Adapun Agus Andrianto mendapat jabatan sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Tidak bisa dibantah, kenaikan karir Agus juga berkat jasanya yang telah mengabdi sebagai pendukung politik Jokowi.
Berkat dukungan Bobby pula, sehingga Agus Andrianto bisa menduduki Jabatan Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Sumatera Utara.
Kekuatan Bobby setelah Kapolri Berganti
Pekan ini Presiden Prabowo sudah memastikan untuk mengganti Listyo Sigit dari jabatan Kapolri. Dengan pergantian ini, bisa dipastikan salah satu pilar kekuatan politik Jokowi akan berakhir. Meski bukan berakhir secara keseluruhan, namun setidaknya pilar yang mempengaruhi akar rumput telah dipangkas.
Pengaruh dinasti Jokowi memang masih ada, terutama di Kementerian Dalam Negeri, kejaksaan Agung dan juga KPK. Kalau semua itu berganti, bisa-bisa kasus hukum Jokowi dan keluarganya bakal ditindaklanjuti, termasuk kabar soal grativikasi triliunan rupiah yang mengalir ke Kaesang Pangerap, putra bungsu Jokowi.
Begitu juga kasus penyelundupan nikel dari Maluku Utara ke China yang melibatkan Bobby Nasution. Jangan heran, sebab Bobby dan istrinya Kahiyang Ayu punya konsesi lahan tambang di Maluku Utara yang dikenal dengan sebutan Blok Medan.
Kasus-kasus itu sebenarnya sudah lama mengendap di KPK, tapi tidak dilanjutkan karena pengaruh Jokowi di lembaga hukum masih sangat kuat.
Dengan bergantinya Kapolri, bisa dikatakan kekuatan politik dinasti Jokowi mulai ditebas secara perlahan. Situasi ini tentu saja berpotensi mengubah peta politik, termasuk kekuatan politik Bobby Nasution di Sumut menjelang Pilkada 2029.
Untuk diketahui, Bobby saat ini hanya tercatat sebagai kader biasa Gerindra. Ia bukan pengurus elit di partai itu. Nasibnya di partai itu sangat bergantung kepada belas kasihan Prabowo. Tanpa belas kasihan Prabowo, Bobby pasti dengan mudahnya terlempar dari partai itu.
Pada Pilkada 2029, belum ada kepastian bahwa Gerindra akan mendukung Bobby Nasution. Kalau hubungan Prabowo dan Jokowi tidak lagi harmonis, maka nasib Bobby di Gerindra juga dipastikan terancam.
Besar kemungkinan ia akan pindah ke PSI, partai yang saat ini dikendalikan keluarga mertuanya. Kalaupun ada partai lain yang mendukungnya kemungkinan besar adalah Golkar mengingat adanya unsur balas jasa Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia kepada Jokowi.
Semua orang tahu, kesuksesan Bahlil menggusur Airlangga Hartarto dari jabatan Ketua umum Golkar adalah bagian dari scenario yang dibangun Jokowi. Makanya sampai sekarang Bahlil tidak bisa melupakan jasa Jokowi dalam membangun karir politiknya. Balas jasa itu kemungkinan akan dituangkan dalam bentuk dukungan kepada Bobby.
Tak heran jika orang-orang Golkar yang selama ini dekat dengan Bobby tetap dimasukkan dalam kepengurusan Golkar Sumut 2026-2031. Termasuk Paman Bobby Nasution, Doli Sinomba Siregar yang mendapat jabatan sebagai Wakil Ketua. Padahal Doli Sinomba bukalah pendukung ketua Golkar Sumut terpilih, Andra Amin Harahap.
Doli sejak awal bahkan terang-terangan mengaku sebagai pendukung Hendri Yanto Sitorus, calon ketua Golkar Sumut yang gagal.
Meski berseberangan dengan ketua terpilih, Doli Sinomba Siregar tetap masuk dalam kepengurusan Golkar di bawah kendali Andar Amin. Tentu saja semua itu atas permintaan Bobby Nasution. Keberadaan Doli setidaknya menjadi kekuatan bagi misi politik Bobby di Golkar.
Kemungkinan besar PSI dan Golkar adalah penopang laju Bobby pada Pilkada 2029 mendatang karena menantu Jokowi ini masih sangat berambisi menjabat sebagai gubernur. Namun tentu saja akar politik Bobby itu tidak lagi sekuat sebelumnya, karena belum tentu ia mendapatkan dukungan dari partai Coklat.
Sehebat apapun dukungan partai untuk Bobby, tanpa peran Partai Coklat, ia tidak akan berdaya. Sesungguhnya Partai Coklat inilah yang selama ini menjadi pendulang utama kekuatan suara bagi Jokowi. Partai Coklat tidak hanya bekerja di wilayah perkotaan, tapi bergerak hingga desa-desa pedalaman.
Dengan perubahan politik ini, Pilkada Sumut 2029 akan semakin seru. Apalagi Musa Rajekshah alias Ijeck bersiap-siap akan maju. Ijeck dikabarkan akan berpindah partai politik dari Golkar menjelang Pilkada nanti. Mencuat kabar kalau Partai Nasdem akan menjadi pelabuhannya guna maju di Pilkada Gubernur 2029. ***

