-->

PSSI Harus Tahu, Sangat Minim Peran Bobby Nasution Membangun Olahraga di Sumut..!

Sebarkan:

 

Bobby Nasution bersama Panitia AFF U-19 menonton pertandingan di stadion utama Sport Center Deli Serdang. Stadion ini digagas di masa Gubernur Edy Rahmayadi
Perlahan tapi pasti, kesemrawutan pelaksanaan turnamen sepakbola Asia Tenggara di bawah usia 19 tahun atau AFF U-19 yang diselenggarakan di Sumut, telah bisa diatasi. Kompetisi yang berlangsung sejak 1 hingga 13 Juni itu mulai berjalan lancar. Semua arena latihan dan stadion yang digunakan telah dimanfaatkan dengan baik,  termasuk Stadion Teladan dan Lapangan Cadika yang sempat disorot Gubernur Bobby Nasution karena dianggap belum memadai.

Nyatanya, penggunaan dua lapangan itu justru menuai banyak pujian dari tim peserta. Tim Thailand termasuk yang puas menggunakan Stadion Teladan versi  baru, meski penonton pertandingan harus dibatasi.

Begitu juga dengan Lapangan Taman Cadika Medan, sudah bisa  digunakan sebagai tempat latihan para peserta.  Setiap ada tim yang menggunakan Lapangan Cadika untuk latihan, arena taman itu langsung ditutup untuk umum agar tim yang berlatih tidak terganggu.

Tim Vietman, Thailand dan Timor Leste telah berlatih di lapangan itu tanpa ada gangguan berarti.  Semua lancar jaya, tidak seperti yang dituduhkan Bobby.

Fakta ini menunjukkan bahwa tuduhan Bobby Nasution soal ketidaksiapan Pemko Medan menyediakan fasilitas pertandingan, sama sekali tidak terbukti. Malah Pemko Medan di bawah kepemimpinan Walikota Rico Waas semestinya layak mendapat penghargaan karena telah bekerja keras menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan.

Seorang pejabat tinggi di Sumut menyebutkan, tuduhan yang dilontarkan Bobby soal buruknya kinerja Pemko Medan dalam mendukung AFF U-19 hanyalah serangan politis belaka. Tujuannya, untuk menjatuhkan marwah Rico Waas yang belakangan namanya melejit berkat kesuksesannya membangun Stadion Teladan.

Terbukti, proyek Stadion Teladan yang dulu kacau balau di masa Bobby Nasution, kini sudah mendekati selesai. Stadion itu telah berkembang menjadi stadion berkelas dunia.

Tim peserta AFF U-19 yang menggunakan stadion itu cukup puas dengan fasilitas yang ada. Stadion Teladan layak disebut sebagai salah satu monumental karya Rico Waas, bukan karya Bobby, sebab Bobby hanya sebagai perusak stadion itu.

“Bahkan saya  berani katakan peran Bobby sangat minim membangun fasilitas olahraga di Sumut. Harusnya PSSI berterimakasih kepada sosok Rico Waas yang telah bekerja keras mensukseskan AFF U-19,” ujar sumber itu.  

Satu nama lagi yang dianggapnya berjasa membangun fasilitas olahraga di Sumut adalah Edy Rahmayadi, gubernur sebelum era Bobby Nasution.  Edy sosok yang telah bekerja keras menyiapkan dan membangun fasilitas Sport Center yang ada di Kualanamu, Deli Serdang.

“Jadi dua orang ini yang sebenarnya berjasa membangun fasilitas olahraga di Sumut, mereka adalah Rico dan Edy Rahmayadi,” ujar pejabat itu.

Sementara Bobby lebih banyak berperan sebagai penghancur fasilitas yang ada. Makanya ia sangat heran melihat tingkat Bobby seakan paling tajam mengkritik fasilitas olahraga di Sumut.

Sumber itu lantas memberi gambaran bagaimana Bobby sengaja meruntuhkan Stadion Teladan pada Februari 2024 sehingga mengganggu persiapan pelaksanaan PON 2024 yang berlangsung di Sumut ketika itu.

Gubernur kala itu, Edy Rahmayadi semula berencana menggunakan Stadion Teladan untuk arena Sepakbola Wanita PON. Walau waktu itu Stadion Teladan masih berupa stadion tua, tapi untuk sepakbola wanita, tetap layak dijadikan sebagai venue.

Namun rencana tersebut ditolak Bobby Nasution yang kala itu menjabat Walikota Medan. Tidak hanya menolak, Bobby malah meruntuhkkan stadion itu dengan alasan mau membangun konsep stadion baru. Padahal Edy berharap pembangunan itu semestinya bisa dilaksanakan setelah PON selesai.

Namun Bobby tetap bersikeras mau merombak stadion legendaris itu karena harus selesai pada Oktober 2024 saat ia masih menjabat walikota Medan. Akhirnya Edy Rahmayadi pun hanya bisa pasrah.

Sebagai gantinya, Pemerintah provinsi terpaksa memaksimalkan Stadion Mini Pancing sebagai  arena sepakbola Wanita PON 2024.  

Ketiadaan Stadion Teladan turut memaksa Edy Rahmayadi harus bekerja cepat mendorong penyelesaian tiga stadion yang ada di arena Sport Center, Kualanamu. Syukurnya kerja keras itu menuai hasil. Sport Center akhirnya bisa digunakan sebagai lapangan utama untuk kegiatan PON 2024.

Stadion Sepakbola di Sport Center itu yang kini menjadi lapangan utama bagi penyelenggaraan AFF U-19, selain Stadion Teladan yang telah diselesaian Rico Waas.

Dari sejarah itu, sumber tersebut memastikan bahwa Bobby sebenarnya sangat minim berperan membangun fasilitas olahraga di Sumut.  Stadion Teladan yang ia janjikan selesai pada Oktober 2024, nyatanya tidak pernah tuntas. 

Hingga Bobby dilantik sebagai gubernur pada Februari 2025, stadion itu masih kacau balau. Tidak berbentuk. Tak ubahnya bangunan anker yang tak berupa.

Barulah di masa Rico Waas, proyek Stadion Teladan dilanjutkan secara serius sehingga berdiri cukup megah  saat ini.

Begitu juga dengan Stadion Kebun Bunga yang direhab Bobby semasa menjabat walikota, terjadi kerusakan di sana sini. Bahkan rumputnya tidak layak digunakan sebagai tempat latihan. Badan Pemeriksaan Keuangan telah menemukan adanya penyelewengan dalam proyek itu, tapi sampai sekarang tidak ditangani aparat penegak hukum. Maklum, ada nama Bobby melekat di sana.

Rico Waas harus memperbaiki semua fasilitas di Stadion Kebun Bunga  itu secara maksimal, termasuk mengganti rumput yang lebih layak. Rico juga membenahi Lapangan Cadika secara serius sebagai arena latihan bagi tim peserta. 

Alhasil, semua proyek itu tuntas dan bisa digunakan untuk mendukung pelaksanaan Piala AFF U-19.

Belakangan sumber itu merasa sangat heran, kok Bobby yang paling kritis menilai stadion-stadion yang ada di Sumut untuk event Asia Tenggara itu?

“Seakan dia yang jadi juru bicara PSSI. Padahal ia sama sekali tidak ada kerja untuk membangun fasilitas itu,” ujarnya.  

Bobby sendiri berperan sebagai penanggungjawab utama dalam kolaborator pelaksaan AFF U-19. Dengan posisi itu, ia juga menunjuk panitia lokal yang bertangungjawab sebagai pelaksana untuk bekerjasama dengan PSSI. 

Adapun Ketua Pelaksanaan AFF-19 yang ditunjuk Bobby adalah Andi Atmoko Panggabean, rekannya sebagai sesama pengusaha. Andi  Atmoko Panggabean juga menjabat sebagai pengawas di PDAM Tirtanadi. Begitu juga anggota panitia lainnya, umumnya semua yang ditunjuk adalah anggota tim sukses Bobby masa kampanye yang lalu.

Makanya tak heran jika kelompok ini menjadikan AFF U-19 untuk menyerang lawan politis Bobby Nasution. Termasuk menyerang walikota Rico Waas yang kini sudah tidak lagi menjalin hubungan harmonis dengan Bobby. 

Ada upaya kelompok ini untuk menggiring opini bahwa kemewahan Stadion Teladan sekarang ini merupakan buah karya Bobby Nasution, bukan karena Rico Waas.

faktanya, kelompok ini tetap tidak bisa menampik bahwa fasilitas yang digunakan untuk arena AFF U-19 saat ini pada dasarnya lebih banyak dibangun di era Edy Rahmayadi dan Rico Waas. Bobby hanya sebagai pengguna saja.  ***



 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini