-->

Pelemahan Rupiah Berlanjut Hari ini, Komisi XI DPR RI Minta Gubernur BI Mundur!

Sebarkan:

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama berada dalam tekanan pada perdagangan Senin, 18 Mei. Adapun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah tajam hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di pasar spot, sementara IHSG menjadi indeks saham dengan koreksi terdalam di kawasan Asia.

Mengutip Bloomberg, Senin, 18 Mei pukul 12.12 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.676 per dolar AS atau turun 0,45 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologisnya dan mencetak rekor all time low secara intraday.

Di saat yang sama, pasar saham domestik juga mengalami tekanan besar yaitu Berdasarkan data perdagangan RTI hingga penutupan sesi I perdagangan, IHSG turun 3,76 persen ke level 6.470,34 dan bahkan sempat anjlok lebih dari 4 persen ke posisi 6.398,78.

Koreksi ini menjadikan IHSG sebagai indeks dengan performa terburuk di Asia pada hari ini.

Sebagai perbandingan, indeks Straits Times Singapura (STI) melemah 0,53 persen ke level 4.962,66 dan Nikkei 225 Index milik Jepang (N225) turun 0,68 persen ke level 60.968,04. Sedangkan di China, Hang Seng Index terkoreksi 1,17 persen ke level 25.661,05 dan Shanghai Composite Index (SSEC) turun 0,19 persen ke level 4.127,37.

Kondisi pelemahan rupiah itu mendorong anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio meminta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya.

Dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama BI, Senin, 18 Mei, Primus menilai Perry perlu menunjukkan sikap bertanggung jawab atas kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, langkah mundur bukanlah bentuk penghinaan, melainkan sikap kesatria apabila merasa tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.

"Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia sebagai tokoh utamanya harus gentleman Pak. Harus berani melawan. Ada apa ini? Kenapa ini? Pak Perry yang saya hormati kadang, kadang Pak kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri," ujarnya.

Primus mengatakan kondisi ekonomi nasional saat ini terbilang janggal lantaran di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61 persen, namun di sisi lain nilai tukar rupiah justru terus tertekan hingga menyentuh level terendah terhadap dolar AS.

"Karena kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen. Tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," tuturnya.

Dia juga menyoroti performa pasar saham domestik yang masih tertinggal dibandingkan negara lain.

Menurut dia, sejumlah indeks global sudah mulai pulih dan mencatat penguatan setelah gejolak geopolitik sejak akhir Februari, sementara pasar Indonesia masih berada dalam tekanan cukup dalam.

"Indeks kita juga habislah. Merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudali itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi. Pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound. Bahkan sudah surplus. Dan Indonesia saat ini masih minus. Lebih dari 20 persen. Ini kan bagaimana global mempertanyakan salah satu, ada banyak faktor," jelasnya.

 

Selain terhadap dolar AS, Primus menilai pelemahan rupiah juga terjadi terhadap berbagai mata uang lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia hingga euro.

"Tapi faktanya dan ironisnya Pak ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapur, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Rial, apalagi Hongkong, dolar, Euro, saya masih ingat Pak, Euro waktu awal-awal tahun 2006 itu Rp7.000 per Euro. Sekarang hampir Rp20.000," katanya.

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu segera ditangani. Dia menilai, kredibilitas dan tingkat kepercayaan publik terhadap Bank Indonesia mulai menurun akibat kondisi tersebut.

Pelemahan nilai tukar rupiah dipastikan tidak hanya berimbas kepada Masyarakat perkotaan, tapi juga bagi kehidupan masyarakat desa. Hanya orang bodoh  yang mengatakan masyarakat desa tidak ada urusan dengan pelemahan rupiah. Bagaimanapun juga turunnya nilai tukar rupiah pasti akan berimbas kepada harga kebutuhan hidup.

Besar kemungkinan APBN akan jebol, sehingga pada akhirnya harga BBM dan gas akan dinaikkan. Kalau itu terjadi, semua kebutuhan pokok akan melonjak tajam. Negeri ini bakal terancam…!***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini