![]() |
| Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ditantang tunjukan ijazah pendidikan setara tamatan SMA |
Denny Indrayana tidak main-main dengan hadiah itu. Siapapun yang bisa menjawab tantangan itu, akan mendapatkan uang dengan nominal tersebut.
“Ayo, bagi siapapun itu, asal bisa membuktikan bahwa Gibran tamatan SMA, pasti akan mendapat hadiah sebesar itu,” kata Denny Indrayana.
Menariknya, uang hadiah yang akan diberikan tidak semuanya berasal dari kantong Denny Indrayana. Sebagian dari uang itu justru berasal dari sumbangan masyarakat yang ingin menuntut keadilan dan transparan dari pemerintah. Mereka beramai-ramai menyumbangkan dana untuk menambah jumlah hadiah tersebut.
“Sekarang hadiahnya sudah lebih dari Rp1,15 miliar. Ayo. Siapapun bisa menjawab tantangan ini. Termasuk Gibran sendiri. Kalau bisa membuktikan bahwa ia adalah tamatan SMA, uang akan saya berikan tunai,” kata Denny.
Sampai Kamis (20/8/2026) ini, Denny mengaku sebenarnya sudah banyak sekali orang yang mau menambahkan hadiah itu. Malah ada yang mau menstrafer uang ke rekeningnya sebagai tambahan hadiah. Namun semua ditolak Denny.
“Kalaupun ada yang mau menambahkan hadiah, silahkan kirim identitas saja. Tidak perlu transfer ke rekening saya. Pokoknya hadiah akan terus kita tambah agar masyarakat mau menjawab tantangan ini,” kata Denny.
Salah satu pihak yang turut menyumbang untuk meningkatkan hadiah itu adalah anggota Forum Purnawirawan prajurit TNI, Laksamana Muda (Purn) Moeryono Aladin. Ia bahkan rela merogoh kocek pribadi sebesar Rp100 juta sebagai tambahan hadiah itu.
“Kami dari FPP TNI tertarik dengan sayembara ini, makanya kami tambahnya hadiahnya,” kata Laksma (purn) Moeryono Aladin.
Selain dari FPP TNI, ada banyak lagi pihak lain yang ikut menyumbang sehingga total hadiah terus meningkat. Peningkatan hadiah ini menunjukkan betapa tingginya keyakinan public bahwa Gibran sebenarnya tidak memiliki ijazah tamatan SMA. Ia hanya pernah mengikuti kursus non formal di Singapura dan Australia yang tidak setara dengan SMA. Kursus itu hanya enam bulan.
Hanya saja, karena waktu itu orangtuanya Joko Widodo menjabat presiden, sehingga Kementerian pendidikan ditekan untuk mengeluarkan surat rekomendasi bahwa Gibran telah mengikuti pendidikan di Australia yang setara dengan SMA. Padahal semua itu bohong besar dan penipuan.
“Saya pastikan bahwa Gibran hanya mengikuti kursus di Australia, bukan sekolah formal. Makanya saya yakin bahwa dia itu tidak tamat SMA. Surat rekomendasi dari Kementerian pendidikan yang menyatakan Gibran tamat SMA adalah kebohongan,”kata Denny.
Sebagai pakar hukum dan paham dengan sistem pendidikan Australia, Denny sebenarnya sudah berupaya meyakinkan DPR dan lembaga negara bahwa Gibran itu sama sekali tidak pernah mengikuti pendidikan SMA. Ia hanya tamatan SMP, atau jangan-jangan hanya tamatan SD.
Hanya saja, perjuangan Denny membongkar kepalsuan pendidikan Gibran itu tidak pernah dilayani oleh penyelenggara negara. Semuanya seakan tutup mata dengan manipulasi itu.
“Karena semua pasif, makanya saya mengajak public untuk mengikut sayembara guna membuktikan bahwa apakah benar Gibran punya ijazah SMA. Sayembara ini saya lalukan karena upaya tindakan hukum melawan penipuan Gibran terhalang oleh kekuasaan. Makanya, lewat sayembara ini kami ajak masyarakat untuk berpartisipasi membuktikan adanya ijazah Gibran itu ,” kata Denny.
Sampai detik ini belum ada orang yang berani menjawab tantangan itu. Bahkan Gibran sendiri tidak bisa menunjukkan ijazahnya.
Makanya, Denny yakin sampai kapanpun Gibran tidak akan bisa membuktikan bahwa ia tamatan SMA atau setara. Rekomendasi dari Kementeian pendidikan yang menyataklan Gibran tamatan luar negeri yang setara dengan SMA adalah kesalahan besar.
Kenapa Kementerian Pendidikan sampai berani menerbitkan keterangan bahwa pendidikan Gibran setara tamatan SMA?
Jawabannya sederhana, karena saat itu Kementerian pendidikan berada di bawah kendali Presiden Jokowi yang sangat ngotot agar anaknya bisa naik sebagai Walikota dan kemudian meningkat menjadi wakil presiden. Adapun syarat untuk mengikuti Pilkada SMA dan Wakil Presiden harus minimal tamatan SMA. Makanya pendidikan Gibran dipoles seakan ia tamatan SMA.
![]() |
| Eks Wamenkumham Prof. Denny Indrayana |
Akhirnya Indonesia dipermalukan oleh wakil presiden yang bisanya planga plongo. Nggak tahu apa apa dalam menangani permasalahan negeri ini. Kapan Indonesia bisa maju kalau wapresnya saja seperti ini. Kacau…!
Makanya sayambara ini menjadi alat penekan agar Gibran tahu diri. Jangan dibiarkan anak ini terus menipu rakyat dengan mengaku-ngaku tamatan SMA.
Tantangan dari Denny ini sama sekali tidak mampu membuat para Ternak Mulyono alias Termul - julukan bagi pendukung Jokowi dan Gibran -- untuk melawan. Mereka bungkam, sebab tak seorang pun yang bisa membuktikan Gibran tamatan SMA.
Di saat bersamaan, kasus ijazah Jokowi yang dituding palsu juga masih terus bergulir.
Perilaku anak dan bapak ini benar-benar membuat Indonesia heboh. Sementara negara lain sudah begitu maju membahas nuklir dan luar angkasa, Indonesia masih berkutat menghadapi penguasa yang diduga memanipulasi ijazah. Dasar penguasa biadab..***

