-->

Hati-Hati, Hipertensi Silent Killer Paling Utama di Indonesia, Perlu Penanganan Sejak Dini

Sebarkan:

 

Kasus hipertensi di Indonesia terus meningkat dalam lebih dari satu dekade terakhir dan kini menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Tanah Air. Berdasarkan data International Health Metrics, hipertensi konsisten menjadi penyakit dengan beban tertinggi sejak 2009 hingga 2023.

“Dari tahun 2009 sampai 2023, tren hipertensi terus meningkat. Tahun 2009 angkanya sekitar 18 persen, sekarang sudah mencapai sekitar 30 persen,” ujar Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Kemenkes.

Dia menyampaikan hal itu dalam kampanye nasional bertema “Controlling Hypertension Together” dalam rangka World Hypertension Day yang digelar bersama Indonesian Society of Hypertension dan Beurer Indonesia di Jakarta, Minggu (17/5).

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia terbaru, prevalensi hipertensi di Indonesia telah mencapai 31 persen. Artinya, sekitar 50 hingga 60 juta penduduk Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi yang berisiko memicu komplikasi serius.

“Kalau kasus hipertensi meningkat, maka kasus jantung, stroke, dan gagal ginjal juga ikut meningkat. Dari sisi pembiayaan BPJS, peningkatannya luar biasa,” kata Nadia.

Untuk menekan angka tersebut, pemerintah meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 10 Februari 2025, yang mencakup 18 jenis pemeriksaan kesehatan sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular, termasuk hipertensi dan diabetes.

Nadia menyebut hipertensi sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala. Dari pelaksanaan CKG terhadap sekitar 70 juta masyarakat Indonesia, ditemukan sekitar 15 juta orang mengalami hipertensi, termasuk peningkatan tekanan darah pada pelajar usia SMA yang masih terus dievaluasi penyebabnya

Ketua Indonesian Society of Hypertension Eka Harmeiwaty, menegaskan pengendalian hipertensi tidak dapat dilakukan hanya di ruang praktik dokter. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, organisasi profesi, hingga masyarakat luas.

“Padahal kita tahu satu dari tiga masyarakat Indonesia mengalami hipertensi. Karena itu, harus ada kerja sama lintas sektoral untuk memperkuat edukasi dan mengubah perilaku masyarakat,” ujar Eka.

Sementara itu, Managing Director Beurer Indonesia Aria Vardin mengatakan bahwa peringatan Hari Hipertensi Sedunia menjadi momentum penting meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya tekanan darah tinggi.

Beruntungnya,  Beurer memiliki alat pengukur tekanan darah berkualitas Jerman yang mudah digunakan, yakni BM23 dan DM23. Perangkat tersebut dirancang sangat sederhana dengan hanya satu tombol sehingga mudah digunakan oleh semua kalangan.

Selain kemudahan penggunaan, alat tersebut telah dilengkapi fitur scan and save. Fitur ini memungkinkan hasil pengukuran tekanan darah tersimpan otomatis di aplikasi pada telepon seluler tanpa perlu dicatat secara manual. "Kami berharap makin banyak masyarakat Indonesia, dapat memantau tekanan darahnya secara rutin di rumah,” tutur Aria.

Obat Hipertensi

Jika hipertensi ini dibiarkan, bisa berisiko menyebabkan komplikasi hipertensi, seperti serangan jantung atau strok. Oleh sebab itu, selain harus menerapkan gaya hidup sehat, penderita tekanan darah tinggi mungkin perlu mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darahnya. Baca Juga: 3 Makanan Pantangan Penderita Hipertensi Berikut ini penjelasannya, seperti dilansir laman Genpi.co.

1.     1.  Diuretik

Diuretik merupakan salah satu golongan obat yang paling sering digunakan dalam pengobatan hipertensi. Obat ini bekerja dengan cara menghilangkan kelebihan air dan garam yang merupakan salah satu penyebab hipertensi.

Obat hipertensi diuretik juga bisa menimbulkan efek samping, yakni kelelahan, kram otot, lesu, nyeri dada, pusing, sakit kepala, atau sakit perut. Terdapat 3 jenis utama dari obat darah tinggi diuretik, yaitu thiazide, potassium-sparing, dan diuretik loop.

2.      2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor merupakan obat darah tinggi yang bekerja dengan menurunkan produksi angiotensin, yang merupakan penyebab pembuluh darah menyempit dan menimbulkan tekanan darah tinggi.

Obat hipertensi jenis ini dapat menyebabkan efek samping, berupa kehilangan indra perasa, kehilangan nafsu makan, batuk kering kronis, pusing, sakit kepala, lelah, gangguan tidur atau insomnia, dan detak jantung cepat. Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, benazepril hydrochloride, perindopril, ramipril, quinapril hydrochloride, dan trandolapril.

3.      3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

Obat angiotensin II receptor blocker (ARB) juga bekerja dengan cara menghalangi angiotensin dalam tubuh. Namun, obat ini menghalangi kerja angiotensin dalam tubuh bukan menghalangi produksi angiotensin, sehingga tekanan darah menurun. Efek samping obat darah tinggi ini, yaitu pusing sesekali, masalah sinus, maag, diare, dan sakit punggung.

Contoh obat ARB: azilsartan (Edarbi), candesartan (Atacand), irbesartan, losartan potassium, eprosartan mesylate, olmesartan (Benicar), telmisartan (Micardis), dan valsartan (Diovan).

4.      4. Beta blocker Obat

hipertensi ini bekerja dengan cara menghalangi efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Hal ini membuat jantung bekerja lebih lambat serta detak jantung dan kekuatan pompa jantung menjadi menurun. Dengan demikian, volume darah yang mengalir di pembuluh darah menurun dan tekanan darah pun ikut turun.

Adapun efek samping dari obat hipertensi beta blocker, yaitu insomnia, tangan dan kaki dingin, kelelahan, depresi, detak jantung lambat, sesak napas, nyeri dada, batuk, impotensi, sakit perut, sakit kepala, pusing, serta sembelit atau diare. Contoh obat beta blocker: atenolol (Tenormin), propranolol, metoprolol, nadolol (Corgard), betaxolol (Kerlone), metoprolol tartrate (Lopressor) acebutolol (Sectral), bisoprolol fumarate (Zebeta), nebivolol, dan solotol (Betapace).

5.      5. Alpha blocker

Obat jenis alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi kerja hormon norepinephrine, yang bisa mengencangkan otot-otot pembuluh darah. Mengonsumsi obat hipertensi ini, otot-otot pembuluh darah bisa mengendur dan melebar, sehingga tekanan darah pun menurun. Obat darah tinggi golongan ini biasanya menimbulkan efek samping berupa, detak jantung yang cepat, pusing, dan penurunan tekanan darah saat berdiri. Contoh obat alpha blocker: doxazosin (Carduar), terazosin hydrochloride, dan prazosin hydrochloride (Minipress)

6.      6. Vasodilator

Obat vasodilator bekerja dengan cara membuka atau melebarkan otot-otot pembuluh darah, sehingga darah akan mengalir dengan lebih mudah dan tekanan darah Anda menjadi turun. Adapun efek samping tiap obat golongan vasodilator berbeda, tetapi umumnya tidak parah dan bisa hilang dengan sendirinya. Contoh obat vasodilator: hydralazine dan minoxidil. **

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini