![]() |
|
Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Sumut Ahmad Yamin menyampaikan, penunjukan Sumut sebagai tuan rumah IMT-GT 2026. |
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) begitu bangga karena bakal menjadi tuan rumah rangkaian pertemuan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) pada September 2026. Ini bukan pertama kalinya Sumut sebagai tuan rumah pertemuan tiga negara itu. Pada 2011 dan 2012 Sumut juga pernah jadi tuan rumah untuk kegiatan serupa.
Selain Sumut, Aceh juga pernah didapuk sebagai ruan rumah pada 2014. Semua pertemuan itu menghasilkan gagasan yang sama, sama-sama tidak pernah berjalan. Hanya teori, tanpa hasil.
Pada 2009, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pernah mengusulkan agar IMT GT ini sebaiknya dibubarkan saja. Alasannya, memang tidak ada hasil nyata yang bisa dibangun dari kerjasama tiga negara ini. Hanya sekedar pertemuan dan pertemuan.
Setiap pertemuan pasti ada pengeluaran dana yang cukup besar. Ada jamuan makan malam, ada resepsi dan sebagainya. Namun tak ada satupun kerjasama yang bisa dihasilkan dari program itu. Makanya Irwandi pernah mengusulkan agar IMT GT dibubarkan saja.
Pemerintah Indonesia juga tidak menunjukkan dukungan serius kepada kerjasama IMG GT ini. Tak heran jika dalam rapat koordinasi IMT-GT di JW Marriot, 5 hingga 7 Desember 2011, perwakilan Indonesia pernah mengancam mau keluar dari program kerjasama ini.
Alasannya, karena tidak adanya perhatian pemerintah akan joint business council (JBC) dari kerjasama ini, sehingga JBC bekerja sendiri.
“Kita bukan hanya tidak diperhatikan, tetapi tidak dianggap, dan ini yang membuat kita bertekad untuk keluar,” ujar Chairman HRD JBC IMT-GT pada waktu itu, Viator Butar-butar. Kalau tanpa perhatian seperti itu, IMT GT sama sekali tidak ada gunanya. Hanya organisasi hura-hura saja, menghabiskan uang dari pertemuan ke pertemuan. Tanpa ada hasil.
Seperti diketahui, kerjasama antara tiga negara yang bergabung dalam IMT GT bertujuan untuk membangun dunia usaha yang relevan dalam pembangunan tiap negara, seperti tourism, ekspor impor dan lainnya. Untuk Indonesia, IMT-GT ini menjadikan Sumut dan Aceh sebagai target pengembangan.
Namun kerjasama itu hanya ada dalam teori. Pada kenyataanya, IMT GT tidak banyak berperan membangun sektor itu.
“Pemerintah juga tidak tanggap dengan ide IMT GT ini, semua ide hanya dibahas dalam forum pertemuan. Tidak ada realisasi yang nyata. Kalau begini terus, kapan kita akan maju?” tambah Viator.
Makanya sempat kemudian mencuat ide untuk membubarkan IMT GT.
Meski demikian, tetap saja organisasi ini berjalan. Pertemuan demi pertemua terus dilaksanakan. Indonesia paling kerap mendapat jatah sebagai tuan rumah, terutama Aceh dan Sumatera Utara. Hasilnya, banyak biaya yang terbuang, manfaat tidak jelas.
Pada September 2026 nanti, kembali Sumut diminta sebagai ruan rumah pertemuan IMT-GT ini. Pertemuan ini merupakan pertemuan tingkat menteri ke-32. Sudah pasti akan banyak pidato-pidato yang mencuat dalam pertemuan itu. Tapi soal realisasi, jangan banyak berharap.
Meski demikian, Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Sumut Ahmad Yamin tetap membela. Ia justru menilai bahwa IMT GT telah memberi manfaat banyak bagi Sumut.
Pada temu pers yang dilaksanakan di Dinas Komunikasi dan Informatika di Lobby Dekranasda Sumut, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu (17/6/2026), Ahmad Yamin mengarangp-ngarang peran yang telah dibangun IMT-GT di Sumut.
Ia menyebut IMT-GT selama ini telah memberikan dampak nyata terhadap pengembangan ekonomi regional. Beberapa di antaranya adalah pengembangan Kawasan Industri Sei Mangkei dan kawasan Kaldera Toba. Padahal semua itu tidak ada kaitan dengan IMT-GT. Toh, tanpa IMT-GT sekalipun, dua program itu tetap berjalan.
Makanya, pertemuan IMT GT September mendatang hanyalah pertemuan menghabiskan anggaran saja. Miliaran uang APBD akan terkuras untuk membayai pertemuan itu, sementara hasilnya hanya sebatas pencitraan belaka.
Di saat yang sama, PHK terus mengancam dunia kerja karena inflasi yang tinggi dan investasi yang terus menurun. Namun Pemerintah Daerah berupayha menutup mata dengan kenyataan ini. Ironisnya mereka tega menghamburkan uang untuk pertemuan tanpa manfaat yang jelas.
Mereka ingin menutupi kebusukan internal dengan pencitraan regional. Jangan heran kalau IMT GT hanya jadi arena buang-buang uang saja. ***
