-->

Muryanto Dilantik jadi Rektor Periode 2026-2031, USU Dikuatirkan Jadi Pusat Gerakan ‘Termul’

Sebarkan:
Muryanto Amin (berdiri memakai jas) bersama Agus Andrianto (duduk berbaju putih) bersama anggota Wali Amanat USU

Setelah melalui proses pemilihan yang berliku, akhirnya Prof Dr Muryanto Amin sah kembali menjabat sebagai Rektor USU untuk periode kedua, 2026–2031. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sumatera Utara (USU), Jenderal Polisi (Purn) Agus Andrianto, berlangsung di Auditorium USU, Rabu, 28 Januati 2026.

Tidak ada gejola dan tidak ada protes apapun selama berlangsung selama proses pelantikan itu. Semuanya berjalan mulus.

Hal ini berbeda tatkala proses pemilihan rektor berlangsung sejak September lalu yang penuh dinamika. Kala itu beragam aksi protes muncul seiring kuatnya posisi Muryanto untuk kembali terpilih sebagai rektor.

Muryanto menjadi sorotan karena namanya sempat dikait-kaitkan dengan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT)  korupsi yang ditangani KPK di Tapanuli bagian Selatan. Bahkan ia sempat dipanggil untuk menjalani pemeriksaan ketika itu.

Dua kali surat panggilan diajukan, tapi Muryanto tetap bergeming. Ia sama sekali tidak mengacuhkan panggilan itu. 

Yang terjadi kemudian, justru KPK gentar menghadapinya. Mencuat kabar bahwa ada orang besar yang ikut melobbi KPK agar berhenti melibatkan Muryanto dalam kasus korupsi itu.

Kalau Muryanto tetap diperiksa, bisa jadi kasusnya akan melebar ke mana-mana. Bisa jadi nama Bobby pasti akan disebut lagi. Padahal sejak awal KPK sendiri sudah berupaya untuk melindungi Bobby dalam kasus korupsi itu.

Demi melindungi Bobby, akhirnya nama Muryanto pun dibersihkan dalam kasus korupsi itu. Terbukti, setelah panggilan kedua, KPK sama sekali tidak pernah mengirimkan surat panggilan berikutnya untuk Muryanto.  Bahkan namanya sama sekali belum pernah disebut dalam proses persidangan kasus tersebut.

Tak pelak lagi, Muryanto pun bebas melenggang untuk terpilih kembali sebagai rektor USU periode 2026-2031.

Muryanto sendiri dikenal sebagai konsultan politik Gubernur Bobby Nasution. Ia cukup berperan bermain di balik layar membantu kampanye Bobby pada dua Pilkada di Sumut, yakni pada Pilkada Walikota Medan 2020 dan Pilkada Gubernur 2024.

Tentu Muryanto tidak bermain sendiri sebab kemampuannya dalam politik lebih banyak mengandalkan nama besar kampus, bukan kemampuan pribadi. Yang paling utama, ada ‘partai coklat’ -- sebutan untuk aktivitas polisi yang bermain pada Pilkada itu -- turut berperan membantu kampanye Bobby Nasution.

Mencuat kabar kalau partai coklat itu dikomandoi oleh Agus Andrianto yang kala itu masih aktif sebagai perwira tinggi ke Mabes Polri. Kolaborasi mereka ini berjalan mulus sehingga Bobby berhasil menang pada dua Pilkada yang diikutinya.

Tak heran, saat Muryanto menjabat sebagai rektor periode pertama, ia kemudian menunjuk Agus Andrianto menjabat sebagai Wali Amanat USU. Para anggota Wali Amanat USU lainnya yang  berjumlah 18 orang sebagian besar orang-orang dipilih dari kalangan pendukung Bobby Nasution dan genk Solo.

Dengan kata lain, anggota Wali Amanat USU sebagian besar merupakan ‘Ternak Mulyono’ -- istilah untuk mereka yang fanatic dalam mendukung mantan presiden Jokowi. Mulyono sendiri adalah nama kecil Jokowi, mertua Bobby Nasution.

Makanya, ketika poroses pemilihan rektor berlangsung Oktober lalu, suara mayoritas tetap diberikan kepada Muryanto Amin.  Ia tak tertandingi sejak proses pemilihan di tingkat senat akademik.

Dengan resminya dilantik Muryanto sebagai rektor USU periode kedua, sangat bisa dicurigai  USU akan menjadi salah satu kekuatan dalam mendukung kampanye Bobby pada Pilkada 2029 mendatang. Kalau saja Gibran jadi maju sebagai calon presiden, mungkin saja USU juga berada di belakangnya. 

Nama Muryanto Amin dan Agus Andrianto berpeluang membawa kabar bahwa USU akan merupakan bagian dari kekuatan Termul di wilayah Sumatera. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini