![]() |
| ilustrasi Prabowo dan Gibran yang diramalkan akan pisah jalan pada Pemilu 2029 |
Keberadaan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden 2025-2030 benar-benar menghadirkan banyak masalah bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Masalah itu sangat rumit, mulai dari terbongkarnya akun media sosial Fufufafa milik Gibran yang dulunya kerap menyebar fitnah terhadap Prabowo, masalah kemampuan individu yang tidak sesuai standar, skill komunikasi yang buruk, masalah pelanggaran etika Mahkamah Konstitusi yang terus mengganjal, dan yang terbaru soal latar belakang pendidikan yang tidak jelas.
Malah sekarang ini status Gibran sebagai wakil presiden kembali dipersoalkan di MK oleh pakar hukum Denny Indrayana setelah terkuak fakta bahwa ia sama sekali tidak pernah menyelesaikan pendidikan setingkat SMA. Gibran hanya pernah mengikuti kursus Bahasa Inggirs di Australia, dan kursus itu kemudian yang dianggap setara dengan SMA oleh Kementerian Pendidikan di era Jokowi.
Gugatan Denny Indrayana ini memang berpotensi untuk ditolak MK karena sudah sangat terlambat. Lagi pula gugatan itu sangat berpotensi menyebabkan kegaduhan, sehingga hakim bisa saja berpikir melihat sisi keamanan negara, meski faktanya Gibran tidak selesai SMA.
Meski demikian, gugatan itu menambah banyaknya cacatan buruk soal Gibran. Selain masalah kemampuan individual, soal pendidikan Gibran ini bakal terus menjadi masalah.
Prabowo kabarnya sudah sangat letih terhadap masalah ini karena sangat mengganggu sistem pemerintahan yang ia jalankan.
Oleh karena itu, Prabowo dikabarkan tidak akan mau lagi mengajak Gibran untuk berdampingan pada Pemilu 2029 mendatang. Dengan demikian, hubungan politik Prabowo dan Jokowi bisa dikatakan sudah berakhir. Kemesraan Hambalang dan Solo hanya berjalan satu periode saja. Selanjutnya mereka akan berpisah jalan. Gibran dan Jokowi bersama PSI akan jalan sendiri pada Pemilu 2029.
Rencana perpisahan antara Prabowo dan Gibran ini terungkap dalam Podcast Bocor Alus Tempo yang ditayangkan di channel Tempodotco pada Sabtu (19/9/2026). Pihak Tempo mengaku mendapat sumber itu dari orang dalam istana dan juga dari para elit Gerindra.
Menariknya, Jokowi dan elit PSI sudah tahu masalah ini sehingga mereka saat ini sedang mencari-cari siapa yang bisa maju bersama dengan Gibran pada Pemilu 2029 mendatang. Satu nama sudah masuk dalam kantong Jokowi, yakni Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Jokowi sangat tertarik menggandengkan anaknya dengan Dedi karena tingkat popularitas gubernur Jawa Barat ini terus melonjak akhir-akhir ini. Bahkan sejumlah lembaga survei menilai kalau popularitas Dedi pernah melebihi Prabowo.
Jokowi melihat kalau Dedi sangat ideal menjadi pegangan bagi Gibran agar keluarga mereka tetap bisa berdiri di lingkup politik. Kalau Gibran sendiri, sudah pasti Jokowi tidak percaya, karena ia tahu anaknya itu tidak punya kualitas.
Makanya ia sengaja mencari figur yang lebih menjual agar Gibran masih bisa berdiri di tangga politik.
Saat ini hanya Gibran yang sangat diharapkannya bisa mempertahankan dinasti politik Solo. Sementara putra bungsunya, Kaesang Pangerap, belum mampu berbuat apa-apa karena minim pengalaman.
Malah beredar kabar kalau Jokowi juga akan menggeser Kaesang dari jabatan Ketua Umum PSI, dan selanjutnya ia sendiri yang akan menduduki jabatan itu.
Adapun Bobby Nasution selaku menantu Jokowi di Sumatera Utara belum bisa diharapkan naik di tingkat nasional karena levelnya masih ditingkat daerah. Nasib Bobby pun belum jelas, mengingat Gerindra kemungkinan tidak akan mendukungnya lagi pada Pilkada 2029 mendatang.
Jika hubungan Prabowo dan Jokowi sudah retak menjelang Pemilu 2029, sudah tentu masalah ini akan berimbas kepada dukungan Gerindra bagi Bobby di Pilkada Gubernur Sumut.
Bobby saat ini sangat menggantungkan dirinya pada dukungan Golkar. Itupun kalau Bahlil masih setia kepada Jokowi. Jika Bahlil ikut berbalik badan dari Jokowi, maka habiskan Bobby. Satu-satunya harapan baginya adalah PSI.
Beruntungnya, sampai saat ini Bahlil masih menunjukkan kesetiaan kepada Jokowi. Hal itu tampak pula dengan adanya desakan dari Bahlil agar orang-orang Bobby tetap dimasukkan dalam kepengurusan Golkar Sumut 2026-2031 yang baru saja disahkannya.
Siapa pendamping Prabowo?
Bocor Alus Tempo juga mengeluarkan data tentang tiga nama sedang digodok istana untuk mendampingi Prabowo pada Pemilu mendatang. Ketiga nama itu adalah Menteri Luar Negeri Sugiono yang juga merupakan Sekjen Partai Gerindra, lalu ada nama Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, dan terakhir nama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Ketiga anak muda ini memang dikenal sangat dekat dengan Prabowo. Bisa dikatakan ketiganya adalah pengikut setia Prabowo. Karir mereka juga naik berkat Prabowo.
Dalam memilih calon wakilnya pada Pemilu mendatang, Prabowo tampaknya tidak terlalu memikirkan calon dari partai lain karena ia merasa sudah menguasai semua sistem sehingga ia lebih percaya diri untuk kembali terpilih. Tentu saja Prabowo akan mengandalkan peran lembaga negara yang bekerja untuk mendukungnya.
Prabowo sepertinya berkaca pada langkah Susilo Bambang Yudhoyono yang kembali maju sebagai presiden pada periode keduanya di Pemilu 2009 dengan menggandeng Boediono. Kala itu Boediono sama sekali tidak berafiliasi dengan partai apapun. Ia hanyalah seorang akademik yang tidak terlalu banyak berbicara soal politik. Malah jaringan politik Boediono bisa dikatakan sangat minim.
Cuma karena SBY sudah punya kekuasaan yang sangat kuat di pemerintahan, ia berani mencari wakil dari non partai. Dan terbukti, pasangan SBY-Boediono unggul pada Pemilu presiden 2009.
Langkah seperti itulah yang kabarnya akan dilakukan Prabowo. Ia tetap percaya diri walau calon wakilnya nanti bukan dari partai politik. Ia akan mengambil pendamping dari orang-orang yang sangat dipercayainya. Ya, satu di antara tiga nama tadi.
Adapun Gibran, tidak akan dipakai lagi oleh Prabowo. Gibran dan Jokowi akan jalan sendiri. Makanya keluarga itu sedang menggadang-gadang Dedi Mulyadi mau maju sebagai calon presiden dengan Gibran sebagai wakil.
Masalahnya, Dedi Mulyadi masih tercatat sebagai salah satu pengurus elit Partai Gerindra. Maka itu, para politisi PSI sudah menyebarkan isu kalau Dedi akan mundur dari partai itu menjelang Pemilu nanti.
Dedi sendiri sudah membantah, tapi rencana mundurnya itu tetap sangat menguat karena Jokowi sangat berharap Dedi yang akan membantu karir politik anaknya.
Podcast Bocor Alus Tempo itu sama sekali tidak membahas potensi calon lain, seperti Anis Baswedan, Gubernur Jakarta Pramono Anung, dan juga Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono. Mereka lebih fokus pada perpecahan hubungan antara Prabowo dan Gibran. ***
