-->

Prabowo Puji Habis Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Reformasi Polri Dipastikan Hanya Omon-Omon…!

Sebarkan:
Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. 

Jangankan menggeser Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dianggap telah merusak citra Polri, Presiden Prabowo justru memuji habis Kapolri yang terkenal dekat dengan mantan Presiden Joko Widodo itu. Dengan pujian itu, diperkirakan Listyo akan tetap menjabat Kapolri sampai pensiun tahun depan.

Dengan kedudukan Listyo sebagai Kapolri, maka bisa dipastikan rencana untuk melakukan reformasi di tubuh Polri tidak mungkin berjalan lagi. Hanya omon-omon..!

Pujian hebat Prabowo untuk Listya Sigit adalah terkait gerakan Polri  mendukung program ketahanan pangan. 

Menurut Prabowo, keberhasilan pangan tidak terlepas dari kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sebab Polri telah berhasil membantu petani untuk peningkatan produk jagung.  

Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin panen jagung serentak dan groundbreaking ketahanan pangan Polri di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

“Jadi, saya hari ini sangat gembira diundang di tempat ini. Saya melihat peran Polri luar biasa dan di sini saya kira adalah karena leadership kepemimpinan,” kata Prabowo.

Prabowo menyebutkan, dirinya akan mengakui siapa saja yang bekerja bagus. Prabowo menilai, kepemimpinan yang baik akan menghasilkan organisasi yang baik.

“Kalau bagus ya kita harus akui bagus, kalau baik kita akui baik. Dan dalam organisasi, kalau organisasinya baik berarti pemimpinnya baik. Kalau tim kesebelasan sepak bola, kalau menang ya manajernya baik, pelatihnya baik, kaptennya baik, kontrak diperpanjang. bener kan? Kalau ngga beres copot, sederhana,” ujar dia.

Ucapan itu menandakan kalau Listyo Sigit akan tetap menjabat Kapolri sampai pensiun tahun depan.

Sesuai aturan Polri, masa pensiun seorang perwira adalahh berusia 58 tahun. Listyo akan memasuki usia itu pada 5 Mei 2027. Berarti setidaknya ia akan memimpin Polri untuk satu tahun lagi.

Dengan tetapnya kedudukan Listyo sebagai Kapolri, bisa dipastikan reformasi Polri yang didengung-dengungkan Prabowo sama sekali tidak mungkin bisa dijalankan. Hanya omong kosong. Bagaimana mungkin reformasi bisa dilakukan kalau pimpinan yang merusak citra Polri tetap tidak diganti.

Sebelumnya, persoalan di tubuh Polri ini sempat menjadi pembahasan serius karena lembaga negara itu telah dimanfaatkan untuk kepentingan politik penguasa. Semenjak Polri di bawah kendali Listyo Sigit Prabowo, Polri benar-benar digunakan untuk kepentingan keluarga Jokowi.

Bisa dipahami, sebab Listyo Sigit Prabowo terkenal bersahabat dekat dengan Jokowi. Keduanya sama-sama bertugas di Solo, di mana kala itu Jokowi menjabat Walikota dan Listyo sebagai Kapolres. Hubungan mereka berlanjut setelah Jokowo pindah ke Jakarta menjabat presiden.

Ia mendongkrak pangkat Listyo Sigit sehingga cepat meningkat dan duduk sebagai Kapolri sejak 21 Januari 2021. Dengan demikian, Listyo Sigit Prabowo sudah menjabat kapolri selama 5 tahun empat bulan. Ia  tercatat sebagai salah satu kapolri terlama di Indonesia.

Sayangnya, di masa Listyo Sigit pula, Polri menjadi alat politik keluarga Jokowi. Dalam setiap Pilkada, Polri selalu dimanfaatkan untuk memenangkan keluarga Jokowi dan kandidat yang mereka dukung.

Peran Polri itu sangat terasa saat memenangkan Bobby Nasution sebagai Walikota Medan pada Pilkada 2020 dan Pilkada Gubernur Sumut 2024.  Begitu juga pada Pilkada Solo 2020, Polri  bermain aktif memenangkan Gibran sebagai Walikota. Bahkan pada Pilpres 2024, Polri juga terlibat politik untuk memenangkan pasangan Prabowo-Gibran.

Namun atas desakan publik, akhirnya Prabowo sempat setuju untuk melakukan reformasi di tubuh Polri agar kembali menjadi lembaga yang tidak terkooptasi kepentingan \politik.  Untuk itu, Prabowo lantas  membentuk tim percepatan reformasi yang diisi sejumlah praktisi hukum, akademisi dan politisi.

Tim ini sudah bekerja merumuskan langkah reformasi di tubuh POlri. Salah satu rekomendasi utama reformasi itu adalah mengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo karena dialah yang dianggap biang kerok yang membawa Polri menjadi alat kepentingan politik.  

Rekomendasi itu sudah diserahkan tim percepatan reformasi ke presiden beberapa waktu lalu.

Namun dengan adanya pujian Prabowo kepada Listyo baru-baru ini, bisa dipastikan reformasi itu gagal total. Jangankan mengganti, Prabowo justru  bakal memperpanjang kontrak Listyo Sigit Prabowo.

Dengan tetapnya kedudukan Listyo sebagai Kapolri, maka kerja tim reformasi Polri tidak berarti apa-apa. Hanya menghabiskan biaya, tanpa manfaat.  Bisa dikatakan, Prabowo telah membohongi para anggota tim reformasi itu.

Tak salah jika polemik keterlibatan Polri dalam politik di Indonesia tetap dimenangkan oleh Listyo Sigit Prabowo. Masih percaya ucapan Prabowo..? ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini