![]() |
| Ferry Irwandi turun langsung membantu korban banjir di Sumatra |
Sosok politisi busuk itu adalah Endipat Wijaya, anggota komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra.
Entah mengapa, ia begitu iri dengan kinerja seorang relawan, yakni Ferry Irwandi yang berhasil mengumpulkan donasi hingga lebih dari Rp10 miliar untuk disumbangkan kepada korban bencana di Sumatera. Di mata, Endipat Wijaya, Ferry Irwandi hanya mencari panggung.
Karuan, berbagai caci maki langsung diarahkan kepada politisi asal Kepulauan Riau itu. Sejumlah anggota DPR lainnya juga mengecam sikap Endipat tersebut. Tidak semestinya kerja relawan mendapat cercaan. Semestinya mereka justru mendapat apresiasi.
Anggota DPR dari Fraksi PKB, Abdullah meminta semua pihak untuk menghentikan perdebatan mengenai perilaku Endipat itu. Hal itu disampaikan Abdullah menanggapi banyaknya cacian yang diarahkan kepada rekannya sesama politisi DPR tersebut. Abdullah memaklumi jika pernyataan Endipat itu cukup kontroversial.
Sebaliknya, menurut Abdullah, langkah Ferry dan para relawan lainnya mengumpulkan dana miliaran rupiah dari para donator adalah merupakan bentuk empati yang layak diapresiasi. Apalagi, mereka juga turut serta turun langsung ke titik-titik bencana.
"Saya memberikan apresiasi kepada Bung Ferry dan para relawan yang telah berjuang membantu korban bencana di pulau Sumatera dengan pengumpulan dana dan turun langsung ke lokasi bencana," ujar Abdullah kepada wartawan, Rabu, 10 Desember.
"Saya sepakat dengan pernyataan Bung Ferry, kolaborasi adalah kunci dari penanganan bencana ini," sambungnya.
Sebelumnya, langkah relawan seperti Ferry Irwandi disorot karena lebih viral daripada bantuan pemerintah. Ferry pun tak luput dari kritik terkait pernyataannya yang dianggap menyudutkan pemerintah, termasuk tudingan bahwa ia menyebut negara tutup mata, serta adanya rekaman suara soal dugaan pelecehan seksual di lokasi bencana.
Namun Ferry membantah seluruh tudingan tersebut. Ia menegaskan, tidak pernah sekalipun menyatakan negara abai. Ia hanya menjelaskan tentang kondisi mencekam di Lokasi bencana yang ia masuki. Penjelasan Ferry ini sudah cukup menjawab polemik. Hanya orang iri saja yang mengarang-ngarang seakan Ferry mencari panggung. Padahal Ferry hanyalah seorang aktivitis biasa, bukan politisi.
Abdullah menegaskan, fokus utama relawan dan semua pihak adalah kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah serta berbagai organisasi sipil. Selain itu, Abdullah juga mengapresiasi seruan Ferry untuk memprioritaskan pelayanan bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak, terutama di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.
"Jadi menurut saya, kita sudahi perdebatan yang menyudutkan ini. Fokus kita untuk menangani bencana, dan ini berangkat dari solidaritas nasional," katanya.
Anggota Komisi III DPR itu juga menekankan solidaritas nasional telah terlihat melalui kerja sama antara relawan dengan TNI-Polri. Ia mencontohkan bagaimana Polairud Mabes Polri membantu mengangkut 2,6 ton bantuan menggunakan pesawat Fokker 27, sementara TNI mendukung akses ke daerah terisolasi dengan helikopter dan pesawat Hercules. Ditambah lagi dengan kerja relawan di lapangan, tentunya akan mempercepat proses recovery para korban di lokasi bencana.
![]() |
| Anggota Komisi I DPR RI Endipat Wijaya dari Fraksi Gerindra yang begitu iri terhadap kerja para relawan |
Ada pula sosok Rachel Vennya juga berhasil melampaui target donasi yang dicanangkannya. Dengan target awal Rp1,2 miliar, donasi yang terkumpul melalui platformnya kini sudah melampaui angka Rp1,3 miliar. Begitu juga inisiatif unik yang datang dari musisi Reza Arap. Ia melakukan penggalangan dana melalui siaran langsung di media social di mana Reza berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp60 juta dari penontonnya.
Kerja para relawan itu tentu saja harus diapresiasi, bukan malah dicaci. Yang layak dicaci dan dimaki adalah politisi yang tidak tahu diri dan punya sifat iri dengki. Endipat Wijaya adalah salah satunya. Prilaku politisi Gerindra ini memang sangat layak untuk dikutuk..!

