-->

Bobby Tetap Kader Gerindra Selagi Mendukungnya Jadi Gubernur, Jika Tidak..?

Sebarkan:
Bobby Nasution, masih mengaku sebagai kader Gerindra selaku didukung sebagai gubernur. 

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan dirinya tetap merupakan kader Partai Gerindra meskipun mertuanya, Joko Widodo (Jokowi) telah resmi menjadi anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI).  Bahkan PSI bisa dikatakan menjadi milik keluarga Jokowi karena ketua umum partai itu adalah putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangerap yang tidak lain adik ipar Bobby.

Namun kesetiaan Bobby terhadap Gerindra dipastikan hanya berlaku selagi dukungan partai itu diberikan kepadanya. Jika pada Pemilu 2029 mendatang Gerindra tidak lagi mencalonkannya sebagai gubernur, bisa jadi Bobby akan berpaling dari partai itu. 

PSI kemungkinan besar adalah tempatnya berlabuh karena partai itu sudah menjadi milik keluarga mereka.

Statusnya yang masih tercatat kader Gerindra diungkap  Bobby seusai menghadiri kegiatan pengukuhan Kepala Bank Indonesia wilayah Sumatera Utara di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Jumat (9/10/2026). 

Ia bahkan mengulang pernyataan tersebut dua kali ketika ditanya mengenai posisinya setelah Jokowi secara terbuka mengumumkan keanggotaan di PSI.

"Saya Kader Gerindra, saya Kader gerindra," singkatnya.

Meski menegaskan tetap berada di Gerindra, Bobby mengaku tidak menutup kemungkinan memberikan dukungan apabila Jokowi meminta bantuannya untuk memenangkan PSI.  Ia menjelaskan, dukungan politik tidak selalu harus dimaknai sebagai perpindahan keanggotaan partai.

"Ya tidak harus PSI (dukungan kemenangan), ya hari ini yang minta dukungan support dan partai pendukung baik pendukung Prabowo-Gibran, dan pendukung Bobby-Surya. Ya wajar dong, walaupun saya Partai Gerindra bukan berarti partai pendukung dan pengusung kemarin putus hubungan itu," terangnya.

Bobby mendaftar sebagai kader Gerindra setelah ia dipecat dari PDIP menjelang Pilkada 2024 lalu. keluarnya Bobby dari Gerindra terkait erat dengan pecah kongsi Jokowi dan Megawati di tingkat pusat. Tak terbantahkan, bahwa kekuatan politik Bobby di Sumut sangat ditentukan pengaruh politik Jokowi di tingkat pusat. 

Bobby bukanlah politisi yang mampu berdiri sendiri. Nasibnya sangat bergantung kepada kekuatan politik mertuanya.

Setelah dipecat PDIP menjelang Pilkada 2024 lalu, Bobby pindah ke Gerindra   atas saran dari mertuanya Jokowi. Bobby memilih Gerindra karena partai itu sudah pasti memberi dukungan kepadanya maju pada Pilkada provinsi 2024.

Maklum, pada saat itu hubungan Jokowi dan Prabowo sedang mesra-mesranya. Di saat yang sama, di tingkat pusat, Jokowi sedang memoles Prabowo untuk merebut kursi presiden. Artinya, pilihan Bobby bergabung ke Gerindra bukanlah karena ideologi, tapi berdasarkan arah mata angin.

Namun situasinya belum tentu saja dengan Pemilu 2029 nanti. Lagipula hubungan Prabowo dan Jokowi tidak bisa lagi dikatakan mesra seperti dulu. Dengan demikian, nasib Bobby di Gerindra juga belum pasti.  Bagaimanapun juga, keberadaan Bobby di Gerindra tidak bisa dilepaskan dengan hubungan Jokowi dan Prabowo. 

Jika kemesraan itu tidak terjalin lagi, kemungkinan besar Bobby juga akan tersingkirkan di partai itu.

Gerindra pasti lebih memilih mendukung kandidat lain untuk maju pada Pilkada Sumut 2029. Apalagi Gerindra punya banyak kader populer yang layak diusung.

Sebut saja misalnya Dahnil Anzar Simanjuntak yang kabarnya sudah digadang-gadang kembali ke Sumut untuk meraih posisi gubernur 2029-2034. Atau ada sejumlah politisi lokal lain di daerah yang kemampuan juangnya jauh lebih nyata ketimbang Bobby. Bisa dipastikan bahwa Bobby bukanlah sosok pilihan utama bagi Gerindra pada Pilkada mendatang, meski semua tahu kalau Bobby  sangat berambisi berkuasa dua periode.

Jika nanti Gerindra tidak mau lagi mendukung Bobby, maka mau tidak mau menantu Jokowi ini harus mencari partai baru  yang mau mendukungnya. Yang berpeluang sebagai tempat berlabuhnya adalah PSI yang kini dikendalikan Jokowi. 

Adapun sikap Golkar kepada Bobby juga sangat ditentukan hubungan Ketua umum Bahlil Lahadalia dengan Jokowi. Selagi Bahlil masih tunduk kepada pengaruh Jokowi, Bobby bisa jadi berpeluang  diusung Golkar pada Pemilu mendatang. 

Namun harus dipahami, cara pandang politik Golkar biasanya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuasaan. Partai ini sangat tidak berpengalaman berseberangan jalan dengan penguasa. 

Kalau Prabowo memilih berpisah jalan dengan Jokowi, maka Bahlil pun berpeluang melakukan hal yang sama. Situasi ini tentu berdampak kepada posisi politik Bobby di Sumut. Siapapun tahu, kekuatan Bobby untuk maju pada Pilkada mendatang bukanlah ditentukan oleh dirinya sendiri, tetap sangat bergantung dengan situasi politik yang dialami Jokowi.

Semua orang tahu, Bobby bukanlah sosok pemimpin yang naik ke puncak karir karena perjuangan dirinya sendiri. Bobby adalah sosok pemimpin yang merupakan titipan dari pusat. Ketika posisi Jokowi di pusat sudah goyah, sudah pasti partai-partai di Sumut akan memandang Bobby sebelah mata.

Peluang Bobby lebih besar ke PSI

Dari berbagai scenario politik yang mungkin terjadi, peluang Bobby untuk berpindah ke PSI jauh lebih besar dibanding bertahan di Gerindra.  Apalagi Jokowi sendiri sudah terang-terangan  mengungkapkan secara terbuka bahwa dirinya resmi menjadi anggota PSI sejak 14 Oktober 2025. Dengan pengakuan Jokowi itu, ia sebenarnya sudah mengambil jalan untuk bersaing dengan Prabowo.

Prabowo sendiri dikabarkan tidak akan mau lagi bergandengan dengan Gibran Rakabuming Raka untuk maju pada Pilpres 2029. Putra sulung Jokowi itu terlalu banyak masalah. Bukan hanya masalah kualitas, tapi juga masalah administrasi. 

Pasca putusan MK soal ijazah Gibran, posisi wakil presiden itu benar-benar dalam keadaan terpuruk. Wibawanya hancur lebih. Ia terus nenjadi korban bullying di media sosial.

Situasi itu yang membuat Jokowi  harus bekerja all out untuk bisa kembali memperkuat dinasti politiknya menjelang Pemilu 2029. Maka itu ia bertekad akan bekerja keras untuk PSI.

Pengakuan Jokowi yang siap berjuang bersama PSI kembali disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Bandung di Grand Pasundan, Jalan Peta, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Jokowi menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) PSI untuk membuktikan status keanggotaannya. Ia mengatakan telah menjadi bagian dari partai tersebut sejak hampir setahun sebelumnya, meskipun belum semua pihak mengetahui atau mempercayai informasi itu.

“Bahwa saya itu sudah masuk menjadi keluarga besar PSI sejak 14 Oktober 2025. Sudah setahun yang lalu. Banyak yang enggak percaya, saya sekarang buka saja kartu anggota saya ini,” kata Jokowi di hadapan kader PSI.\

Keputusan Jokowi tampil sebagai figur utama PSI menunjukkan kalau ia akan memboyong semua keluarganya  bergabung di partai itu. Sejauh ini hanya Bobby  yang belum bergabung di PSI, tapi itu hanya menunggu waktu. Ketika Gerindra memilih sosok lain untuk maju pada Pilkada Sumut, di situlah Bobby akan memutuskan pindah dari partai itu.

Dengan kata lain, status Bobby di Gerindra hanya berlaku selagi  partai itu mendukungnya sebagai gubernur, termasuk pada Pilkada 2029. Jika tidak, maka hubungan itu pasti akan tutup buku.

Yang pasti, Pilkada 2029 tidak akan mudah untuk Bobby. Selain ia tidak lagi merupakan figur sentral kekuasaan, keberadaan 'Partai Coklat' yang selama ini menjadi kekuatan utamanya di akar rumput juga tidak lagi bisa diandalkan. Partai-partai besar juga belum tentu mau mengusungnya mengingat pengaruh Jokowi sudah menurun jauh.

Lagi pula bakal ada banyak figur berkualitas lain yang bakal maju pada Pilkada gubernur Sumut nanti. Salah satunya Musa Rajekshah yang dikabarkan bakal pindah partai dari Golkar demi mendapatkan lokomotif baru bersaing merebut kursi Gubernur Sumut. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini