![]() |
| Presiden Prabowo Subianto bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo |
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengatakan pimpinan DPR menerima Surpres bernomor R57/Surpres/09/2026 tertanggal 30 September 2026 pada Kamis 1 Oktober.
"Pagi ini pimpinan DPR mendapat Surpres kepada Ketua DPR Nomor R57/Surpres/09/2026 tertanggal 30 September 2026 perihal usulan pemberhentian dari jabatan Kapolri dan pengangkatan dalam jabatan Kapolri," ujar Habiburokhman dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis 1 Oktober.
Surpres tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR. Dalam rapat tersebut, Bamus menugaskan Komisi III DPR untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap Suyudi sebagai calon Kapolri.
"Maka sesuai dengan barusan digelar Badan Musyawarah DPR, hari ini 1 Oktober pagi, menugaskan Komisi III DPR melaksanakan uji kelayakan terhadap Komjen Suyudi, calon Kapolri," kata Habiburokhman.
Penugasan tersebut disepakati dalam rapat Bamus DPR. "Apakah disepakati? Setuju," imbuhnya.
Suyudi saat ini menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia menjadi calon tunggal yang diajukan Prabowo untuk menggantikan Listyo Sigit.
Komisi III kemudian menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Suyudi pada Kamis 1 Oktober. Dalam proses tersebut, Suyudi diminta menyampaikan visi, misi, serta pokok-pokok program yang akan dijalankan apabila mendapat persetujuan DPR.
Usulan pemberhentian Listyo Sigit dan pengangkatan Kapolri baru tersebut selanjutnya diproses melalui mekanisme yang melibatkan Presiden dan DPR sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan masuknya Surpres tersebut, proses pergantian pucuk pimpinan Polri resmi memasuki tahapan pembahasan di DPR melalui uji kelayakan terhadap calon yang diajukan Presiden.
Pilar Kekuatan Politik Jokowi
Dengan bergantinya Kapolri dari Listyo Sigit ke Suyudi, maka secara perlahan pilar kekuatan politik keluarga Joko Widodo mulai dikikis habis.
Selama ini Listyo Sigit adalah Kapolri yang paling mempengaruhi kekuatan politik keluarga Jokowi. Bersama Agus Andrianto ( sekarang Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan) keduanya merupakan motor penggerak terbentuknya ‘Partai Coklat’.
Partai Coklat adalah istilah bagi keterlibatan polisi dalam politik sehingga kelompok ini sangat berperan mendukung kemenangan keluarga Jokowi dalam setiap Pilkada. Partai Coklat ini yang turut bermain mendukung kemenangan Gibran Rakabuming Raka pada Pilkada Walikota Solo 2020 dan kemenangan Bobby Nasution pada Pilkada Medan 2020.
Pengaruh Partai Coklat kemudian berlanjut pada Pilkada Gubernur Sumut 2024 di mana Bobby mendapat dukungan dari polisi untuk meraih suara di arus bawah. Partai Coklat pula yang berperan mendukung kemenangan setiap pejabat yang didukung Jokowi.
Tanpa peran Partai Coklat, tidak akan mudah bagi Bobby Nasution untuk menang pada Pilkada di Sumut karena sama sekali tidak punya akar yang kuat di daerah ini. Sebelum ikut terlibat dalam Pilkada, Bobby sama sekali tidak dikenal publik di Sumut.
Bisa dipahami sebab ia lebih lama tinggal di jawa ketimbang di Sumut. Namun Bobby cukup cerdas memanfaatkan statusnya sebagai menantu presiden sehingga ia bisa memanfaatkan dukungan presiden untuk mendongkrak karir politiknya.
Bahkan kalau mau jujur, Partai Coklat pula yang turut berperan memenangkan pasangan Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024 lalu.
Listyo Sigit begitu tunduk kepada Jokowi karena karirnya sebagai polisi banyak dibantu oleh presiden Indonesia ke-7 itu.
Kabarnya Jokowi yang merekomendasikan kepada Prabowo agar Listyo Sigit terus dipertahankan sebagai Kapolri. Jokowi pula yang merekomendasikan agar Agus Andrianto ( yang sebelumnya Wakapolri) diangkat sebagai menteri.
Dengan bergantinya Kapolri, maka dua kekuatan utama keluarga Jokowi dalam politik, yakni Listyo Sigit dan Agus Andrianto kini tidak lagi bisa mengendalikan institusi Polri. Perubahan ini diharapkan bisa mengubah prilaku anggota Polri yang selama ini dipaksa turut bermain dalam politik praktis.
Lembaga Polri diharapkan kembali ke jati dirinya sebagai instituasi negara yang bebas dari intervensi politik. Dengan demikian tidak ada lagi Pilkada yang kotor, Pilkada yang selaku diwarnai tekanan dan ancaman dari polisi.
Namun pergantian Listyo Sigit ini bukan berarti telah menghabisi semua kekuatan politik keluarga Jokowi dalam pemerintahan. Masih ada sejumlah menteri lain yang merupakan tangan kanan Jokowi. Salah satunya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Tito adalah menteri yang terang-terangan terlibat kerja sama dengan Partai Coklat bentukan Listyo dalam mendukung permainan politik keluarga Jokowi di setiap Pilkada. Kemenangan Bobby Nasution pada Pilkada Medan 2020 dan Pilkada Sumut 2024 adalah permainan dari dua elit ini. ***
