-->

Hati-hati, Sudah Ditemukan Kehadiran Super Flu Cukup Berbahaya di Indonesia

Sebarkan:

 

Super flu merupakan penyakit yang saat ini menyita perhatian global seiring melonjaknya kasus influenza di berbagai negara. Varian virus flu yang disebut lebih agresif ini dilaporkan menyebar cepat di Amerika Serikat dan sejumlah wilayah belahan bumi utara, memicu kekhawatiran otoritas kesehatan.

Super flu diketahui merupakan bagian dari influenza A H3N2, tepatnya subclade K, yang kini menjadi strain dominan.

Melansir Today pada Jumat 2 Januari 2026, para ahli menilai musim flu tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan kasus tidak hanya terlihat dari jumlah infeksi, tetapi juga dari lonjakan rawat inap dan kematian, terutama pada kelompok anak-anak yang belum mendapatkan vaksin flu. Data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat (CDC) menunjukkan tren peningkatan tajam kasus influenza seiring memasuki puncak musim dingin.

Negara bagian New York mencatat rekor kasus flu tertinggi dalam satu minggu, dengan lebih dari 70 ribu kasus positif dan kenaikan rawat inap hingga 63 persen. Tekanan terhadap kapasitas rumah sakit pun semakin besar.

Para ahli menjelaskan, mutasi pada varian H3N2 subclade K membuat virus lebih mudah menghindari kekebalan tubuh dari vaksin atau infeksi sebelumnya.

Meski demikian, vaksin influenza tetap direkomendasikan karena dapat menurunkan risiko gejala berat. Masyarakat juga diimbau menjaga daya tahan tubuh dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu berat.

Sebelum mendominasi di Amerika Serikat, subclade K telah memicu lonjakan kasus di berbagai negara. Jepang menetapkan status epidemi influenza setelah mengalami musim flu yang datang lebih awal dan berlangsung lebih berat dari biasanya.

Di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari setengah wilayah mengalami musim flu yang intens akibat penyebaran varian ini. Inggris juga menghadapi salah satu musim dingin terburuk, dengan otoritas kesehatan memperingatkan dampak serius dari penyebaran influenza H3N2 subclade K, sebagaimana dilaporkan dalam jurnal BMJ.

Gejala ‘Super Flu’ yang Perlu Diwaspadai

Menurut laporan News Nation, gejala “super flu” mirip dengan influenza biasa, namun dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Gejala yang dilaporkan meliputi:

  •     Demam tinggi,
  •     Nyeri tubuh yang berat,
  •     Kelelahan ekstrem,
  •     Batuk yang terus-menerus,
  •     Sakit tenggorokan,
  •     Sakit kepala intens.

Superflu biasanya menunjukkan gejala dalam tiga hingga empat hari, mulai dari demam, sakit kepala, mual, hingga rasa tidak enak badan. Lansia, kelompok dengan imunitas rendah, serta tingkat kebugaran rendah menjadi kelompok paling berisiko karena rentan mengalami komplikasi serius, termasuk gangguan pembuluh darah dan serangan jantung.

Gejala-gejala ini dapat muncul bersamaan dan membuat penderita merasa lebih lemah dibandingkan flu musiman pada umumnya. Penyakit ini sudah ditemukan di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan sudah ada 62 kasus influenza subclade K atau 'Super Flu' di beberapa daerah.

Plt Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr Prima Yosephine menyebut, temuan 62 kasus influenza subclade K tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan pada 25 Desember 2026. Di sisi lain, tren influenza disebutnya justru menurun dalam 2 bulan terakhir.

Tak mengherankan jika kehadiran super flu mendapat sorotan dari DPR RI.  Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan adanya kasus influenza A H3N2 yang disebut sebagai super flu di Indonesia.

Meski saat ini belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), ancaman penyakit menular tersebut tidak boleh dianggap remeh. “Hal ini tidak boleh dianggap remeh, meskipun saat ini belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa,” ungkapnya, Jumat 2 Januari.

Dia menyebut, dari perspektif DPR RI, khususnya Komisi IX yang membidangi kesehatan, kewaspadaan dini menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit menular. Ia mengingatkan, pengalaman pandemi COVID-19 sebelumnya harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

“Pengalaman pandemi sebelumnya harus menjadi pelajaran bahwa sistem kesehatan harus selalu siap menghadapi potensi lonjakan penyakit menular, sekecil apa pun indikasinya di awal,” sambung Nurhadi.

Dia mendorong Kementerian Kesehatan untuk terus memperkuat sistem surveilans epidemiologi, meningkatkan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan, serta memastikan kesiapan layanan primer dan rumah sakit.

Upaya tersebut dinilai penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta. “Edukasi kepada masyarakat juga harus diperkuat agar tidak menimbulkan kepanikan, tetapi tetap meningkatkan kesadaran akan pencegahan, seperti menjaga kebersihan, etika batuk, dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala,” tambah Nurhadi.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini