-->

Data Kemendagri: Sebanyak 8 Desa di Sumut Hilang Disapu Banjir, Terbanyak di Aceh

Sebarkan:

 

Wajah Desa Garoga, di Batangtoru, Tapanuli Selatan, salah satu desa yang hilang akibat disapu bencana banjir November lalu. Desa itu kini tenggelam di bawah lumpur dan reruntuhan kayu.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan total sebanyak 29 desa atau kampung di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat dinyatakan hilang akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada penghujung November lalu. Dari jumlah tersebut, desa hilang paling banyak berada di Provinsi Aceh.

"Desa yang hilang karena longsor atau karena banjir terbawa arus, Aceh memang yang terbanyak, 21 desa atau kampung yang hilang," kata Tito dalam rapat pemerintah update penanganan pascabencana Sumatera, dikutip dari YouTube, Kamis (15/1/2026).

Sementara itu, delapan desa lainnya hilang di Provinsi Sumatera Utara. Adapun di Provinsi Sumatera Barat, tidak terdapat desa yang hilang setelah dilakukan verifikasi ulang terhadap data awal.

 “Sumbar yang semula satu desa tapi sudah dikoreksi, bahwa tidak ada desa yang hilang, yang ada pernah terisolasi, jadi total jumlah desa yang hilang adalah 29, 21 di Aceh, 8 di Sumut," terang eks Kapolri itu.

Selain desa yang hilang, Mendagri juga memaparkan dampak bencana terhadap infrastruktur pemerintahan desa. Berdasarkan rekapitulasi terakhir, tercatat sebanyak 1.681 kantor desa terdampak bencana di tiga provinsi.

Jumlah tersebut belum termasuk kerusakan pada balai desa, pasar desa, badan usaha milik desa (BUMDes), maupun fasilitas komunitas desa lainnya.

Aceh menjadi wilayah dengan dampak terberat, dengan 1.495 kantor desa terdampak. Sementara itu, di Sumatera Utara tercatat 64 kantor desa terdampak, dan di Sumatera Barat sebanyak 45 kantor desa terdampak.

Tito menambahkan, pemerintah pusat telah melakukan penanganan secara maksimal sejak masa tanggap darurat.  Penanganan bencana di Sumatera diperlakukan sebagai bencana berskala nasional melalui mobilisasi sumber daya lintas kementerian dan lembaga.

“Bahwa di masa tanggap darurat, pemerintah pusat sudah bekerja dengan sangat maksimal melakukan mobilisasi nasional. Jadi diperlakukan dengan menghadapi bencana nasional, mulai Selasa 25 November pengerahan terjadi, bukan hanya organik dari tiga provinsi tapi juga ribuan pasukan TNI Polri BKO termasuk sembako, peralatan, helikopter, kapal karet untuk kepentingan evakuasi," pungkasnya.

Sampai hari Jumat 15 januari 2026, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, korban tewas akibat bencana Sumatera mencapai 1.190 orang. Sampai saat ini masih terdapat sekitar 130 orang yang mengungsi. Para pengungsi ini tidak mungkin kembali ke rumah mereka  karena sudah hancur disapu bencana banjir bercampur lumpur, batu dan gelondongan kayu.

Pemerintah masih membangun sejumlah hunian sementara untuk para pengungsi itu, sebelum nantinya akan menempatkan mereka di rumah bantuan tepat. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini