![]() |
| Pembangunan rumah hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana di Sumut |
Pembangunan huntara tersebut merupakan bagian dari penanganan darurat pascabanjir bandang untuk memastikan masyarakat terdampak dapat segera menempati hunian layak, aman dan memenuhi kebutuhan dasar.
Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan, pentingnya percepatan pemenuhan kebutuhan dasar agar hunian benar-benar siap dihuni oleh masyarakat.
"Hunian harus siap secara menyeluruh. Air bersih tidak boleh menjadi persoalan ketika masyarakat mulai menempati. Sanitasi, termasuk listrik, harus dipastikan berfungsi sebelum hunian dihuni," ujar Dody dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, 7 Februari.
Di lokasi tersebut, Kementerian PU membangun sebanyak 252 unit hunian terdiri dari 21 blok modular, dengan setiap blok berisi 12 unit hunian.
Hunian itu diperuntukkan bagi sekitar 245 kepala keluarga terdampak atau kurang lebih 1.800 jiwa, dengan pengaturan calon penghuni sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Pembangunan huntara tersebut dilaksanakan di atas lahan seluas sekitar 2,6 ha dari total lahan tersedia kurang lebih 16,8 ha.
Sementara itu, sisa lahan akan dikembangkan lebih lanjut untuk pembangunan hunian tetap (huntap) yang rencananya dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Secara teknis, hunian dibangun menggunakan sistem konstruksi modular untuk mempercepat waktu pengerjaan.
Struktur bangunan menggunakan rangka baja ringan dan baja CNP, dengan dinding sandwich panel, penutup atap metal serta lantai GRC dengan finishing vinyl.
Setiap unit dirancang memiliki ventilasi dan pencahayaan memadai guna mendukung kenyamanan penghuni selama masa tinggal sementara. Setiap blok modular dilengkapi dengan fasilitas sanitasi komunal berupa enam unit toilet dan enam unit shower, terdiri atas tiga toilet dan shower perempuan serta tiga toilet dan shower laki-laki.
Secara keseluruhan, kawasan tersebut memiliki 126 unit toilet dan 126 unit shower. Selain itu, setiap blok juga dilengkapi dapur bersama untuk mendukung aktivitas harian penghuni.
Kawasan rumah hunian itu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, antara lain masjid, gedung serbaguna, dapur umum, area cuci, ruang komunal, pos jaga, tempat penampungan sementara (TPS). Kemudian, ada area hijau, taman bermain anak, lapangan olahraga serta area parkir, guna menunjang kebutuhan sosial dan aktivitas warga.
Pembangunan rumah hunian Tapanuli Selatan itu ditargetkan selesai sebelum bulan Ramadan.
Dengan demikian, masyarakat terdampak dapat segera menempati huntara tersebut sambil menunggu penyelesaian pembangunan huntap.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU berkolaborasi dengan pemerintah daerah, BUMN Karya serta didukung oleh PLN sebagai penyedia listrik dan unit-unit teknis lainnya di Kementerian PU untuk penyediaan air bersih dan infrastruktur pendukung.
"Kami berkomitmen memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan tepat waktu dan sesuai standar, sehingga rumah hunian ini dapat memberikan rasa aman dan layak bagi masyarakat terdampak bencana di Tapanuli Selatan," imbuh Dody.
Sementara itu Gubernur Bobby berjanji, semua huntara bagi korban bencana di Sumut akan selesai sebelum Ramadan sehingga saat bulan puasa tiba, tidak ada lagi korban bencana di Sumut yang tinggal di tenda-tenda darurat. Bahkan Bobby berjanji akan menyewakan hotel bagi para korban bencana manakala ia tidak bisa membuktikan janji itu. ***
