-->

Agar tidak Dikatakan Presiden Bodoh, Politisi Gerindra Luruskan Pernyataan Prabowo soal Dolar

Sebarkan:

Sebuah kesalahan telak dilakukan Presiden Prabowo saat mengatakan penurunan nilai mata uang dolar tidak  berimbas kepada masyarakat desa. Karuan, berbagai kecaman pun diarahkan kepada sang presiden. Dia dianggap kurang peka, bodoh, dan tidak mau melihat realita.

Sadar dengan tekanan psikologi itu, politisi Gerindra beramai-ramai meluruskan isi pidato itu dengan tafsir masing-masing. Mereka tahu bahwa pernyataan itu salah, maka mereka siap menjadi martil untuk meluruskannya.

“Maksud Pak Presiden adalah untuk menenangkan warga agar jangan panik dengan penurunan mata uang rupiah itu,” kata  Juru bicara Partai Gerindra,  sekaligus Wakil Ketua Komisi II DPR Bahtra Banong.

Ia  menilai, pidato Presiden Prabowo Subianto soal orang desa tidak perlu kuatir soal dolar karena tidak orang desa pakai dolar, harus dipahami secara utuh oleh publik.

"Pidato Presiden dipotong hanya pada satu kalimat, lalu dibangun framing seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru dan tidak fair. Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat," kata Bahtra dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Entah dari mana dasarnya Bahtra mengeluarkan pernyatan yang membela itu. pasalnya, pidato Prabowo itu didengar secara luas oleh public dan tidak mengandung multitafsir yang macam-macam. Tidak ada pemotongan, apalagi editing dalam pidato itu.

Jelas sekali Prabowo mengatakan agar masyarakat desa tidak perlu resah soal kenaikan nilai dolar karena orang desa tidak pakai dolar dalam keseharian. Dengan kata lain, Prabowo minta orang desa tidak perlu panik soal penurunan rupiah sebab tidak ada hubungannya dengan kehidupan desa.

Pidato Prabowo itu begitu gamlang, jelas dan tegas. Ia mengatakan orang desa sama sekali tidak terpengaruh soal kenaikan nilai dolar. tak heran jika pidato itu mendapat serangan dari berbagai penjuru.

Faktanya, penurunan nilai rupiah terhadap dolar tentu sangat berimbas kepada harga kebutuhan bahan pokok. Bahkan harga minyak goreng saja sudah naik 25 persen dari harga sebelumnya. Begitu juga dengan harga bahan makanan seperti tempe dan tahu serta lainnya.

Wajar saja, sebab kedelai sebagai bahan utama pembuatan tempe diimpor Indonesia dari luar negeri. Semuanya dibayar dengan dolar.  Naiknya nilai tukar dolar tentu membuat harga impor akan melonjak sehingga berefek pada harga tempe dan tahu di desa.

Kondisi yang sama terjadi pada bahan kebutuhan rumah tangga lainnya. 

Lantas mengapa Prabowo sampai nekad mengatakan kenaikan nilai tukar dolar tidak berimbas kepada masyarakat desa?

Isi pidato ini yang membuat para politisi Gerindra kelimpungan. Mereka berupaya meluruskan dengan berbagai tafsiran yang seakan membenarkan ucapan pimpinannya itu. Macam-macamlah. Pokoknya dalam pandangan mereka, Prabowo tidak salah mengucapkan kalimat itu.

Sebaliknya, mereka menyerang pengamat ekonomi, akademisi dan para pemikir kritis yang mencemoohkan Prabowo. Di sinilah tradisi jilat menjilat semakin diperkuat demi kelangsungan dapur para politisi itu.

Tafsir yang membenarkan ucapan Prabowo itu diputar ke sana kemari, meski terkesan sangat dipaksakan dan dibuat- buat. Mereka mencoba menghubungkan antara ucapan itu dengan langkah menenangkan public. Seakan mengatakan bahwa Prabowo sangat benar mengatakan orang desa tidak perlu risau soal kenaikan nilai tukar dolar.

Sikap politisi DPR ini yang membuat pegiat hukum  Ahmad Khozinuddin terbahak-bahan.

"Sudahlah, tak usah sibuk ikut latah menjadi juru tafsir soal pernyataan Prabowo terkait dolar naik, rakyat di desa tidak terpengaruh karena belanja orang desa tak pake dolar. Sebaiknya, DPR fokus kontrol pemerintah bagaimana mengantisipasi kenaikan dolar agar tak berdampak destruktif," ujarnya.

Faktanya, setelah ucapan presiden itu beredar sejak Sabtu (16/5/2026), nilai tukar rupiah terus semakin terpuruk. Sampai hari ini menyentuh angka Rp17.676 per dolar. Kondisi ini pasti membuat APBN jebol karena subsidi semakin besar.

Kita masih menunggu sampai kapan pemerintah menyerah sehingga ujung-ujungnya menaikkan harga BBM, tarif listrik dan harga gas. Saat ini saja harga kebutuhan makanan sudah melonjak. Rakyat pantas berhati-hati. Saatnya berhemat, jika tidak, hidup akan lebih sengsara ke depan. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini