Dengan demikian Israel berhasil menghentikan seluruh kapal yang ikut serta dalam misi kemanusiaan untuk mematahkan pengepungan Israel di Jalur Gaza.
“Semua kapal telah dicegat,” tulis Global Sumud Flotilla dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (20/5/2026). “Kami sedang menunggu informasi lebih lanjut tentang penculikan ilegal mereka,” sambungnya.
Menurutnya, militer Israel mengirimkan armada angkatan laut yang lengkap untuk mencegat konvoi yang terdiri dari lebih dari rombongan 50 kapal. Semua kapal Global Sumud, beserta 430 aktivis yang bergabung di dalamnnya sudah ditahan. Kesemua tahanan itu kini sedang dalam perjalanan ke Israel.
"Konvoi aktivis PR lainnya telah berakhir," kata seorang juru bicara dari Kementerian Luar Negeri Israel, dikutip dari AFP, Rabu. "Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka," lanjutnya.
Diketahui, Israel bersikap tegas menolak rombongan kapal tersebut. Melalui media sosial X pada Senin (18/5/2026), Kemenlu Israel menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade laut di Gaza.
Tak hanya itu, Israel juga melayangkan peringatan keras dan melabeli misi tersebut sebagai sebuah aksi provokasi. Dengan tuduhan itu, mereka menghentikan konvoi dan menangkap semua orang yangada di dalam kapal.
Di antara ratusan orang yang ditahan oleh pihak Israel, ada 9 warga negara Indonesia, termasuk jurnalis media Republika.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras tindakan tersebut dan menuntut pembebasan segera bagi seluruh awak serta kapal yang ditahan di sekitar perairan Siprus. Tapi, seperti biasa, Indonesia hanya bisa mengecam, tidak kuasa untuk melawan. Kecaman pun hanya disampaikan ke media.
"Kami mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan," jelas Juru Bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang.
Media Republika mengonfirmasi keberadaan dua jurnalis mereka dalam misi tersebut, dan menyatakan bahwa intersepsi ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Dalam rombongan, terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami,” kata Andi dalam unggahan Instagram Republika.
Ia juga mengecam tindakan militer Israel yang melakukan intersepsi terhadap kapal bantuan kemanusiaan tersebut.
“Kami
mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer zionis Israel
terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan
internasional. Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional,
prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa
bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza,” ujarnya. 
Relawan Indonesia yang bergabung dalam Global Sumud Flotilla kini masih ditahan Israel
Indonesia minta bantuan Asing
Seperti yang diduga, Pemerintah Indonesia yang tidak berdaya melawan Israel terpaksa harus meminta bantuan negara lain untuk membebaskan para tawanan.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Yordania dan Turki untuk membantu membebaskan WNI yang ditawan. Langkah itu ditempuh karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel.
“Kita sudah melakukan komunikasi dengan teman-teman dari Kementerian Luar Negeri di Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi rekan-rekan kita yang diintercept dan ditahan oleh Israel,” kata Sugiono di Gedung DPR, Rabu (20/5).
Menurut Sugiono, informasi yang diterima pemerintah masih terbatas. Komunikasi dengan para WNI yang ditahan belum dapat dilakukan secara leluasa.
Sugiono
sendiri terkenal sebagai Menlu yang lamban bekerja. Ia tidak secakap
Menlu-Menlu Indonesia sebelumnya. Saat ini Kemenlu hanya bisa menunggu dan
menunggu. ***
