-->

Belum lagi Musda Golkar Digelar, Doli sudah Tunjukkan Sikap Anti Terhadap Ijeck

Sebarkan:

Ahmad Doli Kurnia dan Ijeck
Tanda-tanda Plt Ketua Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tanjung berupaya menjegal Musa Rajekshah alias Ijeck pada musyawarah Daerah (Musda) mendatang sudah mulai tampak ketika ia berupaya mengkritik kepemimpinan Ijeck di partai itu selama lima tahun terakhir. Doli menilai, ada banyak kelemahan yang diperlihatkan Ijeck selama masa kepemimpinan Ijeck.

Kelemahan itu, kata Doli, antara lain soal tidak terakomodirnya sejumlah kader partai dalam kepengurusan. Akibatnya banyak kader yang mengeluh karena seakan terbuang selama kepemimpinan Ijeck.

“Beliau tidak bijaksana sehingga banyak kader yang tidak terakomodir,” kata Doli.

Kelemahan lain, terjadinya perpecahan di tubuh Golkar Sumut sehingga muncul kubu pro Ijeck dan anti Ijeck. Perpecahan itu berpotensi mengganggu Golkar Sumut dalam mendekatkan diri kepada masyarakat.

“Pemimpin partai tidak bisa seperti itu,” kata Doli.

Yang mengejutkan, Doli juga mengaku sudah membahas masalah keberlanjutan Golkar Sumut kepada Ijeck tidak lama setelah ia ditunjuk sebagai Plt Ketua.

“Saya sudah  berkomunikasi dengan Beliau,” ujar anggota DPR RI itu.

Pernyataan Doli ini langsung dibantah keras oleh Ijeck. Dengan tegas mantan wakil gubernur Sumut itu mengatakan kalau Doli sosok pembohong.

“Soal dia mengaku sudah berkomunikasi dengan saya setelah ditunjuk sebagai Plt Ketua, itu sangat tidak benar.  Kami sama seklai tidak pernah berbicara langsung ataupun melalui telepon terkait masalah Golkar Sumut. Dia pembohong,” tegas Ijeck.

Adapun mengenai tuduhan Doli soal tidak terakomodirnya kader dalam kepengurusan Golkar selama lima ini tahun belakangan ini, menurut Ijeck, pernyataan itu sama sekali tidak berdasar. Ijeck lantas balik bertanya kader mana yang tidak terakomodir.

“Sebenarnya yang mana yang tidak terakomodir? Jumlah pengurus DPD Golkar Sumut periode saya mencapai sekitar 200 orang dan itu yang terbanyak,” katanya.

Dijelaskan Ijeck, justru selama periode kepemimpinannya, jumlah kader Golkar Sumut meningkat signifikan. Berdasarkan data internal, jumlah kader yang hanya 44.407 pada 2017, meningkat drastis menjadi 241.273 pada 2023.

“Lalu apakah sebanyak itu semuanya harus diakomodir dalam struktur? Itu tidak mungkin secara organisasi,” jelas Ijeck.

Terkait soal munculnya konflik internal di Golkar Sumut, menurut Ijeck, itu merupakan dinamika partai politik. Dalam kepengurusan kepartaian, tetap saja ada yang pro dan kontra. 

“Semua partai seperti itu, jadi tidak perlu terlalu mendramatisir,” Ujar Ijeck.

Selama kepemimpinannya,  Ijeck mengaku semua pengurus solid dan keutuhan partai tetap dikedepankan. Artinya kepengurusan Golkar Sumut baik-baik saja.

"Selama saya memimpin tidak pernah ada kader yang bertengkar atau pecah. Kami justru menjaga nama baik partai, bukan membuat opini yang tidak benar,” ujarnya. Terbukti pencapaian Golkar Sumut sangat signifikan pada Pemilu lalu.

Sebagai perbandingan, pada Pemilu 2019 sebelum Ijeck memimpin partai itu, perolehan kursi Golkar di seluruh kabupaten/kota di Sumut hanya 184 kursi. Di masa kepemimpinan Ijeck, perolehan itu melonjak tajam menjadi 208 kursi di semua DPRD kabupaten/kota.

Begitu juga di tingkat provinsi, terjadi kenaikan cukup signifikan dari 15 kursi pada Pemilu 2019 menjadi 22 kursi pada Pemilu 2024 lalu. Dengan demikian Golkar berhasil meruntuhkan dominasi PDIP Sumut yang selalu menjadi jawara dalam beberapa pemilu sebelumnya. Pencapaian itu membuat Golkar berhasil meraih posisi Ketua DPRD Sumut.

Perolehan suara Golkar di DPR RI tidak kalah hebatnya. Pada Pemilu 2019 Golkar Sumut hanya mendapatkan empat kursi, tapi di masa kepemimpinan Ijeck perolehan meningkat jadi 8 kursi. Dengan prestasi yang cukup mengkilap ini tidak heran jika menguat dukungan agar Ijeck kembali duduk sebagai Ketua Golkar Sumut periode 2025-2030.

Dengan pencapaian itu, Ijeck menilai Doli terlalu mengada-ngada kalau menudingnya tidak bijaksana dalam memimpin Golkar Sumut. Yang terjadi, justru Ijeck mencurigai ada upaya pembusukan yang dilakukan Doli terhadap dirinya menjelang Musda mendatang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Doli dan Ijeck sebenarnya berselisih dalam politik. Saat Ijeck terpilih sebagai ketua Golkar Sumut pada Musda 2020, Doli termasuk yang keras menentangnya.

Doli menilai Ijeck bukanlah kader Golkar sejati karena ia tidak mengikuti proses pengkaderan sejak awal. Di mata Doli, Ijeck naik ke panggung Ketua Golkar Sumut semata-mata karena hubungan baiknya dengan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan kehormatan Golkar yang mendukungnya naik sebagai Ketua Golkar Sumut.

Posisi Ijeck sebagai Wakil Gubernur Sumut kala itu juga dinilai sangat menguntungkan Golkar, di samping ia dianggap punya dukungan finansial yang kuat.

Doli semakin kesal, sebab naiknya Ijeck sebagai ketua Golkar menyingkirkan Yasir Ridho yang merupakan sahabat karib Dalo.

Dendam politik itu yang kabarnya membuat Doli diam-diam berupaya menjegal Ijeck. Apalagi Ketua Umum Golkar,  Bahlil Lahadalia mendukung langkah itu karena selama ini Ijeck dianggap lebih dekat kepada Airlangga Hartarto, Ketua Umum Golkar yang lama, yang merupakan lawan politik Bahlil.

Upaya Doli membongkar kejelekan Ijeck juga menjadi bagian untuk merusak citra lawan politiknya itu. Tampak jelas kalau Doli sedang berupaya menjatuhkan citra Ijek agar ia tidak terpilih lagi pada Musda Golkar Januari mendatang.

Mencuat kabar kalau Doli dan Bahlil sedang menyiapkan kursi ketua Golkar Sumut kepada Hendriyanto Sitorus, yang saat ini menjabat Bupati Labuhanbatu Utara. Setidaknya langkah itu terlihat dengan keabraban yang ditunjukkan oleh Doli dengan Khairuddin Syah Sitorus alias Haji Buyung, mantan Bupati Labuhanbatu Utara (Labura) periode 2016-2021. 

Haji Buyung merupakan tokoh senior Golkar.  Ia juga merupakan tokoh senior Golkar yang cukup disegani di Sumut. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini