Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh,
Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung November lalu telah
meninggalkan duka mendalam karena jumlah korban meninggal dunia mencapai 776
orang dan 564 lainnya masih hilang. 
Situasi Tapanuli tengah saat terkena bencana dipantau menggunakan drone
Meskipun cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi menjadi pemicu bencana itu, namun pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Agus Maryono mengingatkan bahwa besarnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana ini disebabkan oleh kombinasi multifaktor, bukan hanya faktor meteorologi semata.
“Jadi kalau dikatakan bahwa bencana itu hanya karena factor cuaca ekstrim, jelas itu salah,” kata Agus Maryono. Pernyataannya ini sekaligus membantah ucapan Gubernur Sumut Bobby Nasution yang mengatakan bahwa bencana Sumut cukup parah karena factor cuaca ekstrim.
Bisa dipahami, Bobby adalah sosok pemimpin yang tidak terlatih dari bawah. Ia adalah titipan mertuanya untuk memimpin Sumut. Dari segi pengalaman, anak mud aini jelas tidak paham pemerintahan dan leadership. Ia naik ke panggung politik berkat perkawinan.
Tanpa menikah dengan putri Jokowi, Kahiyang Ayu, Bobby bukanlah siapa-siapa. Ia tidak banyak dikenal warga Sumut. Apalagi hidupnya lama dihabiskan di Lampung, Kalimantan dan Jawa. Jadi pemahaman Bobby tentang pemerintahan sangat minim. Ia pun tidak menguasai ilmu di bidang lingkungan.
Tak heran jika Bobby dengan mudahnya mengatakan bahwa bencana yang terjadi di Sumut semata-mata factor cuaca ekstrim.
Agus Maryono meluruskan pernyataan itu. Menurut Agus, dampak luar biasa dari banjir bandang ini mengindikasikan adanya faktor lain di luar cuaca ekstrem.
“Jika hanya karena faktor cuaca ekstrim, (dampak) banjirnya tidak sejauh itu ya, tetapi ini banjirnya kan sangat luar biasa,” ujar Agus pada Rabu (3/12).
Menurutnya, bencana ini dipengaruhi oleh kombinasi dari faktor meteorologi berupa curah hujan yang ekstrem, faktor geografi dan geologi (bentang lahan yang rentan), faktor hidrolik (terjadi penyumbatan pada saluran hidrolik), dan kerusakan lingkungan, yaitu Dampak pembalakan hutan yang menyebabkan peningkatan kapasitas run off (limpasan air hujan) di permukaan tanah.
Agus menjelaskan bahwa kondisi hutan-hutan gundul di beberapa wilayah turut menjadi penyebab utama kenaikan run off yang signifikan sehingga memicu terjadinya banjir yang sangat besar, ditambah dengan adanya longsoran atau penyumbatan alami di sepanjang sungai menengah atau kecil.
Bencana di Sumatera ini telah menelan korban jiwa ratusan orang di tiga provinsi, yaitu:
- Aceh: 277 meninggal, 193 hilang.
- Sumatera Utara: 299 meninggal, 159 hilang.
- Sumatera Barat: 200 meninggal, 212 hilang.
Total sampai Kamis 4 Desember 2025, sebanyak 776 meninggal dunia, 564 hilang, dan 2.600 luka-luka.
Melihat skala dampak yang luas dan kompleksitas penanganan Anggota Komisi VIII DPR RI Hasan Basri Agus (HBA) mendesak pemerintah pusat untuk segera menetapkan bencana ini sebagai Bencana Nasional.
“Melihat skala dampak yang begitu luas, mulai dari korban jiwa yang tinggi, jumlah pengungsi yang masif, hingga kerusakan infrastruktur krusial. Langkah ini telah menjadi kebutuhan yang mendesak,” kata HBA, Rabu (3/12).
Penetapan status Bencana Nasional diharapkan dapat mengoptimalkan sumber daya, anggaran, dan tenaga ahli dari seluruh Indonesia secara lebih terpusat dan cepat untuk mendukung upaya tanggap darurat, evakuasi, dan rehabilitasi.
Rekomendasi Penanganan Jangka Pendek dan Preventif Prof Agus Maryono menekankan bahwa langkah utama yang harus diprioritaskan pemerintah saat ini adalah penanganan evakuasi korban, baik yang selamat, luka-luka, maupun yang masih hilang.
Setelah fase evakuasi, pemerintah harus segera melakukan tanggap darurat untuk pemulihan seperti membangun kembali fasilitas publik, jembatan, dan perumahan, dengan memperhatikan dampak-dampak yang terjadi.
Untuk upaya preventif jangka panjang, Agus menyarankan penerapan pembangunan yang ramah lingkungan melalui ekohidrolik.
"Cara-cara ekohidrolik, misalnya sungai-sungai yang melebar itu ya harus ditanami dengan tanaman-tanaman yang cepat tumbuh sehingga sedimennya bisa dihentikan. Fungsinya untuk menstabilkan lereng-lereng sungai,” jelasnya. **