-->

Kabut Asap di Sumut Semakin Pekat, Sekolah Mulai Terapkan Sistem Belajar jarak Jauh

Sebarkan:
sebagian pelajar di Medan  mulai melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh untuk menghindari dampak kabut asap yang semakin tebal.

Sejumlah wilayah di Sumatera Utara turut merasakan dampak kabut asap yang disebabkan pembakaran hutan di wilayah Sumatera Selatan. Kondisi ini menyebabkan sejumlah warga mulai mengalami masalah penyakit trenggorokan. Anak-anak dan pelajar dikuatirkan akan mengalami dampak yang lebih parah. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Sumatera Utara menerbitkan kebijakan lanjutan guna mengantisipasi dampak kabut asap tersebut.

Salah satu langkah yang dilakukan Dinas Pendidikan adalah  membuat penyesuaian kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan di semua jenjang. Dengan kebijakan itu, mulai  Jumat (16/10/2026), seluruh anak sekolah baik itu Paud, TK, SD, SMP, SMA, SLB sederajat diminta untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah masing-masing. 

Peraturan ini dibuat untuk menindaklanjuti instruksi Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, terkait penanganan dampak kabut asap di sejumlah wilayah Sumut. PJJ ini juga dinilai sebagai upaya perlindungan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. 

Pelaksanaan PJJ dilakukan sejak  16 sampai 21 Oktober 2026. 

Tiap sekolah meminta kepada wali murid untuk mengawasi dan memastikan anak-anaknya mengikuti PJJ dan tetap berada di dalam rumah. Mereka juga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah. 

Penerapan PJJ ini salah satunya telah dilakukan oleh SMA Negeri 2 Medan.  Kepala SMAN 2 Medan Marsito telah mengimbau siswa dan jajaran tenaga pendidik agar melakukan aktivitas dari rumah. 

"Mulai pagi ini, kita melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai langkah menjaga kesehatan dan keselamatan bersama di tengah kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembelajaran tatap muka," kata Marsito, Jumat (16/10/2026). 

Ia juga meminta agar pembelajaran dilakukan secara kreatif, fleksibel, dan sebermakna mungkin. Sebab pembelajaran lewat skema PJJ bukan pertama kalinya dilakukan. 

"Kita memanfaatkan berbagai sumber belajar serta teknologi yang tersedia, dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan setiap murid. Dengan imbauan tidak perlu memaksakan metode yang rumit ataupun memberikan tugas yang berlebihan," lanjutnya. 

Pihaknya juga berharap wali murid bisa mendampingi dan memberikan perhatian kepada anak-anaknya sesuai dengan waktu dan kemampuan masing-masing. Karena kehadiran, kepedulian, dan motivasi dari keluarga merupakan dukungan yang sangat berarti dalam menyukseskan PJJ. 

"Kita jalani situasi ini dengan tenang, penuh pengertian, dan semangat kolaborasi," sebutnya. 

PJJ bagi Marsito bukan tentang seberapa banyak tugas diberikan, seberapa canggih teknologi digunakan, atau seberapa lama murid berada di depan layar. Namun PJJ adalah tentang bagaimana pembelajaran tetap bermakna tanpa mengabaikan kesehatan, kenyamanan, dan kebahagiaan. 

Terlebih jumlah siswa yang menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Medan mencapai ratusan orang. Begitu pula dengan siswa kelas 12 yang tengah mempersiapkan diri dari sekarang masuk ke perguruan tinggi. SMA Negeri 2 Medan juga sudah melakukan koordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Untuk sementara waktu, Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak masuk ke sekolah sampai PJJ usai. 

"Kita memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia secara bijaksana, tanpa menambah beban bagi guru, orang tua, maupun murid," tuturnya. 

Sementara itu di ruang tamu rumah sederhana, seorang siswa SMP di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, mulai melakukan PJJ. Sejak pukul 08.00 WIB ia telah menyiapkan laptop, buku, hingga alat tulis lainnya. 

Herawati selaku orang tua mengatakan bahwa situasi PJJ ini mengingatkannya dengan suasana Covid-19 dulu. 

"Semogalah tidak sampai berbulan-bulan. Karena situasinya sangat mirip kayak Covid-19. Saya pun berharap asap karhutla di Sumut segera hilanglah biar anak-anak ini bisa belajar di sekolah," katanya. 

Bagi Herawati, aktivitas PJJ memang harus dilakukan daripada memaksa anak-anak ke sekolah dengan kualitas udara yang tidak sehat. "Saya pun takut kalau anak saya keluar meskipun makai masker. Jadi ya bagi saya pribadi keputusan yang tepat melakukan PJJ," ungkapnya. *** (komp)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini