Pelaksanaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun
2026 sudah memasuki hari ketujuh. Sejauh ini, pengunjung di arena itu jauh dari
yang diharapkan. Hampir setiap malam,
pengunjung yang hadir sangat sedikit. Bahkan diakhir pekan lalu, saat
berlangsung konser music RIF, pengujung juga tidak terlalu banyak.
PRSU yang sepi dengan pengunjung.
Berbeda dengan pagelaran sebelumnya, daya tarik yang ditawarkan pada kegiatan PRSU tahun ini juga jauh menurun. Yang anehnya, harga tiket masuk untuk menyaksikan pameran pembangunan yang ada di dalamnyha lebih mahal dari tahun-tahun sebelumnya, yakni Rp35 ribu per orang.
Padahal PRSU sebelumnya hanya menerapkan tiket Rp20 ribu. Artinya ada kenaikan sekitar 80 persen. Hal ini yang membuat PRSU tak lagi banyak didatangi pengunjung.
“Bayangkan, kita harus bayar tiket Rp35 ribu masuk untuk melihat pameran pembangunan dari Pemda-Pemda di Sumut. Apa hebat kali rupanya pameran Pemda itu. Apanya dasar pemikiran panitia PRSU itu sampai harga tiket mencapai Rp35 ribu. Ada-ada saja si Bobby ini,” ujar Salatin, salah seorang warga Medan Johor yang tadinya mau menyaksikan acara itu, tapi kemudian balik badan karena merasa harga tidak tidak pantas.
Warga juga menilai suasana yang dipamerkan tidak jauh dari sebelumnya. Tidak ada yang menarik, tidak ada yang istimewa. Terkesan monoton.
Tak heran jika para pedagang yang terlanjur menyewa lapak di arena itu semua pada mengeluh karena minimnya pengunjung yang datang. mereka berpotensi rugi besar.
Begitu juga di akhir pekan. Pada kegiatan sebelumnya, PRSU biasanya banyak dikunjungi penonton karena ada konser music akhir pekan yang menghadirkan artis-artis top nasional. Dulu pernah hadir para diva dan artis papan atas, seperti Mahalini, Andini, grup band Slank, Andra N' the back bond dan berbagai artis lainnya.
Pada tahun ini artis yang diundang lebih banyak merupakan kelas bawah. Lebih pantas disebut artis Pantura alias Pantai Utara Jakarta yang menyanyikan lagu-lagu dangdut.
Sepeti misalnya Juwita Bahar, Happy Asmara, Nasaruddin. Ada pula beberapa penyanyi baru yang belum terlalu popular, seperti Mahen dan penyanyi lagu batak Osen Hutasoid.
Memang ada beberapa artis kelas atas, seperti Maliq D'Essentials yang akan tampil pada 11 Juli dan Ghea Indrawari yang tampil sehari setelahnya. Namun jumlah artis sekelas itu sangat minim. Setelah itu, PRSU akan lebih banyak diramaikan artis Pantura.
Menjelang penutupan pada awal Agustus nanti, artis yang dihadirkan juga merupakan artis yang sudah meredup karirnya, seperti Changcuters dan Kangen Band. Makanya, tak heran daya tarik PRSU kali ini jauh menurun dibanding sebelumnya. Tanda-tanda tidak mencapai target sudah didepan mata.
Sebelumnya Pemprovsu meyakini kalau PRSU kali ini akan berbeda dari yang sebelumnya. PRSU 2026 ini merupakan yang pertama dilaksanakan di era gubernur Bobby Nasution setelah dua tahun sebelumnya ditiadakan dengan alasan penghematan anggaran.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut, Sulaiman Harahap selaku panitia acara mengatakan kalau PRSU kali ini akan menampilkan banyak hal istimewa dari stand Pemda-Pemda yang hadir. Sampai-sampai ia berani memasang target kalau pengunjung yang hadir mencapai 300 ribu selama sebulan pagelaran.
Ia pun yakin transaksi di arena PRSU itu bisa mencapai puluhan miliar. Transaksi itu diyakini akan menguntungkan usaha UMKN yang ada di dalam.
Dan percayalah, di akhir PRSU pada Agustus nanti, Sulaiman akan mengatakan kalau semua target yang mereka canangkan selama PRSU itu berhasil mereka capai. Tapi siapa yang bisa percaya dengan kebenaran data itu ?
Bisa saja panitia hanya mengarang-ngarang data untuk memuji diri sendiri agar tidak malu dikatakan gagal Lagi pula yang membuat data adalah mereka sendiri, yang mengumumkan ke publik juga mereka.
Tidak ada data pembanding. Warga Sumut akan ditipu-tipu dengan data yang asal-asalan itu. Dari mereka untuk mereka.
Yang jelas, fakta yang terungkap, PRSU kali ini sama sekali tidak banyak berbeda dari sebelumnya. Lebih banyak menampilkan pameran pembangunan Pemda dari itu ke itu saja. Tentu saja pameran seperti itu sangat membosankan.
Sementara konser music yang biasanyan mengundang daya tarik pengunjung, justru lebih banyak menghadirkan artis yang kurang popular. Terlihat sekali kalau panitia ingin berhemat karena mereka enggan mengundang artis kelas atas yang nilai kontraknya lebih mahal.
Makanya, tanda-tanda kegagalan PRSU di era Bobby ini sudah terlihat jelas. ***