![]() |
| Nusron Wahid, tokoh NU yang melarikan diri ke Singapura dan Malaysia saat dipanggil oleh KPK dalam kasus korupsi di Kementerian ATR/BPN |
KPK telah melakukan pemanggilan dua kali terhadap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus korupsi yang terjadi di kementeriannya. Namun dua kali pula Nusron membuang surat panggilan itu ke tong sampah. Malah saat pemanggilan kedua, Nusron memilih melarikan diri ke Singapura dan Malaysia.
Alasannya, akan menjalankan tugas. Namun tidak jelas, tugas apa yang dilakukan di negeri jiran itu. Selama ini urusan pertanahan sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan luar negeri.
Bisa dipastikan, Nusron sengaja ke luar negeri untuk menghindari panggilan dari KPK itu, sebab ia tahu bahwa sangat kecil peluangnya untuk bisa membela diri dari kasus korupsi itu. Tiga sahabat dekatnya sudah dijadikan sebagai tersangka, dan mereka semua sudah buka-bukaan soal keterlibatan Nusron dalam kasus itu.
Makanya, hanya tinggal menunggu waktu bagi Nusron untuk menjadi tersangka. Tokoh NU itu bakal dijeploskan ke penjara dalam kasus mafia perizinan di kementeriannya. Namun Nusron tetap saja berusaha melawan panggilan KPK itu dengan berbagai alasan tak masuk akal.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi mengungkap jejak perjalanan Nurson Wahid ke Singapura dan Malaysia. Ia mengatakan, perjalanan Nusron mulanya dimulai ke Singapura melalui Pelabuhan Batam, Kepulauan Riau.
"Minggu lalu kalau tidak salah, kami termonitor beliau ke Singapura melalui Batam," kata Hendarsam setelah pembukaan Diseminasi Kebijakan Kartu Perjalanan Bisnis APEC di Jakarta, Selasa (20/10) .
Setelah di Singapura, kata Hendarsam, Nusron menuju Malaysia untuk menghadiri acara. Menurutnya, Nusron ditemani sejumlah petugas.
"Ya, sempat ke Malaysia. Ada kegiatan dinas di sana. Jadi, ditemani oleh beberapa petugas," ujarnya. Namun, Hendarsam belum mengetahui apakah Nusron sudah pulang ke Indonesia atau belum.
"Saya belum terinfo beliau (Nusron) sudah ada di Indonesia atau belum," katanya.
Hendarsam mengatakan Imigrasi belum menerima permohonan dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait untuk melakukan pencekalan terhadap Nusron.
"Sampai saat ini belum, belum ada," kata Hendarsam saat ditanya apakah Imigrasi telah menerima permohonan dari KPK.
Ia menjelaskan Imigrasi bertindak sebagai pelaksana teknis yang menjalankan permintaan atau permohonan dari instansi terkait, termasuk aparat penegak hukum dan kementerian.
"Jadi sebagai pelaksana teknis, kami hanya menjalankan permintaan atau permohonan dari instansi terkait, dari APH, dari kementerian dan lain-lain. Sepengetahuan kami sampai dengan saat ini belum ada," ujarnya.
Sebelumnya, Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menduga Nusron bepergian ke luar negeri untuk menghindari pemeriksaan KPK pada Kamis (15/10).
Boyamin menyebut Nusron berangkat dari Jakarta menuju Batam pada Rabu (14/10), sehari sebelum jadwal pemeriksaan. Dari Batam, Nusron disebut melanjutkan perjalanan ke Singapura menggunakan kapal, kemudian menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia.
KPK sebelumnya menyatakan tengah mempertimbangkan langkah lanjutan terhadap Nusron setelah dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penyidik akan mempertimbangkan upaya yang diperlukan agar proses penegakan hukum berjalan efektif.
Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk dan penerimaan lainnya di lingkungan Kementerian ATR/BPN. KPK telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam perkara tersebut.
KPK rencananya akan melakukan panggilan paksa ke Nusron dalam beberapa hari ke depan. Jika panggilan itu dipenuhi, kemungkinan Nusron akan langsung ditahan.
Sementara sejumlah tokoh NU yang selama ini diduga ikut menikmati uang korupsi Nusron Wahid tidak mau bersuara. Mereka lepas tangan seakan tidak tahu kasus itu. Malah Nusron sudah dicampakkan dari daftar calon pengurus.
Padahal semula Nusron digadang-gadang akan jadi Sekjen PBNU. Namun kini semua tinggal angan-angan sebab kawan-kawasan Nusron di NU masing-masing membersihkan diri. ***
