-->

Tak Naikkan Harga BBM, Negara Nombok Rp12 Triliun per Bulan

Sebarkan:

Keputusan Pemerintah yang tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tentu mendapat sambutan positif dari masyarakat. Namun dalam kalkulasi ekonomi, kebijakan itu berpotensi menjebol anggaran negara. Pemerintah, dalam hal ini PT Pertamina (Persero), diprediksi harus menanggung selisih harga keekonomian dan harga jual Pertamax sebesar Rp5.500/liter.

Pasalnya, saat ini harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi RON 92 itu ditahan di level Rp12.600/liter. Padahal dengan harga minyak dunia yang melonjak belakangan ini,  harga  keekonomian Pertamax diperkirakan Rp17.850/liter untuk periode April 2026.

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi berpendapat, dengan asumsi konsumsi BBM jenis bensin nonsubsidi sekitar 25 juta kiloliter (kl) per tahun, maka potensi selisih harga jual yang harus ditanggung Pertamina bisa mencapai Rp38—Rp140 triliun per tahun.

Sementara itu, jika dihitung dalam satu bulan, beban tersebut berada di kisaran Rp11—12 triliun per bulan.

“Jika dihitung bulanan, Pertamina nombok di kisaran Rp11—12 triliun per bulan, angka yang sangat signifikan bahkan untuk korporasi sebesar Pertamina,” kata Badiul ketika dihubungi, Rabu (1/4/2026).

Adapun, kalkulasi tersebut dilakukan Badiul mengutip dokumen perkiraan harga jual eceran BBM nonsubsidi atau Jenis BBM Umum (JBU) di Pertamina yang sempat beredar luas.

Dalam dokumen tersebut, dijelaskan bahwa kurs tengah melemah sekitar 0,34% atau Rp58/US$ dari Rp16.819/US$ menjadi Rp16.877/US$ pada periode 25 Februari 2055—24 Maret 2026 dibandingkan dengan 25 Januari—24 Februari 2026.

Dalam periode yang sama, harga indeks pasar (HIP) bensin RON 92 naik 62,44% menjadi US$46,15/barel dari US$73,91/barel menjadi US$120,06/barel. Besaran tersebut naik 62,99% atau setara Rp4.925/liter yakni dari Rp7.818/liter menjadi Rp12.744/liter.

Lalu, HIP Solar 2500 parts per million (ppm) naik 90,65% atau sekitar US$79,08/barel dari US$87,23/barel menjadi US$166,31/barel. Besaran itu, naik 91,3% atau sekitar Rp8.425/liter dari Rp9.228/liter menjadi Rp17.653/liter.

Lebih lanjut, dengan perkembangan tersebut disebutkan bahwa harga BBM jenis Pertamax bakal naik Rp5.500/liter menjadi Rp17.850/liter pada April dari harga bulan sebelumnya.

Lalu, harga Pertamax Green diklaim naik Rp6.250/liter menjadi Rp19.150/liter dari sebelumnya Rp12.900/liter. Kemudian, Pertamax Turbo naik Rp6.350/liter menjadi Rp19.450/liter dari Rp13.100/liter.

Sementara itu, Pertamina Dex disebut naik Rp9.450/liter menjadi Rp23.950/liter dari harga bulan sebelumnya sebesar Rp14.500/liter. Kemudian, Dexlite naik Rp9.450/liter menjadi Rp23.650/liter dari Rp14.200/liter.

Badiul memprediksi jika harga jual Pertamax ditahan sebesar Rp12.300/liter dalam jangka panjang, arus kas Pertamina bakal tergerus. Terlebih, kata dia, bisnis hilir migas memiliki margin keuntungan yang sangat tipis.

Akan tetapi, dalam jangka pendek, dia memprediksi Pertamina bakal melakukan pembiayaan silang dengan memanfaatkan kenaikan keuntungan dari lini bisnis hulu gegara melonjaknya harga minyak mentah dunia.

“Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan kebutuhan utang atau penarikan fasilitas pembiayaan, yang pada akhirnya berdampak pada rasio leverage dan persepsi risiko kredit perusahaan,” tegas dia.

Sekadar informasi, Pertamina resmi tidak menyesuaikan seluruh BBM, baik jenis subsidi dan nonsubsidi untuk periode April 2026.

Harga BBM Pertamax (RON 92) di Sumut yang sebelumnya Rp12.600/liter kini tetap Rp12.600/liter. Harga Pertamax Turbo (RON 98) saat ini tetap dipatok sebesar Rp13.350/liter atau tidak mengalami kenaikan atau penurunan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Tidak hanya itu, harga bensin bersubsidi yakni Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite—yang menggunakan skema kompensasi — masih ditahan pemerintah di level Rp10.000/liter.

Untuk harga BBM jenis solar, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama tidak mengalami penyesuaian harga sehingga masing-masing dibanderol Rp14.500/liter dan Rp14.800/liter.

Harga BBM jenis diesel bersubsidi yakni Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar juga tetap ditahan pemerintah di harga Rp6.800/liter.

Terkait dengan penetapan harga BBM periode April 2026, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan perseroan senantiasa melaksanakan kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal penetapan harga BBM

Di sisi lain, Roberth menyatakan perseroan bakal melakukan berbagai upaya strategis seperti negosiasi dengan penyuplai dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat

“Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dengan mengikuti arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak ada penyesuaian harga BBM, baik nonsubsidi maupun bbm bersubsidi,” kata Roberth dalam keterangan resminya.

Sekadar catatan, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 1,7% menjadi US$102,16/barel hari ini pada pukul 14.26 waktu Singapura setelah turun 3,2%. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,4% menjadi US$99,98/barel. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini