-->

Diperlakukan bak Binatang oleh Trump, Presiden Venezuela dan Istrinya Disidang di New York

Sebarkan:

Presiden Venezuela Nicolas Maduro setibanya di New York, AS.
Seminggu setelah ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores langsung diajukan ke persidangan yang berlangsung di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Dalam persidangan itu, Maduro dituding terlibat kartel obat terlarang. Namun ia menolak semua tuduhan itu.

Maduro sendiri tetap mengaku bahwa sampai saat ini ia masih menjabat Presiden Venezuela dan mengaku tidak bersalah atas tuduhan yang dikenakan terhadapnya di pengadilan Amerika Serikat pada Hari Senin.

Maduro (63) mengaku sama sekali tidak pernah terkait atas empat dakwaan criminal, yaitu terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan alat peledak. Rakyat Venezuela juga masih sangat percaya kepadanya. Bahkan sejumlah warga Amerika menolak penangkapan Maduro itu.

Saat persidangan berlangsung, puluhan demonstran, baik pro- maupun anti-Maduro, berkumpul di luar gedung pengadilan sebelum sidang setengah jam tersebut. Mereka menuntut agar Maduro segera dibebaskan. Presiden Amerika Donald Trump tidak boleh seenaknya menangkap pimpinan negara manapun tanpa ada bukti kesalahan yang jelas.

Maduro sendiri tidak pernah mengaku tunduk kepada Amerika. Ia menolak semua tuduhan yang diajukan Trump.

"Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya," kata Maduro melalui penerjemah, sebelum dipotong oleh Hakim Distrik AS Alvin Hellerstein, melansir Al Arabiya dari Reuters (6/1).

Sementara itu, istri Maduro yang ikut ditangkap pada akhir pekan lalu, Cilia Flores, juga mengaku tidak bersalah.

Pada Senin pagi, Maduro – dengan tangan terikat – dan istrinya dikawal oleh penjaga bersenjata dengan perlengkapan taktis dari pusat penahanan Brooklyn ke helikopter yang menuju pengadilan federal Manhattan.

Gambaran suasana persidangan Nicolas Maduro dan istrinya
Hakim memulai sidang pada pukul 12:02 siang waktu setempat dengan meringkas dakwaan. Maduro, dengan pakaian penjara berwarna oranye dan krem, mendengarkan melalui headphone melalui penerjemah. Hellerstein meminta Maduro untuk berdiri dan mengkonfirmasi identitasnya. Dia menjawab dalam bahasa Spanyol.

Hakim memberi tahu pasangan itu tentang hak mereka untuk memberi tahu konsulat Venezuela tentang penangkapan mereka.

Jaksa penuntut mengatakan Maduro telah terlibat dalam perdagangan narkoba sejak ia mulai menjabat di Majelis Nasional Venezuela pada tahun 2000 hingga masa jabatannya sebagai menteri luar negeri dan pemilihan berikutnya pada tahun 2013 sebagai pengganti mendiang presiden Hugo Chavez.

Pengacara Maduro, Barry Pollack, mengatakan ia mengantisipasi litigasi yang besar dan kompleks atas apa yang disebutnya sebagai "penculikan militer" kliennya. Ia mengatakan Maduro tidak meminta pembebasannya, tetapi mungkin akan melakukannya di kemudian hari.

Sedangkan pengacara Flores, Mark Donnelly, mengatakan kliennya mengalami cedera signifikan termasuk memar parah di tulang rusuknya dan meminta agar ia diberikan rontgen dan evaluasi fisik. Rencananya, sidang berikutnya akan digelar pada 17 Maret mendatang.

Jaksa federal di New York pertama kali mendakwa Maduro pada tahun 2020 sebagai bagian dari kasus perdagangan narkoba yang telah berlangsung lama terhadap pejabat Venezuela saat ini dan mantan pejabat serta gerilyawan Kolombia.

Dakwaan yang diperbarui dan dipublikasikan pada hari Sabtu menambahkan beberapa detail baru dan terdakwa lainnya, termasuk Cilia Flores.

Maduro dituduh mengawasi jaringan perdagangan kokain yang bermitra dengan kelompok-kelompok kekerasan termasuk kartel Sinaloa dan Zetas Meksiko, pemberontak FARC Kolombia, dan geng Tren de Aragua Venezuela.

Pemimpin Venezuela itu telah lama membantah tuduhan tersebut, mengatakan itu hanyalah kedok untuk rencana imperialis atas cadangan minyak Venezuela yang kaya. Maduro yakin sekali bahwa yang dikejar Trump adalah cadangan minyak di negaranya. 

Makanya Trump terus berupaya mencari dalil untuk menguasai negara itu. Melalui pasukan elitnya, Trump tidak hanya menangkap Maduro, tapi juga memberlakukannya seperti binatang. Maduro dianiaya, dirantai, diikat dan dipertontonkan di media sebagai seorang pesakitan yang tak berdaya. 

Bayangkan, seorang presiden yang dicintai rakyatnya justru diperlakukan sangat tidak manusiawi. betapa busuknya Trump itu.

Aksi demonstrasi di luar persidangan menuntut pembebasan Maduro 
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak merahasiakan keinginannya untuk berbagi kekayaan minyak Venezuela. Saham perusahaan minyak AS melonjak pada Hari Senin, didorong oleh prospek akses ke cadangan minyaknya yang luas.

Negeri Paman Sam telah menganggap Maduro sebagai diktator yang tidak sah, sejak ia menyatakan kemenangan dalam pemilihan tahun 2018 yang diwarnai oleh tuduhan penyimpangan besar-besaran. Namun dibalik semua tuduhan Amerika itu, sebenarnya ada mimpi besar dari Trump, yakni ingin menguasai sumber daya alam Venezuela.

Kalau saja trump bisa menguasai sumber minyak di negara itu, maka kekayaannya akan  berlimpah karena sumber minyak di Venezuela disebut-sebut yang terbesar di dunia. Amerika telah  berhasil melakukan misi yang sama di Kuwait  beberapa tahun lalu. Ke depan Amerika juga akan menguasai minyak Iran melalui invasi ke negara itu. (reuter/US today)

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini