-->

Kasihan Susana: Tertekan Batin sejak Dikenalkan Presiden sebagai Pengupas Bawang Bergaji Tinggi

Sebarkan:

Susana saat diperkenalkan sebagai pengupas bawang bergaji Rp700 ribu per kg.
Malang nian nasib Susana, 38 tahun, warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor Jawa Barat, yang sempat diundang ke Jakarta menghadiri sidang tahunan MPR RI pada 14 Agustus lalu. Tadinya ia berharap undangan itu akan menghadirkan perubahan baru bagi kehidupannya. Ia pun sampai rela berdandan manis untuk menghadiri acara itu.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sejak menghadiri sidang MPR itu, hidup Susana bagaikan dalam tekanan yang berat. Banyak orang datang ke rumanya mempertanyakan soal penghasilannya yang sangat  besar. 

Bayangkan saja, ia sempat diperkenalkan Presiden Prabowo pada sidang MPR itu sebagai pekerja pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu/kg. Alangkah besarnya gajinya itu...!

Jadi, kalau seandainya Susana bisa mengupas minimal 10 kg bawang per hari, paling tidak penghasilannya mencapai Rp7 juta. Siapa yang tidak tergiur dengan gaji seperti itu. 

Tak heran jika sejak diperkenalkan orang Prabowo, rumah Susana berjibun didatangi orang dari berbagai daerah. Banyak yang minta nasihat agar mendapat pekerjaan sebagai pengupas bawang.

Hal itu yang membuat hidup Susana berubah menjadi tertekan. Betapa tidak, kehidupannya sehari-hari saja sudah sangat memprihatinkan, penghasilannya pas-pasan, rumah kecil, tapi santer diberitakan bergaji sangat fantastis.   

Siapa yang tidak tertekan dengan kondisi itu.  Sampai-sampai Susana tidak bisa bekerja. Otomatis untuk mencari biaya hidup keluarga juga sulit. Sulit bekerja, tentu saja sulit mendapatkan biaya untuk makan keluarga.

Tak tahan dengan tekanan itu, dua hari sepulang dari Jakarta, Susana langsung menghilang menghindari ramainya orang yang datang ke rumahnya.  Ia bahkan menghilang sampai lima hari. Dalam pelarian itu, ia berharap ada klarifikasi dari istana terkait pekerjaan dan penghasilannya.

beruntungnya, orang-orang di sekitar Prabowo pun bergerak cepat meralat ucapan junjungannya itu. Mereka mengatakan, ada kesalahan Prabowo dalam membaca teks pidato yang ada di tangannya.

Seharusnya Susana diperkenalkan sebagai pengupas  bawang dengan gaji Rp7.000 /kg, bukan Rp700 ribu. Istana meminta maaf atas kesalahan itu.

“Ada kesalahan ucap dari Bapak presiden, Ya, mohon dimaklumi karena Bapak Presiden cukup lelah membaca pidato selama dua jam,” ujar Muhammad Qodari, Kepala Staf Kepresidenan.

Setelah adanya klarifikasi dari istana, akhirnya Susana berani pulang kembali ke rumahnya. 

Namun tetap saja hidupnya belum nyaman, sebab data pekerjaannya yang disampaikan presiden  juga tidak  benar.  

Faktanya, Susana bukanlah bekerja sebagai pengupas bawang. Pekerjaannya sehari-hari adalah pencuci ompreng dapur MBG. Sesekali ia bekerja sebagai penjahit  kain lap majun.

Entah dari mana staf Prabowo mendapatkan data bahwa Susana adalah pengupas bawang. Pastilah data itu disampaikan oleh orang-orang tolol yang ada di sekitar presiden. 

Dasar tolol..! Begitulah kalau orang tolol diberi ruang duduk di sekitar presiden. Datanya asal-asalan. Akhirnya citra presiden rusak, dan orang desa yang menjadi korban.

Sejak kembali ke desanya, Susana memulai lagi kehidupan bersama suaminya Didim (38) dan dua anak mereka di Kampung Ciuncal, Desa Situsari,  Kabupaten Bogor. 

Tadinya rumah itu sempat dipasang tanda ‘police line’ karena banyaknya tamu yang datang.

Namun sejak dua hari terakhir, jumlah tamu yang datang mulai berkurang. Kemungkinan mulai Kamis (20/8/2026)  akan sepi kembali setelah munculnya sejumlah berita yang meluruskan informasi seputar Susana.

Suami Susana,  Didim mengaku sama sekali tidak tahu dari mana data yang sampai ke presiden terkait informasi bahwa istrinya bekerja sebagai pengupas bawang.

Kondisi rumah Susana di Kampung Ciuncal, RT 01, RW 04, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.
“Padahal pekerjaannya sama sekali tidak terkait dengan pengupas bawang. Saya pun bingung dari mana informasi itu diperoleh presiden,” kata Didim.

Ia menjelaskan, Susana memiliki dua pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga. Pada pagi hari, Susana bekerja sebagai penjahit kain majun yang dikelola warga di desa mereka. Kegiatan itu ia lakoni sampai siang. 

Majun adalah potongan atau sisa kain tak terpakai dari pabrik garmen yang dimanfaatkan sebagai bahan membuat kain lap pembersih. Hasil jahitan itu dijual ke warga sekitar. Ada pula yang dititipkan ke pasar-pasar terdekat.

Perempuan asal Bogor ini hanya mengantongi upah sekitar Rp700 per kilogram dari pekerjaannya sebagai penjahit kain majun. Jika ditotal per hari,  penghasilan harian dari pekerjaan ini berkisar Rp15.000.

Setelah itu, mulai pukul 13.00 WIB Susana lanjut menjalani pekerjaan mencuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di dekat rumah mereka.  Dari pekerjaan itu, Susana diperkirakan mendapatkan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari. Jadi per hari ia paling bisa mendapatkan Rp50 ribu. 

Tentu saja sangat jauh dari angka yang disebut presiden Prabowo itu. Malah pekerjaan yang ditekuni Susana juga tidak sesuai dengan yang disampaikan presiden.

Akibat kesalaha informasi itu, yang menjadi korban adalah  Susana dan keluarganya. Sementara Presiden Prabowo tenang-tenang saja usai menyampaikan pidatonya. Seakan tidak bersalah sama sekali. Hanya ada klarifikasi dari bawahannya.

Setelah hampir seminggu masalah ini berjalan, berita si pengupas bawang itu belum sepenuhnya mereda. Malah sekarang ini banyak sekali  beredar video AI yang memparodikan kehidupan Susana sebagai pengupas bawang. 

Ada parodi yang menganggap Susana hanya berpura-pura miskin karena penghasilan sebenarnya mencapai piluhan juta per hari. Adapula parodi yang menggambarkan kalau Susana adalah seorang perempuan sakti yang bisa menghasilkan uang banyak dari hasil mengupas bawang.

Belakangan malah profesi pengupas bawang kerap menjadi parodi di media sosial. Tentu saja nama Susana kerap disebut-sebut dalam pembicaraan itu. 

Susana sama sekali tidak mendapat keuntungan apapun dari berita viral itu. Ia  malah jadi bahan olok-olokan. 

Ironisnya lagi, di saat perut mereka lapar, di luar sana justru Susana dan keluarganya tetap saja dikabarkan hidup mewah dengan menghasilan jutaan per hari.  

Duh, sakitnya hidup mereka itu. Ia menjadi korban politik dan pencitraan presiden. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini