![]() |
| Gubernur Bobby Nasution me ngaku siapkan ekstra fligth untuk jemput tim Pesparawi Sumut dari Papua. Ah, yang benar saja Bob |
Perilaku Gubernur Bobby Nasution tidak jauh berbeda dari mertuanya, Joko Widodo, sama-sama suka berbohong demi pencitraan. Yang terbaru, Bobby mengaku kalau ia telah meminta penerbangan tambahan Lion Air dari Manokwari, Papua, guna menjemput kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Sumut yang tertahan di kota itu.
Dengan gaya percaya dirinya, Bobby mengatakan kalau ekstra flight itu digagas oleh Pemprovsu.
Padahal faktanya, penerbangan tambahan yang digunakan tim Pesparawi Sumut sama sekali tidak ada. Penerbangan yang mereka gunakan adalah penerbangan regular, bukan ekstra flight sesuai pesanan Bobby.
Jelas sekali Bobby berbohong hanya demi untuk pencitraan. Bisa ditebak, pencitraan bohong itu sengaja dilakukan Bobby agar seolah-olah dia dianggap peduli dengan tim Pespawari Sumut yang ada di sana.
Sementara itu Pihak Lion Air mengaku kalau penerbangan tambangan atau ekstra flight hanya akan disiapkan kalau ada kondisi tertentu.
“Untuk penerbangan ekstra flight biasanya kami siapkan kalau penumpang lagi membludak. Tapi kalau hari biasa, tidak ada ekstra flight. Kami hanya mengoperasikan penerbangan regular. Lagi pula tidak mungkin kami siapkan ekstra flight hanya untuk menjemput beberapa orang saja sesuai pesanan Pemda. Biayanya sangat besar,” ujar seorang pejabat Lion Air di Medan.
Kalaupun penumpang membludak, kata sumber itu, Lion Air akan mengoperasikan sendiri ekstra flight itu tanpa bekerjasama dengan Pemerintah daerah.
“Jadi kalau dikatakan Pemerintah daerah meminta ekstra flight hanya untuk menjemput beberapa orang saja, jelas itu tidak mungkin. Biaya operasional untuk penerbangan sangat besar ” tambahnya.
Sumber itu menyebutkan, biaya operasional pesawat tambahan berkisar Rp100 juta per jam. Sementara penerbangan terdekat dari Manokwari ke bandara terbesar adalah ke Bandara Hasanuddin, Makassar yang membutuhkan waktu terbang 2,5 jam.
Artinya, untuk operasional sekali terbang bagi ekstra flight dibutuhkan anggaran sekitar Rp250 juta.
"Itu sekali jalan, kalau ekstra fligth kan harus bolak balik, jadi dua kali dari itu," ujarnya.
Masalahnya, apa benar Bobby rela menyiapkan anggaran tambahan sebesar Rp500 juta untuk menjemput kontingan Pesparawi Sumut dari Manokwari? Padahal di satu sisi, ia kerap mengatakan anggaran pembangunan Sumut sangat terbatas sehingga harus dilakukan penghematan.
Di sinilah kebohongan Bobby semakin terkuat.
Dari pengecekan yang dilakukan kajianberita.com di sejumlah kanal tiket pesawat terbang, penerbangan Lion Air dari Bandara Rendani, Manokwari, hanya ada empat penerbangan setiap hari. Itupun dengan tujuan berbeda. Ada yang ke Makassar, ke Sorong, ke Jayapura dan ke Jakarta.
Pada 1 Juli 2026 sama sekali tidak ada penerbangan tambahan sebagaimana yang disebut Bobby Nasution
Artinya, Bobby memang berbohong kalau Pemprovsu menyediakan ekstra flight untuk menjemput tim Pespewari Sumut dari Manokwari untuk kembali ke Medan. Penerbangan yang beroperasi tetap yang regular.
Cerita bohong Bobby itu mencuat saat ia menanggapi viralnya berita terkait nasib kontingen Pesparawi Sumut yang tertahan di Manokwari usai mengikuti kegitaan gereja di sana. Mereka terhambat kembali ke Medan karena penerbangan padat.
Maklum, ada ribuan peserta Pesparawi dari berbagai wilayah di Indonesia yang mengikuti lomba paduan suara gerejawi itu. Ketika acara selesai, semua rombongan pulang ke daerahnya masing-masing dalam waktu bersamaan. Penerbangan pun jadi penuh.
Tim Pesparawi Sumut terhambat karena kalah cepat membeli tiket. Panitia tidak berpikir cerdas untuk membeli tiket pesawat pulang lebih cepat. Sementara kontingen lain sudah membelinya terlebih dahulu, sehingga kesalahan ini sebenarnya lebih kepada kebodohan panitia Sumut.
Menanggapi situasi itu, Bobby dengan gagahnya mengatakan kepada wartawan bahwa ia sudah menyiapkan ekstra flight untuk menjemput kontingen Pesparawi dari Sumut.
"Jadi solusinya, besok pagi (Rabu 1 Juni) mereka akan pulang. Kita siapkan penerbangan extra flight dari maskapai Lion Group, sehingga mereka bisa langsung terbang dari Papua ke Medan," tegas Bobby di Kantor Gubernur Sumut, Selasa (30/6/2026).
Di sisi lain, Bobby mengaku kalau keterlambatan pulangnya kontingen Sumut itu terjadi akibat kesalahan pengelolaan administrasi perjalanan yang ditangani oleh Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Sumut. Seharusnya Biro Kesra sudah menyiapkan tiket pulang terlebih dahulu, tapi hal itu tidak mereka lakukan, sehingga kontingen Sumut tertahan di Manokwari.
"Itu memang kesalahan dari Kesra. Sebelum mereka berangkat, sebenarnya saya sudah mengingatkan saat audiensi agar tiket pulang dipersiapkan sejak awal," ujarnya.
Gubernur menyebutkan, anggaran yang disiapkan untuk kepulangan kontingen tidak mencukupi akibat kenaikan harga tiket pesawat, sehingga pemesanan tiket kembali mengalami kendala.
"Karena kita tahu anggaran yang mereka siapkan awalnya cukup, tetapi terjadi kenaikan harga tiket pesawat sehingga anggarannya tidak mencukupi," katanya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengambil langkah cepat dengan menyiapkan pembiayaan tambahan agar seluruh anggota kontingen segera kembali ke daerah. Tapi anggaran tambahan itu tentu saja tidak untuk menghadirkan ekstra flight seperti yang diumbar Bobby.
Kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV/2026 merupakan kegiatan tahunan memperebutkan piala bergilir Presiden RI. Pada tahun ini kegiatan itu berlangsung di Manokwari, Papua Barat, pada 18–28 Juni 2026.***
