Boleh jadi
penjilat, tapi janganlah sampai membenarkan hal yang jelas-jelas salah. Kalau
penjilat yang membenarkan hal yang salah, itu namanya penjilat tengik. Penjilat
tengik ini adalah pejabat yang rela membohongi masyarakat demi membenarkan
junjungannya. Walaupun junjungan itu jelas-jelas salah.
ilustrasi pengupas bawang bergaji Rp700 ribu per kg
Prilaku seperti ini yang ditunjukkan orang-orang di sekitar Prabowo yang ngotot membela pidato presiden itu soal Ibu Susana si pengupas bawang. Menurut mereka, tidak ada yang salah pada pidato itu. Masyarakat Indonesia sebaiknya melihat substansi pidato, jangan menggoreng soal data-data yang disampaikan.
“Fokus saja kepada materi pidato itu. Jangan focus pada hal kecil yang membuat masyarakat kehilangan konteks,” kata salah satu penjilat Prabowo, Hasan Nasbi yang merangkap sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Anehnya, Hasan sama sekali tidak pernah mengatakan kalau pidato itu salah. Ia justru mengajak masyarakat melihat kebenaran cerita yang disampaikan. Jangan menggoreng-goreng data.
“Masyarakat jangan berhenti pada satu atau dua kalimat yang kemudian menjadi bahan perdebatan, tetapi melihat pesan dan gagasan besar yang ingin disampaikan Presiden dalam pidatonya,” kata Hasan Nasbi.
Hasan memang terkenal sebagai salah satu penjilat Prabowo. Sebelum duduk di kabinet, ia bekerja di Lembaga survey Cyrus Network yang kerap melahirkan data-data yang menguntungkan bagi Jokowi dan Prabowo di masa Pemilu dan Pilkada.
Hasan Nasbi juga pernah menjadi koordinator tim relawan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2012 dan kemudian jadi juru bicara kampanya Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024. Tak heran jika ia mendapat jabatan empuk di cabinet. Ia pun membela mati-matian junjungannya, walau jelas ada kesalahan di sana.
Salah satu kesalahan fatal itu adalah ketika Prabowo menyampaikan pidato pada sidang MPR pada 14 Agustus 2026 di mana kala itu Prabowo memperkenalkan kepada peserta sidang tentang kehadiran Ibu Susana dari Bogor di ruang sidang itu.
Prabowo mengatakan bahwa Ibu Susana adalah seorang buruh pengupas bawang dengan gaji Rp700.000 per kilogram.
Tentu saja pidato itu mengudang sorotan dan ramai diperbincangkan di media sosial. Betapa tidak, pidato itu sarat dengan kebohongan. Bagaimana mungkin ada di Indonesia seorang buruh pengupas bawang yang gajinya Rp700 ribu per kg. Gila ya…?
Entah dari mana Prabowo mendapatkan data itu. Pidato itu jelas-jelas salah. Tak heran jika Prfabowo pun menjadi bahan olok-olokan public. Masak seorang presiden menyampaikan pidato seperti itu. Hebatnya lagi, momen itu berlangsung di depan sidang MPR yang disaksian jutaan masyarakat melalui siaran televisi dan youtube.
Alhasil, pidato Prabowo soal Ibu Susana si pengupas bawang menjadi trending topic yang paling panas dibicarakan di media social. Pidato itu menjadi bahan lawakan di semua tingkatan.
Anehnya, orang-orang di sekitar Prabowo bukannya minta maaf soal data yang salah itu. Mereka malah ngotot membela junjungannya. Hasan sampai meminta publik untuk tidak mudah terseret oleh potongan pernyataan yang beredar di media sosial.
"Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu," ujar Hasan di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Hasan
kembali menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya memperdebatkan satu
pernyataan yang menjadi viral. Menurut dia, ada banyak gagasan besar yang
disampaikan Prabowo dalam pidatonya dan hal tersebut semestinya menjadi
perhatian utama.
Hasan Nasbi, ngoto membela pidato presiden meski salah
"Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu," imbuhnya. P0koknya dalam pandangan Hasan Nasbi, Prabowo selalu benar.
Sikap ngoto istana soal isi pidato itu tidak hanya membuat Pidato Prabowo hangat dibicarakan public, tapi juga mengundang komentar dari para pekerja pengupas bawang. Salah satu disampaikan Boru Simamora (45), pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Padang Bulan, Medan.
Boru Simamoro turut mengolok-olok pidato presiden itu dengan mengatakan kalau ia sangat tertarik dengan nominal tersebut. Ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi buruh pengupas bawang apabila pekerjaan dengan bayaran Rp700.000 per kilogram benar-benar tersedia.
"Di mana? Kalau ada, saya juga mau," kata Boru Simamora saat ditemui di Pasar Padang Bulan, Medan, Minggu (16/8/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana angka yang disampaikan dalam pidato Presiden kemudian mendapat respons langsung dari masyarakat yang memiliki pengalaman dengan pekerjaan tersebut.
Boru Simamora mengaku kalau ia pernah menerima pekerjaan tambahan sebagai buruh pengupas bawang. Pengalaman tersebut membuat ia memiliki gambaran mengenai besaran upah yang diterima pekerja pengupas bawang di lapangan.
Ia mengatakan pernah memperoleh bayaran Rp100.000 untuk mengupas 25 kilogram bawang. Artinya, untuk mengupas 1 kg bawang, ia mendapat bayaran Rp4.000. Sangat berbeda jauh dibanding gaji pengupas bawang yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya. Bayangkan Rp700 ribu per kg. Betapa luar biasanya..!
“Makanya saya sangat tertarik dengan pekerja itu. Tolong kabari, biar saya melamar,” sindir Ibu Simamora.
Bukan hanya Boru Simamora yang menyindir pidato itu, hampir semua kalangan masyarakat membicarakan pidato itu. Mereka bahkan melahirkan beberapa video sindiran yang menggambarkan betapa hebatnya penghasilan seorang pengupas bawang sampai dibayar Rp700 ribu per kg.
Begitupun, pihak istana, sebutan untuk orang-orang sekitar Prabowio tetap ngotot membela pidato yang salah itu. Alih-alih memperpanjang perdebatan mengenai satu angka atau satu bagian pernyataan, Istana meminta masyarakat melihat keseluruhan pesan yang disampaikan presiden.
Hasan menilai potongan-potongan pernyataan yang menjadi viral di media sosial dapat membuat perhatian publik terfokus pada bagian tertentu saja. Padahal, menurut dia, pidato Presiden memuat gagasan yang lebih luas.
Begitulah kalau jadi penjilat. Mereka rela membohongi rakyat ketimbang menyalahkan atasannya.
Rakyat harus pasrah dengan kebohongan itu. Makanya rakyat pun sulit percaya dengan data-data pemerintah soal swasembada pangan, soal kenaikan pertumbuhan ekonomi, soal investasi dan lainnya. Bisa jadi semua data itu dikarang-karang saja agar kinerja pemerintah terlihat hebat.
Maklum, yang dinilai adalah kinerja mereka, dan yang menilai juga mereka. Dari mereka untuk mereka, ya jadi suka-sukanya saja mengeluarkan data. **