![]() |
| Siswi korban keracunan MBG, Febiona Purba, di kursi roda |
Proses pengobatan lanjutan yang dilakukan tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta terhadap dua siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menunjukkan hal positif. Keduanya dikabarkan dalam kondisi yang lebih baik.
Kedua siswi yang mendapat perawatan khusus itu adalah Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga. Kini keduanya dipastikan sudah pulih dan siap kembali ke Brastagi untuk menjalani kegiatan sekolah.
Sebelumnya, kasus ini sempat menyita perhatian publik menyusul kekhawatiran keluarga atas kondisi kedua remaja tersebut yang diduga mengalami kerusakan fungsi otak dan hilang ingatan, hingga penurunan fungsi ginjal. Namun, tim dokter spesialis RSCM mengungkap perkembangan kondisi medis yang cukup positif.
Tim medis RSCM memastikan bahwa kedua pasien tidak berada dalam kondisi kritis yang memerlukan perawatan di ruang intensif. Keduanya ditempatkan di ruang perawatan VIP standar Kencana RSCM untuk memastikan kenyamanan fisik maupun psikologis mereka selama masa pemulihan.
"Jadi perawatannya di ruang rawat biasa. Pasien dapat berkomunikasi baik. Kedua adik kita ini sudah kami rawat dan alhamdulillah saya ingin menyampaikan, hari ini kondisinya sudah baik dan jauh lebih baik," ujar Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. dr. Renan Sukmawan dalam konferensi pers, Rabu.
Renan Sukmawan juga membantah kalau Febiona Purba mengalami amnesia atau hilang ingatan. Ia dipastikan hanya mengalami panic attack. Oleh karena itu tidak dbutuhkan lagi perawatan khusus untuk keduanya.
"Insyaallah mereka segera menjalani rawat jalan, supaya adik-adik kita ini cepat sekolah kembali. Ini tugas kami di RSCM untuk menangani sebaik-baiknya perawatan sampai persiapan rawat jalannya selesai," ucap Dr. Renan.
Sebelumnya, Ibunda Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), sempat menyebut putrinya masih mengalami keluhan kejang saat menjalani pemeriksaan di RSUP H Adam Malik Medan pada awal September lalu. Saat itu, sang anak sempat dilaporkan sulit mengenali keluarga dan teman sekolahnya.
Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, menyebut hasil pemeriksaan klinis, fisik, dan penunjang medis berupa rekam gelombang otak atau electroencephalography (EEG) dinyatakan baik.
"Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda ingatannya sangat baik. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun," ujar Handry.
Lebih lanjut, Handry menjelaskan bahwa gejala yang dialami Febiona adalah kejang, tetapi bukan merupakan epilepsi.
Sementara itu, pasien kedua, yakni Agnesia Paruliana Silitonga, yang sebelumnya sempat didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal akut akibat keracunan pada 13 Agustus lalu, kini juga menunjukkan hasil pemulihan yang positif.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi Anak RSCM, Dr. dr. Henny Adriani Puspitasari, memastikan bahwa organ ginjal Agnesia telah merespons pengobatan dengan sangat baik.
"Berdasarkan evaluasi menyeluruh melalui wawancara, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan ultrasonografi, kondisi ginjalnya sudah dalam fase pemulihan dan fungsinya kembali normal," jelas Henny.
Agnesia pun pulih dengan cepat. Ia kini sudah mampu berdiri, berjalan, dan melakukan aktivitas harian secara mandiri di ruang rawat.
Dalam waktu dekat ini kedua siswi dan keluarganya direncanakan segera pulang ke Sumut, sehingga mereka bisa kembali ke sekolah. **
