-->

Trump Marah Negara Sekutunya Tidak Mau Ikut Menyerang Iran, Ancam Keluar dari NATO

Sebarkan:

 

Presiden Donald Trump
Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk keluar dari aliansi North Atlantic Treaty Orgnization (NATO) menyusul keengganan para negara sekutunya yang bergabung dalam organisasi itu untuk ikut serta menyerang d Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menarik negaranya keluar dari NATO. Hal ini usai negara anggota aliansi tersebut menolak memberikan dukungan militer, termasuk tidak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

"Saya akan membahas rasa jijik saya terhadap North Atlantic Treaty Orgnization (NATO)," ungkap Trump saat berpidato d Washington pada Kamis (2/4/2026).

Atas hal tersebut, ia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk keluar dari NATO. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaannya terhadap sekutu yang dinilai tidak memberikan dukungan saat pihaknya membutuhkan bantuan mereka di Iran.

"Oh, tentu saja tanpa ragu. Bukankah Anda akan melakukan itu jika Anda berada di posisi saya?" kata Trump.

NATO diketahui didirikan pada 1949. Ia  selama ini menjadi pilar utama keamanan dengan prinsip pertahanan kolektif yang dikenal sebagai Article 5. Artikel tersebut membuat serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Namun, Amerika Serikat memicu kekhawatiran dengan keengganannya untuk berkomitmen mematuhi aturan terkait, apalagi dengan opsi untuk keluar dari NATO. Para analis menilai hal ini berpotensi memancing agresi dari Rusia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menolak menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap prinsip pertahanan kolektif dari NATO. Ia menyatakan keputusan tersebut berada di tangan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Hegseth sendiri mengungkapkan kekecewaan terhadap sejumlah negara dalam alinasi seperti Prancis, Italia hingga Spanyol. Hal ini karena mereka tidak memberikan dukungan penuh terhadapnya dalam perang dari Iran dan Amerika Serikat.

Prancis dilaporkan menolak memberikan izin penggunaan wilayah udaranya ke Amerika Serikat dan Israel. Mereka menolak wilayah udaranya untuk digunakan sebagai jalur pengiriman senjata ke Timur Tengah.

Italia juga melakukan hal serupa. Ia dilaporkan menolak memberikan izin untuk pesawat militer dari Amerika Serikat. Pesawat itu dilaporkan akan digunakan untuk misi di Timur Tengah.

Menurut laporan, negara tersebut menolak untuk memberikan izin pendaratan terhadap sejumlah pesawat bomber yang akan mendarat di Pangkalan Sigonella di Sisilia. Hal tersebut cukup mengejutkan, menyusul kedekatan dari Italia dan Amerika Serikat.

Spanyol di sisi lain mengambil langkah tegas dengan menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles menegaskan bahwa negaranya tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militer untuk operasi yang berkaitan dengan konflik dari Iran dan Amerika Serikat.

Sejauh ini hanya Indonesia dan Israel yang sangat patuh kepada Amerika. Kalau Israel memang tidak mengherankan, tapi kepatuhan Indonesia kepada Amerika mengundang tanya banyak pihak. Semua orang terheran bagaimana mungkin Indonesia mau memenuhi semua keinginan Trump sebagaimana yang tertuang dalam kesepakatan dagang kedua negara yang ditandatangani Februari lalu.

Lebih anehnya lagi, Indonesia malah ikut bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang janjinya akan merancang kemerdekaan Palestina. Ini jelas tipuan belaka, sebab  Israel ikut ambil bagian dalam organisasi bentukan Trump itu. Dalam sejarahnya, Israel tidak pernah mengalah kepada Palestina, dan Amerika selalu berada di belakang Israel.

Makanya Aneh sekali kalau Presiden Prabowo percaya jika BoP bertujuan untuk memerdekakan Palestina. Jangankan memberi kemerdekaan, malah pasukan TNI yang sedang bertugas di Libanon justru mendapat serangan pasukan Israel. Tapi Indonesia tetap tidak bisa berbuat apa-apa melawan tekanan Israel itu karena takut dengan Trump.

Trump bisa saja kecewa dengan banyaknya negara anggota NATO yang tidak sejalan dengan keinginannya, tapi setidaknya Trump bangga sebab Indonesia bisa ia kendalikan. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini