-->

Trauma Keracunan, Pelajar Brastagi Beramai-Ramai Tolak MBG, Pilih Bawa Bontot dari Rumah

Sebarkan:

Makanan gratis MBG yang ditolak pelajar
Kasus keracunan yang dialami sekitar 169 pelajar Brastagi setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) membuat sejumlah pelajar mulai trauma. Sejak kasus keracunan pada Kamis (13/8/2026), mereka tidak berani lagi memakan makanan yang disediakan pemerintah itu.  Pelajar itu beramai-ramai menolak MBG. Mereka lebih suka membawa bontot dari rumah sehingga lebih aman, lebih jelas dan lebih sehat.

Sikap para pelajar itu membuat program MBG di Brastagi tidak lagi berjalan lancar. Banyak makanan MBG yang sempat diantar ke sekolah, tapi kemudian dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi  (SPPG) selalu penyedia.

“Pokoknya tak mau lagi. Saya sudah merasakan sendiri berapa sakitnya keracunan itu,” kata Hetty, salah seorang pelajar yang sempat mendapat perawatan akibat keracunan MGB tersebut.

"Pokoknya nggak mau lagi Bang, trauma. Lebih baik bawa makanan dari rumah,” ujar  Hetty yang sampai kemarin masih menjalani perawatan di rumah. Bahkan, ia mengaku nantinya setelah sehat dan bisa kembali bersekolah, dirinya tetap enggan kembali menyantap menu makanan dari MBG.

Ke depan Hentty berencana membawa bekal dari rumah untuk santap siang di sekolah ataupun membeli makanan di sekolah agar tetap bisa memenuhi tenaganya yang bersekolah hingga sore.

Ketika pertama kali merasakan keracunan itu, Hetty mengaku  mengalami gatal di bagian dalam leher, selanjutnya menjalar hingga merasakan mual dan pusing. Tak sampai di situ, dirinya mengaku juga mengalami sakit di bagian perut namun saat di sekolah masih bisa tertahankan.

Ternyata bukan dia saja yang merasakan sakit itu. Di saat yang sama, kawan-kawannya yang lain juga merasakan penderitaan serupa. Bahkan ada yang lebih parah lagi. Hetty  masih sempat membantu mengevakuasi temannya yang mengalami kondisi lebih parah.

"Pas di sekolah itu masih bisa tertahan, tapi sudah di rumah sekitar beberapa jam sakit lagi perut kaya ditekan. Karena enggak tahan, makanya dibawa langsung ke rumah sakit," pungkasnya.

Pasca peristiwa keracunan massal yang dialami ratusan pelajar di Kecamatan Brastagi Kabupaten Karo itu, semua pelajar yang terdampak kemudian menjalani perawatan.

Total ada sekitar 269 pelajar yang menjadi korban keracunan tersebut. Mereka umumnya adalah pelajar dari  SMAN 1 Berastagi dan Perguruan Swasta Bersama, Brastagi.  Ada juga pelajar dari SMP. Korban terbanyak memang  berasal dari SMAN 1 Brastagi yang mencapai 250 orang.

Tentu saja kasus keracunan pelajar itu membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu. Sampai esok hari setelah kasus tersebut, kegiatan belajar ditiadakan karena sebagian guru di kerahkan ke rumah sakit untuk mendampingi beberapa pelajar yang harus mendapat perawatan serius. Ada empat rumah sakit yang dipilih sebagai tempat perawatan para pelajar itu, yakni RS Amanda, RS Efarina, RSU Kabanjahe, dan RS Mina Kabanjahe.

“Syukurnya tidak ada yang sampai fatal apalagi merenggut nyawa. Para pelajar itu kini sudah bisa kembali merumah,” kata  Kepala Sekolah SMAN 1 Brastagi, Normawati Martiana br Ginting, Jumat (14/8/2026).

Normawati juga akan mengevaluasi soal fasilitas MBG yang akan mereka terima ke depan. Belum ada kepastian apakah sekolah itu masih akan menerima program tersebut, atau menolak.

“Kita lihat perkembangannya nanti,” kata Normawati.

Program MBG yang disediakan pemerintah pada dasarnya tidak bersifat wajib. Sekolah yang keberatan dengan progam ini bisa saja menolak jatah makanan gratis tersebut. Bahkan ada banyak sekolah elit di Sumut yang sejak awal menolak program itu. Mereka sama sekali tidak mau menerima fasilitas makanan tersebut sejak progam diluncurkan. Pemerintah pun tidak bisa memaksa. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini