Ada kisah unik
tersisa dari Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sumut yang berlangsung di
Hotel JW Marriott, pada Minggu 1 Februari lalu, yakni ketidakhadiran Gubernur
Bobby pada acara itu. Selayaknya sebuah acara partai besar di tingkat provinsi ,
seharusnya gubernur hadir di acara itu. Apalagi Golkar adalah salah satu pendukung
utama Bobby pada Pilkada 2024.
Pembukaan Musyawarah daerah Golkar Sumut XI di Hotel JW Marriott 1 Februari 2026
Panitia sudah melayangkan undangan untuk Bobby agar berkenan datang saat pembukaan Musda yang dihadiri Wakil Ketua Umum DPP Golkar, TB Ace Hasan Syadzily. Kursi sudah disiapkan, layanan sebagai tamu VIP sudah diatur sebaik mungkin.
Anehnya, Bobby Nasution enggan hadir. Bahkan mengutus wakil pun ia tidak mau. Tak ada satupun pejabat dari Pemerintah Provinsi Sumut yang hadir di acara penting itu sebagai perwakilan dari eksekutif.
Meski demikian proses Musda tetap berjalan mulus. Walau sempat muncul riak-riak protes di luar ruangan, semuanya tetap bisa ditangani dengan baik. Proses pemilihan berlangsung kondusif hingga akhirnya sosok Andar Amin Harahap terpilih sebagai Ketua Golkar Sumut 2026-2031.
Namun soal ketidakkehadiran Bobby di acara itu tetap mengundang rasa penasaran dari banyak kalangan. Bayangkan, untuk musyawarah partai-partai kecil saja, biasanya selalu ada wakil Pemerintah Provinsi yang hadir sebagai perwakilan eksekusif.
Lihat saja kala berlangsungnya musyawarah PKS Sumut beberapa waktu lalu. Bobby memang tidak hadir, tapi ia mengutus Wakil Gubernur Surya sebagai refresentasi eksekusif di acara itu.
PKS juga termasuk partai pendukung Bobby pada Pilkada yang lalu. Dibanding Golkar, kekuatan PKS di DPRD Sumut jelas kalah jauh.
PKS hanya menguasai 9 kursi di DPRD Sumut, bandingkan dengan Golkar yang mengendalikan 17 kursi. Tapi anehnya Bobby sama sekali tidak menjadikan kekuatan itu sebagai landasan membangun jaringan politik. Ia dengan tegas mengabaikan undangan hadir di acara Musda Golkar tanpa penjelasan apapun.
Belum ada keterangan resmi dari Bobby mengenai ketidakhadirannya itu. Namun beredar kabar kalau Bobby kecewa sebab kandidat yang dijagokannya tidak berdaya di arena Musda tersebut.
Kandidat itu adalah Hendriyanto Sitorus yang saat ini menjabat Bupati Labuhanbatu Utara. Hendriyanto tidak bisa hanya dikatakan gagal, tapi ia justru telah mempermalukan diri di arena Musda itu.
Betapa tidak Hendriyanto sama sekali tidak mampu menggalang dukungan dari pemilik suara untuk bisa mengantarkannya terlibat dalam persaingan. Padahal ia sudah mendeklarasikan diri sejak setahun yang lalu sebagai salah satu kandidat Ketua.
Dari 39 pemilik suara, ternyata Hendriyanto hanya mendapat dukungan dari dua pemilik suara sah. Sementara pesaingnya Andar Amin Harahap sejak awal sudah menggotong 31 dukungan suara. Tak pelak lagi, saat pemilihan berlangsung hanya ada satu calon yang memenuhi syarat. Andar berjaya, sedangkan Hendriyanto tersungkur.
Hal ini yang kabarnya membuat Bobby kecewa berat. Padahal sudah ada scenario, kalau Hendriyanto terpilih sebagai ketua, kerjasama Golkar dengan Bobby akan dioptimalkan. Ada kemungkinan Hendriyanto akan diplot sebagai calon wakil gubernur untuk mendampingi Bobby pada Pilkada mendatang.
“Itu memang scenario yang berkembang di DPD Golkar Sumut. Makanya sejak awal upaya menempatkan Hendriyanto sebagai ketua sangat menguat dengan adanya dukungan kekuatan di luar partai,” kata salah seorang pengurus Golkar Sumut.
Tapi nyatanya Hendriyanto tidak diterima di akar rumput. Dari 33 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kabupaten/kota di Sumut, hanya satu daerah yang gigih mendukungnya, yakni DPD Golkar Labuhanbatu Utara. Itupun karena ketuanya adalah Hendriyanto sendiri.
Sementara mayoritas DPD Kabupaten/kota lainnya berpihak ke Andar Amin Harahap.
Hal ini yang kabarnya membuat Bobby sangat kecewa. Sejak awal ia sudah membaca peta kalau Hendriyanto tak berdaya di Musda itu. Makanya Bobby pun enggan datang.
Kekecewaan Bobby itu tentu bukan kepada arena Musda, tapi kepada Hendriyanto yang tak bisa bermain meski ruang gerak politik sudah dibuka begitu luas baginya.
Hendriyanto tadinya diramalkan bakal bersaing dengan Musa Rajekshah alias Ijeck pada Musda tersebut. Kalau ini yang terjadi, Hendriyanto pasti kalah sebab dukungan untuk Ijeck sangat kental dari berbagai daerah.
Makanya segala cara dilakukan pusat untuk menyingkirkan Ijeck dari ajang kompetisi itu. Sebelum Musda berlangsung, Ijeck dipindahkan sebagai pengurus DPP Golkar pusat sehingga ia tidak lagi diperbolehkan menjabat ketua Golkar di tingkat provinsi.
Ruang itu seharusnya bisa dimanfaatkan Hendriyanto untuk mendapatkan suara dari arus bawah. Namun kenyataannya, hal itupun tak bisa ia lakukan.
Suara dukungan untuk Ijeck ramai-ramai diberikan kepada Andar Amin Harahap yang namanya muncul sebagai kandidat dua pekan sebelum Musda berlangsung. Alhasil, Hendriyanto harus gigit jari. Bobby pun tidak lagi bisa melanjutkan scenario politik yang sudah dirancangnya.
Namun kita semua tahu, politik berjalan sangat dinamis. Perubahan apapun bisa terjadi ke depan. Komposisi pengurus DPD Golkar Sumut yang akan diumumkan Andar Harahap dalam waktu dekat setidaknya bisa memberi bacaan kepada public Sumut tentang perjalanan politik partai itu ke depan.
Kita akan lihat apakah jaringan Bobby masih diakomodir dalam kepengurusan partai itu. Kajianberita.com akan membedahnya nanti. ***