Pencitraan
bagi seorang pemimpin adalah hal wajar. Namanya juga politik, pencitraan adalah
bagian di dalamnya. Namun kalau pencitraan itu tidak menggunakan logika, sama
saja membodohi diri sendiri. 
Mimpi ekspor beras
Salah satu contoh pencitraan bodoh itu adalah tatkala istana mencoba mengangkat isu bahwa Presiden Prabowo akan tampil sebagai juru damai konflik Iran-Amerika.
Tahu apa hasilnya? Prabowo dan istana menjadi bulan-bulanan public. Pencitraan itu dianggap langkah yang tidak tahu diuntung karena tidak sesuai dengan realitas yang ada.
Mana mungkin seorang anak kecil bisa jadi juru damai bagi dua raksana yang bertarung? Apa mungkin anak buah yang sangat tunduk kepada Donald Trump dipercaya sebagai juru damai oleh Iran sebagai musuh bagi Trump?
Inilah contoh pencitraan yang tidak punya otak itu. Pencitraan bodoh seperti ini tampaknya kini sedang digodok lagi oleh istana. Apa itu?
Indonesia akan mengeksport beras ke Malaysia sebesar 100 ribu ton. Harganya sangat murah, berkisar Rp10 ribu per kg.
Istana sepertinya ingin menunjukkan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo berhasil membuat terobosan besar dalam swasembada beras. Luar biasa bukan?
Bagi yang tidak punya akal sehat, tentu terkagum-kagum dengan kabar ini. Mereka akan melontarkan pujian kepada kepemimpinan Prabowo yang bisa membuat sejarah baru dalam produksi beras di Indonesia.
Namun bagi yang punya pikiran, tentu akan bertanya-tanya, apa mungkin Indonesia sudah pantas mengekspor beras ke luar negeri dengan harga Rp10 ribu per kg. Sementara di dalam negeri, harga beras kualitas menengah sudah berkisar Rp13 ribu per kg. Bahkan sepekan terakhir ini, harga itu cenderung naik seiring turunnya mata uang rupiah.
Di sisi lain, Indonesia juga harus tunduk kepada tekanan Donald Trump yang memaksa Prabowo harus mengimpor beras sebanyak 1.000 ton dari negara itu. Perjanjian itu tertuang dalam kesepakatan perdagangan timbal balik alias The Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Februari lalu.
Ini juga sejarah baru. Selama ini Indonesia sama sekali tidak pernah mengimpor beras dari AS. Biasanya, kebutuhan beras nasional maupun beras khusus dipasok dari negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, Myanmar, India, hingga Jepang.
Adanya komitmen dengan AS ini memaksa negeri ini mengimpor beras khusus. Jenis beras khusus yang diproduksi AS pun kurang lebih seperti basmati, jasmine, beras merah, japonica.
Selisih harga beras di dua negara ini juga cukup signifikan. Berdasarkan data, rata-rata harga beras yang diekspor AS mencapai US$ 844 per ton, sementara rata-rata harga beras yang diimpor Indonesia berada di kisaran US$ 600 per ton. Bisa dipastikan, harga beras Amerika lebih mahal ketimbang beras dalam negeri.
Tapi masalah pembelian beras Amerika itu memang bukan soal kebutuhan, tapi soal ketertundukan Prabowo kepada Trump, sehingga permintaan negeri adi kuasa itu tidak bisa ditampik. Namanya juga anak buah, tentu harus patuh kepada bosnya.
Di tengah perdebatan itu, muncul lagi kabar Indonesia akan mengekspor beras ke Malaysia. Kabar ini memang belum pasti, tapi Prabowo sudah mendengungkannya ke ruang public. Rencananya Indonesia akan mengekspor 2000 ton per bulan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkap penjajakan ekspor beras Indonesia itu kini telah masuk tahap negosiasi harga. Prabowo sudah memberi restu. Tapi peluang memang belum pasti ada, sebab Malaysia juga tengah berburu pasokan dari negara produsen beras lain di kawasan seperti Thailand dan Vietnam.
Rizal memperkirakan potensi nilai ekspor tersebut bisa menembus Rp 2 triliun dengan asumsi harga jual beras berada di kisaran Rp 10 ribu per kilogram.
“Kalau 200 ribu ton itu tinggal dikalikan aja, Rp 10 ribu lah contohnya. Berarti kan sekitar Rp 2 triliun,” ucapnya.
Rizal mengklaim Indonesia sudah layak mengekspor beras karena cadangan beras pemerintah saat ini tercatat sudah mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Tapi, mari kita kembali menggunakan akal sehat. Sebagai negara yang jauh lebih makmur dengan tingkat pendidikan yang tinggi, Malaysia tentu membutuhkan beras dengan kualitas terbaik. Minimal kualitas menengah. Mereka tidak akan mau mendatangkan beras dengan kualitas buruk.
Sementara harga beras di dalam negeri saat ini, untuk kualitas menengah sudah di atas Rp13. Ribu per kg. bahkan belakangan ini naik hingga lebih dari Rp14 ribu. Di mana logikanya kita bisa mengekspor dengan harga Rp 10 ribu ke Malaysia?
Sulit mencari rumus yang bisa diterima akal mengenai hal ini. Makanya, kabar ekspor beras ini sebenarnya adalah pencitraan yang tidak bisa diterima akal sehat, mirip seperti pencitraan juru damai perang Iran-Amerika.
Ujung-ujungnya ekspor gagal dilakukan, tapi setidaknya pemerintah sudah berhasil menipu rakyat dengan mengklaim bahwa Indonesia telah berhasil swasembada beras.
Bagi pemerintah, pencitraan ini penting menjawab keraguan para pengamat soal klaim Prabowo bahwa Indonesia telah swasembada pangan. Para pengamat telah menyatakan bahwa klaim itu adalah bohong besar. Mereka membongkar kebohongan itu dengan data-data yang jelas.
Tapi pemerintah masih sangat ngotot mengaku telah berhasil dalam membangun system pangan yang lebih baik di Indonesia. Saat ditanya soal data, kerancuan mulai tampak. Pemerintah cenderung tidak kuasa untuk membantah asumsi pengamat yang menganggap bahwa klaim swasembada pangan adalah cerita bohong belaka.
Tapi pemerintah tetap ngotot bertahan. Untuk mendukung argumen itu, pemerintah lantas memunculkan isu rencana ekspor beras ke Malaysia.
Jadi rencana ekspor ini kemungkinan bohong-bohongan. Kalaupun dilakukan, mungkin hanya sekejab saja untuk sekedar membangun pencitraan. Tidak mungkin berjalan dalam skala besar, sebab harga jual sangat tidak masuk diakal. Lagi pula mana mungkin Indonesia mampu bersaing dalam harga beras melawan Thailand, Vietnam dan Kamboja.
Di sana harga beras lebih murah, kualitasnya lebih baik lagi. Harga ekspor beras mereka tentu lebih mahal ketimbang harga beras di dalam negeri.
Sebagai gambaran, harga beras di pasar dalam negeri Vietnam saat ini di kisaran US$0,44 hingga US$0,78 per kg, atau berkisar Rp7.000 hingga Rp12.500. Untuk ekspor, negara itu bisa menjual seharga Rp 14 ribu. Jelas ada untung di sana. Secara matematis, teori ini bisa diterima akal.
Sampai tahun 2024 Indonesia masih mengimpor beras dalam jumlah yang cukup besar dari Vietnam.
Tiba-tiba saja, dua tahun kemudian muncul kabar Indonesia akan eksspor beras ke Malaysia yang harganya berkisar Rp10 ribu, sementara harga beras di dalam negeri untuk kualitas menengah saja sudah mencapai Rp13 ribu. Apa tidak aneh yang seperti ini?
Sungguh memilukan nasib negeri ini. Pemerintahan Prabowo tidak hanya gagal membangun ekonomi bangsa, tapi juga kalap dalam merancang pencitraan di ruang public.
Sudah jelas-jelas ia dipermalukan dengan isu juru damai perang Iran-Amerika, sekarang dipermalukan lagi dengan isu ekspor beras ke Malaysia hanya untuk menunjukkan bahwa Indonesia telah swasembada beras. Benar-benar keterlaluan.
Ada baiknya pemerintah bekerja keras mengamankan harga pangan yang sudah mulai melonjak naik beberapa hari ini. Nilai rupiah sudah terpuruk ke titik yang hina dalam sejarah bangsa, mencapai Rp17.612 terhadap dolar Amerika. Melorotnya nilai rupiah itu pasti akan berdampak pada inflasi dan kenaikan harga.
Maka itu, fokus saja mengatasi gejolak ekonomi dalam negeri. Kalaupun mau pencitraan, buat yang lebih masuk diakal. Jangan menghayal macam-macam. Kami rakyat tidak lagi mudah dibodohi. Bahkan rakyat pun kini sudah larut membahas ‘kelainan’ yang terjadi di lingkar istana. ***
