Mungkin tidak banyak yang tahu, sandal terlaris merek swallow
ternyata diproduksi di Medan. Cerita mengenai sandal ini menjadi perhatian
publik setelah pabriknya yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Medan Deli, Medan,
terbakar hebat sejak Selasa malam (27/1/2026) sehingga memaksa petugas kebakaran berjibaku untuk memadamkan apinya.
Kebakaran hebat melanda pabrik sandal Swallow di Jalan Yos Sudarso Medan sampai Rabu siang (28/1/2026) sehingga memaksa petugas Damkar harus bertarung melawan api hingga 15 jam
Pertarungan memadamkan api itu tidak mudah. Petugas Damkar membutuhkan waktu lebih dari 15 jam untuk bisa membuat api tak lagi menyala. Tidak ada korban jiwa, tapi kerugian diperkirakan miliaran rupiah karena hamper semua lokasi pabrik ludes dilalap api.
Kebakaran itu mengundang banyak cerita tentang sandal swallow yang sudah dianggap sebagai legenda di Indonesia. Sandal ini tidak hanya popular di Indonesia, tapi juga sudah ekspor ke berbagai belahan dunia. Dari Medan, sandal ini menjadi produk yang dibutuhkan banyak orang di berbagai negara. Tak heran jika sandal ini digeberi sebagai sandal sejuta umat
Swallow memang sangat popular sebagai merek sandal yang merakyat. Harganya relative murah dan enak dipakai. Kasus kebaran itu membuat publik semakin tertarik mengulik siapa sebenarnya pemilik pabrik sandal ini.
Data yang diperoleh Kajanberita.com, pemilik sandal Swallow adalah Amir Djohan yang mengembangkan usahanya ini melalui perusahaannya, PT Sinar Jaya Prakarsa sejak 28 Februari 1987.
Berdasarkan profil perusahaan, Amir Djohan kini berstatus sebagai pemilik sekaligus komisaris PT Sinar Jaya Prakarsa.
Sayangnya, tak banyak informasi mengenai Amir Djohan. Meski begitu, kisah suksesnya membangun pabrik sandal Swallow sudah terkenal.
PT Sinar Jaya Prakarsa mulai beroperasi dengan 500 karyawan. Seiring keberhasilan Swallow merambah pasar nasional, perusahaan ini terus berkembang hingga akhirnya bisa menyerap hampir 2000 pegawai.
Selain menambah jumlah tenaga kerja, PT Sinar Jaya Prakarsa juga sukses merakit mesin sendiri seperti mesin mixer karet intensif, mesin pelubang sandal, dan lainnya. Hal itu juga meningkatkan kapasitas produksi hingga hampir lima kali lipat dibandingkan saat awal pabrik beroperasi.
PT Sinar Jaya Prakarsa kini sudah memproduksi sandal karet Swallow dengan berbagai corak dan warna. Namun, tentu saja yang paling terkenal adalah model sandal Swallow klasik dengan alas berwarna putih polos dan jepitnya berwarna hijau, kuning, dan lain-lain.
Bisnis yang semakin berkembang juga membuat PT Sinar Jaya Prakarsa menambah pabrik dan kantor perwakilan di luar Jakarta.
Pabrik sandal Swallow kini tidak hanya ada di Medan, tapi juga ada di Semarang, dan Surabaya. Sandal Swallow juga diproduksi dengan menggunakan bahan dan teknologi berkualitas tinggi.
Dua bahan baku utama yang digunakan Swallow adalah karet alam kelas internasional dan EVA (Ethylene-Vinyl Acetate). Swallow juga bekerja sama dengan puluhan merek di Indonesia termasuk narasi, MR.DIY, Dufan, Ancol, hingga Taman Safari Indonesia.
PT Sinar Jaya Prakarsa juga sudah mengekspor sandal Swallow ke delapan negara, yakni Malaysia, Filipina, Somalia, India, Arab Saudi, Peru, Papua Nugini, dan Timor Leste.
![]() |
| Sandal Swallow yang sudah meegenda di Indonesia karena menjadi sandal sejuta ummat |
Seperti kebanyakan sandal karet di dunia, Swallow juga terinspirasi dari sandal tradisional Jepang yang disebut zori. Sandal sejenis ini pernah dipakai para tentara Amerika yang kembali dari Jepang setelah Perang Dunia II atau antara tahun 1939 dan 1945.
Zori terbuat dari jerami padi dan kayu berlapis pernis. Sandal ini sering digunakan bersama pakaian tradisional Jepang, yakni kimono. Namun, zori cenderung licin dan kaku. Seiring perkembangan industri manufaktur, karet dianggap lebih cocok menjadi sandal karena lentur, tidak licin, dan tahan lama.
Di Indonesia, sandal karet dipopulerkan oleh PT Sinar Jaya Prakarsa melalui produk mereka yang bernama Swallow. Nama dan logo Swallow merepresentasikan burung walet yang melambangkan kebebasan, pertumbuhan, dan kesetiaan. Tak heran jika logo sandal ini menggunakan gambar burung layang-layang.
Kebakaran pabrik sandal itu tentu saja membuat pemilik kelimpungan karena kerugian yang diderita cukup besar. Namun popularitas sandal ini tidak akan tergerus karena produksinya tetap berjalan. Kalaupun produksi di Medan terhambat akibat kasus kebakaran itu, tapi pabrik yang lain tetap bisa menghasilkan produk yang sama. (inilah)
