Badan Gizi Nasional mempertimbangkan penggunaan alat uji
cepat atau test kit di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG setelah
mengevaluasi kasus keracunan makanan. Pemeriksaan dengan bau, rasa dan
mencicipi makanan dinilai belum cukup untuk memastikan makanan aman.
Kepala badan Gizi Nasional saat mengunjungi salah satu dapur MBG
Kepala BGN Sudaryono mengatakan evaluasi itu dilakukan antara lain setelah meninjau kasus di Berastagi.
“Keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik, di bau, di rasa, dicicipi. Sudah dibau nggak ada masalah, dicicipi juga nggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi,” kata Sudaryono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 17 Agustus.
Karena itu, BGN sedang mempertimbangkan penggunaan alat pengujian di seluruh dapur.
“Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, makanan nantinya dapat diuji menggunakan bahan kimia untuk mendeteksi kemungkinan masalah sebelum dikonsumsi.
“Jadi dites, dikasih chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa,” katanya.
BGN, kata Sudaryono, mempelajari praktik sejumlah SPPG yang sudah menggunakan test kit. Salah satunya SPPG yang dikelola Bhayangkari.
“Kita belajar dari keberhasilan SPPG. Beberapa SPPG, salah satunya adalah SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari dari Polri, itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan,” ujarnya.
Sudaryono mengatakan BGN ingin mencegah kasus keracunan tanpa menimbulkan kesan seluruh dapur bermasalah.
“Dari 27 ribu dapur, alhamdulillah sebagian besar itu bekerja dengan baik,” katanya.
Sementara itu, ketika ditanya kelanjutan insentif Rp6 juta per hari bagi SPPG, Sudaryono mengatakan kebijakan tersebut masih ditinjau. “Sedang kita evaluasi, nanti tunggu tanggal mainnya,” ujarnya. ***