-->

Trump Paksa RI Impor BBM Rp118 T, Minyak Rp76 T, dan LPG Rp59 T dari AS, Prabowo Tak Berdaya

Sebarkan:
Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Prabowo usai penandatanganan kesepakatan dagang 

Terkesan kalau Presiden Amerika Donald Trump memuji-muji Presiden Prabowo Subianto usai keduanya menandatangani kesepakatan dagang pada 19 Februari lalu di Washington. “Dia (Prabowo) pemimpin yang hebat, saya tidak mau berkelahi dengannya,” ujar Trump usai seremoni itu.  

Namun harus dipahami, ucapan Trump itu hanyalah candaan. Bisa jadi ia sekedar menghibur Presiden Prabowo setelah berhasil menekan Indonesia dalam perjanjian dagang itu. Betapa tidak, dalam perjanjian itu, Trump berhasil memaksa Indonesia mengimpor sejumlah produk Amerika. Sifatnya wajib!

Adapun konsekuensinya adalah, Amerika hanya  menurunkan tarif impor terhadap sejumlah produk Indonesia yang masuk ke negara itu. Ada yang nol persen, ada pula yang mencapai 19 persen. Tarif itu menurun dari 32 persen sebagaimana yang ditetapkan Trump sebelumnya.

Pada April lalu Trump memang melakukan gebrakan dengan menaikkan pajak impor terhadap sejumlah produk asing yang masuk ke negara mereka. Indonesia termasuk yang menjadi sasarannya.

Usai menaikkan tarif Impor itu, Trump menegaskan, “Lihat saja, akan banyak pemimpin negara yang mencium pantat saya untuk memelas meminta tarif impor diturunkan,” ujarnya.

Dan benar saja. Tidak lama setelah itu, banyak pemimpin negara yang berlomba-lomba mendekati Trump untuk merayunya agar menurunkan tarif impor itu. 

Dari semua negara yang terkena tarif, hanya China yang paling gagah melawan. Negara tirai bambu itu malah membalas Trump dengan menaikkan tarif sejumlah produk Amerika yang masuk ke China. Belakangan Trump yang tidak sanggup melawan China. Berkali-kali Trump mengajak China agar mau berkompromi membahas tarif tersebut.

Tapi bagi negara lain, ulah Trump itu membuat mereka menggigil ketakutan. Tak terkecuali Indonesia. 

Prabowo termasuk paling terdepan ‘mencium pantat’ Trump hingga akhirnya kedua negara menandatangani kesepakatan dagang untuk penurunan tarif.

Dalam kesepakatan itu, Indonesia benar-benar tak berdaya ditekan Trump. Bayangkan saja, Trump berhasil memaksa Indonesia tunduk kepada apa maunya. Salah satu poin kesepakatan itu adalah mewajibkan Indonesia membeli komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).

Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun. 

Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.

Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.

“Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi perjanjian komersial untuk mengimpor komoditas energi AS senilai US$15 miliar,” sebagaimana tertulis dalam dokumen yang dirilis White House, Jumat (20/2/2026).

Dalam poin lainnya, Indonesia juga diharuskan mendukung serta memfasilitasi pihak badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta untuk meningkatkan pembelian produk energi AS. Dalam hal ini, komoditas energi tersebut termasuk dalam pembelian minyak mentah, LPG, maupun produk minyak olahan lainnya seperti bensin.

“Indonesia akan memfasilitasi, dengan memberikan semua persetujuan pemerintah, keputusan, dan izin yang diperlukan kepada entitas milik negara dan sektor swasta, peningkatan pembelian energi AS,” tulis Gedung Putih.

“Pengembangan pendekatan pembelian untuk minyak mentah AS; dan pembelian lebih banyak produk minyak olahan AS dan LPG, termasuk melalui kontrak jangka panjang,” lanjutnya.

Kesepakatan impor komoditas migas tersebut merupakan salah satu bagian penting dalam kesepakatan tarif resiprokal RI-AS.

Poin besar kesepakatan tersebut mengungkapkan Indonesia menerima penurunan tarif impor Amerika Serikat sebesar 19% kepada produk-produk asal Indonesia. Terdapat tarif 0% untuk komoditas tertentu seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao.

Di sisi lain, Indonesia juga wajib menghapuskan hambatan tarif secara preferensial pada lebih dari 99% produk AS yang masuk ke Tanah Air.

Sekadar catatan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan impor migas bagian dari perundingan tarif dengan Amerika Serikat bisa diesekusi tahun ini.

Kendati demikian, Bahlil mengatakan, kepastian impor itu bakal mengikuti kesepakatan tarif resiprokal dengan pemerintah AS awal tahun ini.

“Kalau sudah deal, tahun ini juga segera impor migas AS,” kata Bahlil kepada awak media di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Terpisah, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menilai positif kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan rencana penugasan PT Pertamina (Persero) untuk impor migas dari AS. Ia mengatakan Kementerian ESDM bakal menindaklanjuti temuan potensi risiko dan kolusi dari rencana penugasan impor migas tersebut.

“Kalau dari Kementerian ESDM diminta untuk bagaimana menetapkan standar untuk produk dari impor,” kata Yuliot kepada awak media di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Yuliot berharap kajian lembaga antirasuah itu dapat mengantisipasi risiko kebocoran anggaran negara dan kolusi dari rencana impor migas AS tersebut.

Penugasan kepada Pertamina itu berkaitan dengan bagian perundingan tarif resiprokal dengan Washington.

Sebelumnya, pemerintah berencana mengatur impor migas Pertamina dari AS itu tanpa melewati proses lelang atau bidding. Skema tanpa lelang itu bakal menyasar pada transaksi antara Pertamina dengan perusahaan AS.

Adapun, Pertamina telah meneken tiga nota kesepahaman business to business (B2B) di bidang pengadaan feedstock minyak dan kilang melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), masing-masing dengan ExxonMobil Corp., KDT Global Resource LLC., serta Chevron Corp.

Selain itu, impor migas dari AS juga akan dilakukan oleh perusahaan swasta untuk mengimbangi surplus neraca dagang saat ini. Belakangan, nama PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) ikut mencuat ihwal pembelian LPG dari AS nantinya. ***Bloomberg/reuters

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini