![]() |
| Syahganda Nainggolan, Kepala Badan Komunikasi Istana |
Presiden Prabowo Subianto baru saja melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menggantikan Muhammad Qodari. Pelantikan dilakukan di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Jumat (2/10).
Syahganda Nainggolan dikenal sebagai sosok yang banyak bergelut di dunia aktivisme. Perjalanannya cukup Panjang dalam dunia demonstrasi, sejak masih mahasiswa ITB hingga sekarang. Saat aktif sebagai bagian Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Syahganda bahkan pernah teringkus polisi pada tahun 2020.
Saat itu, aktivis KAMI ini ditangkap karena cuitan dan protes kerasnya atas pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja (UU Ciptaker). Sempat Dijatuhkan hukuman penjara 10 bulan, ia kemudian bebas dari rumah tahanan Bareskrim Polri pada Agustus 2021. Syahganda ditangkap bersama dengan Jumhur Hidayat yang belum lama ini juga dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup.
Penangkapan itu bukanlah awal torehannya di dunia aktivisme. Menurut beberapa sumber, ia sudah kerap berurusan dengan aparat keamanan saat mengenyam pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1980an. Semasa kuliah, Syahganda ikut turun sebagai demonstran yang menentang pemerintahan Orde Baru.
Akibat kecanduan melakukan aksi, Syahganda dikeluarkan dari kampus, Syahganda kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
Beralih ke politik, Syahganda diketahui ikut serta dalam pembentukan organisasi kemasyarakatan (ormas) Daulat Rakyat. Pasca Reformasi 1998, ormas ini berubah jadi partai politik. Ia lalu mencoba peruntungannya di DPR dengan mencalonkan diri sebagai calon legislatif dapil Tangerang sebagai bagian dari Partai Merdeka. Partai ini ia bentuk bersama Adi Sasono dan menjadi peserta Pemilu 2004. Perjalanannya menuju parlemen gagal.
Selanjutnya bersama Golkar, Syahganda kembali mencoba masuk DPR pada 2009 di dapil Bogor. Namun, percobaan ini juga gagal. Pada 2010, ia dan rekannya mendirikan Sabang Merauke Circle, sebuah lembaga kajian publik.
Di era kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, ia banyak bersuara soal berbagai isu. Misalnya, mengkritik cara Jokowi menangani pandemi COVID-19 hingga pengesahan Omnibus Law. Syahganda dikenal salah satu aktivis yang sangat kritis dengan kebijakan Jokowi.
Pada 25 Januari 2025, ia mendirikan GREAT Institute. Dalam laman resminya, lembaga riset ini menulis pandangannya terkait pemerintahan Prabowo. Lembaga ini sebut Prabowo memiliki visi kerakyatan yang sejalan dengan perjuangan lembaganya. Visi ini adalah terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan merata.
"GREAT Insititute menilai bahwa ideologi Presiden Prabowo yang tercermin dari program kerja dan pernyataan-pernyataannya yang jauh berbeda dari rezim pemerintahan sebelumnya yang sangat neoliberal," tulis GREAT Institute, dikutip pada Jumat (2/10).
Dalam menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan Pemerintah, Syahganda Nainggolan kerapo sejalan dengan dua sahabatnya, Jumhur Hidayat dan Rocky Gerung.
Tak mengejutkan jika mereka bertiga kini dirangkul Presiden Prabowo untuk masuk ke dalam lingkaran istana. Jumhur sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden dan Syahganda kepala Badan Komunikasi Istana.
Syahganda lahir di Medan pada 27 November 1965. Ia menyelesaikan pendidikan hingga SMA di kota ini sebelum merantau ke Bandung melanjutkan pendidikan di ITB pada 1984. Sejak itu ia lebih banyak menjalani kiprah politik di tingkat nasional hingga akhirnya dirangkul masuk dalam lingkungan cabinet.
Syahganda Nainggolan merupakan keponakan dari almarhum Syahrun Isa, pendiri beladiri Tangan Kosong (Tako) di Sumut yang lebih dikenal dengan panggilan Suhu. Suhu Syahrun Isa merupakan adik kandung dari Ibunda dari Syahganda Nainggolan. **
