![]() |
| Bobby Nasution membungkuk tunduk saat bersalaman dengan Staf Khusus Presideen Hashim Djojohadikusumo yang mengunjungi Sumut pada Minggu 11 januari 2026 |
“Saya siap menelpon Menteri manakala untuk suara rakyat di Medan,” katanya suatu ketika saat berkampanye pada Pilkada 2020.
Kala itu, Bobby baru saja terjun dalam dunia politik memanfaatkan buah pernikahannya dengan Kahiyang Ayu, putri Jokowi. Tanpa pernikahan itu, pasti tidak banyak orang Sumut yang mengenal Bobby karena ia memang sangat jarang tinggal di wilayah ini.
Bantuan kekuasaan pula yang membuat Bobby bisa menang pada Pilkada Walikota Medan 2020.
Mertuanya, Jokowi mengerahkan semua Lembaga negara untuk memenangkan menantunya itu untuk merebut jabatan walikota Medan. Bahkan aparatur kepolisian termasuk yang ikut dalam permainan itu.
Gerak lembaga polisi dalam membantu kampanye Bobby memunculkan istilah hadirnya ‘Partai Coklat’ dalam meramaikan Pilkada Indonesia. Peran Partai Coklat ini begitu mencolok di Sumut sehingga akhirnya Bobby begitu mudah mengalahkan setiap pesaingnya.
Saat menjabat Walikota Medan, pengaruh Bobby sangat besar karena semua orang pasti akan memandang adanya kehadiran mertua yang berada di belakangnya. Tidak hanya pejabat daerah, bahkan pejabat setingkat menteri pun segan kepada Bobby.
Ketika para menteri datang ke Sumut, biasanya mereka akan menyempatkan diri bertemu dengan Bobby karena tahu betapa kuatnya dukungan Jokowi untuk menantunya itu. Setidaknya itu sebagai upaya untuk menarik simpatik Jokowi.
Tak satupun lembaga hukum negara yang berani mengusik proyek yang di jalankan Bobby, meski proyek itu hancur-hancuran. Pokoknya hukum tak akan berjalan menghadapi keluarga Jokowi.
Kalau ada hukum yang bertentangan dengan keinginan keluarga itu, aturan hukumnya yang harus diubah, bukan keluarga mereka yang ditegur.
Prabowo Subianto saat menjabat Menteri Pertahanan, juga pernah menyempatkan diri berkunjung ke rumah Bobby Nasution sewaktu bertugas di Medan. Bisa dikatakan, saat itu Bobby adalah walikota serasa putra mahkota. Posisinya seakan lebih tinggi dari seorang menteri. Ia siap main tebas kepada siapapun yang melawan kehendaknya.
Ada sebuah kisah ketika Bobby Nasution mengalihkan pengelolaan Taman Cadika Medan, dari semula yang ditangani Dinas Pertamanan dan Kebersihan ke Dinas Pemuda dan Olahraga. Banyak pegiat Pramuka Medan kecewa dengan kebijakan itu karena aktivitas mereka menjadi terhambat.
Dalam sebuah kesempatan dialog, seorang anggota Pramuka Medan pernah meminta agar Bobby sebaiknya mengembalikan pengelolaan Taman Cadika kepada Dinas Pertamanan agar bisa dimanfaatkan lagi untuk kegiatan Pramuka. Namun Bobby marah dengan permintaan itu. Ia tegas menolak.
Tak hanya sekedar menolak, diam-diam anggota Pramuka yang protes itu diseret oleh ajudan Bobby, yang merupakan anggota pengawal presiden (Paspampres), ke sebuah tempat yang sepi, masih di sekitar Taman Cadika. Anak remaja itu dipukuli hingga wajahnya memar-memar.
Tak satupun yang berani menolong anak itu karena petugas Paspampres yang menganiaya tampak sangat bringas. Anak pramuka itu hanya bisa menangis dan mengeluh tanpa berani bersuara secara terbuka mengadukan kasus penganiayaan yang dialaminya.
Begitulah gambaran betapa berkuasanya Bobby di masa mertuanya masih menjabat presiden.
Sekarang situasinya sangat berbeda. Bobby tidak lagi mendapat pengawalan dari Paspampres karena ia tidak lagi menjadi bagian dari keluarga presiden. Mertuanya telah pensiun. Pengawalan dari Paspampres hanya diberikan kepada mantan presiden dan istrinya, tidak kepada anak dan menantu.
Sikap Bobby pun tidak seperti dulu lagi. Ia sadar, ia tidak lagi bak seorang putra mahkota yang disengani para menteri. Bahkan dana transfer daerah (TKD) untuk Provinsi Sumut ikut dipotong Menteri Keuangan.
Bobby sudah pernah menyampaikan protes atas pemotongan ini. Tapi protesnya sama sekali tidak digubris.
Bobby pun tidak kuasa melawan kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berpikir lebih rasional. Berbeda dengan Menteri keuangan sebelumnya, Sri Mulyani yang cenderung menurut saja apa kehendak Jokowi dan keluarganya.
Ya, kalau dulu mungkin tidak ada yang ditakuti Bobby. Malah menteri yang takut kepadanya. Sekarang, Bobby mulai sadar diri bahwa kekuatannya tidak seperti dulu lagi.
Saat ini Bobby berstatus sebagai kader Partai Gerindra. Namun harus dipahami, sebagai kader Gerindra, ia sama sekali tidak punya kuku di partai karena statusnya hanya sebagai anggota biasa. Ia bisa dipecat kapan saja kalau dianggap melanggar aturan.
Makanya, Bobby sangat takut dengan presiden saat ini, Prabowo Subianto yang juga merupakan ketua umum Partai Gerindra. Bobby sadar, masa depannya di dunia politik sangat bergantung kepada dukungan dari Prabowo setelah mertuanya tidak lagi berjaya.
Sementara mertuanya sendiri kini menghadapi banyak tekanan public akibat dusta-dusta yang ia tebar saat masih berkuasa.
Jokowi memang terkenal sebagai sosok pemimpin yang suka berdusta, Sampai-sampai ia diberi julukan ‘The King of Lip service’ oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Status itu masih berlaku sampai sekarang. Bahkan mungkin selamanya.
Bobby pun sadar bahwa kekuatannya di dunia politik tidak sekuat dulu. Satu-satunya kekuatan riil yang diandalkannya saat ini adalah dari iparnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Namun Gibran sendiri tidak kunjung usai diterpa kritik karena ketidakmampuannya sebagai seorang pemimpin. Yang sering terjadi, Gibran justru menjadi topik olok-olokan public.
Bobby harus cerdas membawa realita ini. Maka, tidak ada pilihan, ia harus patuh dan tunduk kepada setiap kebijakan pemerintah pusat. Ia tidak akan berani melakukan manuver yang bisa mengusik pemerintahan Prabowo.
Dalam hal penanganan bencana, Bobby tidak berani melakukan langkah apapun untuk bisa mengundang perhatian lebih besar dari pemerintah. Ia sepenuhnya menuruti saja apa yang diputuskan pusat dalam mengatasi bencana di Sumut.
Berbeda dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang begitu sigap melakukan langkah-langkah sigap guna memberi tekanan kepada Pemerintah pusat agar memberi perhatian lebih kepada Aceh. Hasilnya, Mualem, panggilan sang gubernur, sukses mengundang perhatian Prabowo untuk memberi perhatian lebih tinggi dalam penanganan bencana di wilayah itu.
Mualem juga bisa mengundang sejumlah tokoh politik nasional, seperti pimpinan DPR RI dan kalangan menteri, untuk menggelar rapat penanganan bencana di Aceh. Sedangkan Bobby pasti tidak mampu melakukan itu. Kalau ia terlalu maju, bisa-bisa bakal mendapat perlakukan yang memalukan.
Jadi jelas sekali kelas Gubernur Aceh, Mualem berada jauh di atas Bobby. Maklum, Mualem adalah politisi yang ditempa dengan gemuruh perang dan dentuman peluru. Ia sosok yang berpengalaman dalam memimpin pasukan. Mualem adalah pemimpin dari arus bawah yang tampil ke permukaan berkat perjuangan keras.
![]() |
| Presiden Prabowo saat mengunjungi kawasan bencana di Tapanuli Selatan banyak berdiskusi dengan AHY membahas pembangunan kawasan bencana, sementara Bobby hanya berada di belakang |
Bobby tak pernah terlibat dalam dunia politik sebelumnya. Ia pun tidak berpengalaman dalam berorganisasi. Hanya bergaul dalam lingkungan tertentu saja.
Pernikahan dengan Kahiyang yang membuatnya berani tampil sebagai pemimpin di masyarakat. Jika tidak, Bobby mungkin hanya seorang kontraktor yang mengincar proyek-proyek pemerintah sebagaimana yang digelutinya dulu.
Sebagai gubenur, Bobby bukan lagi sosok yang segani banyak orang. Malah ia yang harus segan kepada pejabat pusat karena sadar posisi politiknya sangat lemah. Salah satu yang ia sangat segani adalah Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim.
Hashim Djojohadikusumo bukan sosok sembarangan sebab ia adalah adik dari Presiden Prabowo. Meski menjabat staf khusus, namun ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar dalam pemerintahan.
Ketika Hashim berkunjung ke Sumatera Utara pada Minggu (11/1/2026) lalu, Bobby menyambutnya dengan penuh antusias. Ia membungkuk saat bersalaman dengan Hashim. Sadar bahwa ia berhadapan dengan sosok yang bisa menentukan masa depannya di politik.
Bobby butuh perhatian dari Hashim sebab belakangan ini Presiden Prabowo mulai mengabaikan Bobby. Saat Prabowo datang mengunjungi korban bencana di Sumut, Bobby tidak pernah mendapat tempat Istimewa. Prabowo lebih suka mendengar langsung suara dari arus bawah, bukan mendengarkan Bobby.
Kalaupun ada urusan di bidang pembangunan infrastruktur di Lokasi bencana, Prabowo akan berbicara langsung dengan Menteri Pekerjaan Umum atau Menteri Koodinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Bobby cukup duduk di belakang saja, siap-siap mendengarkan instruksi manakala ada perintah dari Prabowo. Jika tidak, ya, cukup menguping saja.
Walau posisi politiknya tidak sekuat dulu lagi, tapi Bobby tetap sangat berambisi untuk bisa bersaing lagi merebut jabatan gubernur Sumut pada Pilkada 2029 mendatang. Untuk meraih ambisinya itu, ia tetap berharap pada dukungan sang mertua yang masih memiliki pengaruh besar di Partai Golkar dan partai PSI.
Di Golkar, Jokowi masih bisa bersuara lantang karena ketua umum partai itu, Bahlil Lahadalia, adalah sosok yang memang dikarbit oleh Jokowi untuk tampil memimpin partai. Sudah ada perjanjian di antara keduanya, yakni, Jokowi mendukung Bahlil untuk duduk sebagai ketua umum Golkar, tapi Bahlil wajib mendukung langkah-langkah politik anak dan menantu Jokowi pada 2029.
Itupula sebabnya Bahlil harus menyingkirkan Musa Rajekshah dari jabatan ketua umum Golkar Sumut karena anak muda ini berpotensi menghalangi perjalanan politik Bobby ke depan. Hampir bisa dipastikan, pada Pemilu 2029, suara Golkar akan mengarah ke Bobby Nasution. Tentu saja PSI juga demikian.
Maka tak heran jika Bobby sudah punya modal yang cukup kuat untuk maju pada Pilkada mendatang. Kalau saja Gerindra tidak lagi mendukungnya, setidaknya PSI atau Golkar pasti siap menampung Bobby. Mari kita lihat apakah nanti Partai Coklat masih akan bermain untuk Bobby! ***

