-->

Dapur MBG Penyebab Keracunan di Brastagi Hanya Tutup Sementara, Kepala BGN Direpeti Orangtua Murid

Sebarkan:

 

Fitriani br Sijabat, orangtua salah seorang pelajar yang ikut menjadi korban keracunan MBG meluapkan kemarahannya kepada Kepala BGN Sudaryono pada Minggu (16/8/2026) saat berkunjung ke RS Efarina Etaham, Brastagi
Kodam I Bukit Barisan mengakui, dapur penyedia makanan bergizi gratis (MBG) yang menyebabkan terjadinya keracunan yang dialami ratusan pelajar di Brastagi  berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah kendali Kodim 0205 Tanah Karo.

Adapun pengeloa dapur itu berada di bawah kendali Yayasan Manunggal Kartika Jaya (MKJ) yang juga berada dalam lindungan Kodim 0205/Tanah Karo. Meski demikian, belum dijelaskan secara rinci bagaimana pengelolaan dapur tersebut.

"Yang kelola adalah SPPG Yayasan Manunggal Kartika Jaya Kodim 0205/TK. Soal pengelolaannya tentu menjadi tanggungjawab pihak SPPG," kata Kapendam I Bukit Barisan, Kolonel Infanteri Sandy, Sabtu (15/8/2026).

Sandy menjelaskan, masalah keracunan massal ini sudah ditangani Komando Distrik Militer (Kodim) 0205 Karo, bekerjasama dengan Pemkab Karo. Tim gabungan termasuk Dinas Kesehatan juga sudah mengambil sampel makanan untuk diteliti ke laboratorium guna mengetahui penyebab pasti keracunan.

Mengenai keracunan ini, lanjut Sandy, Kodam I Bukit Barisan menyebut pihaknya akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

"Evaluasi menyeluruh tentunya dilakukan guna menghindari kejadian serupa tidak terulang kembali,"sambungnya.

Kasus keracunan massal di Brastagi itu menjadi sorotan nasional setelah ratusan siswa dari 5 sekolah di daerah itu mengalmi keracunan setelah menikmati Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kamis (13/8/2026). Lima sekolah itu terdiri dari 3 SMA Negeri dan 2 SMP Swasta. Total siswa yang diduga keracunan diperkirakan mencapai 353 siswa.

Kini kondisi para pelajar  sudah berangsur pulih. Sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada beberapa orang saja yang masih dirawat di RS. Satu di antaranya membutuhkan perawatan intensif, sehingga terpaksa harus dirujuk ke Rumah Sakit Haji di Medan.

Kepala BGN Direpeti Ibu-ibu

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono pada Minggu (16/8/2026) telah turun langsung dari Jakarta  untuk mengunjungi pelajar yang dirawat di RS Haji Medan. Selanjutnya, pada hari yang sama Sudaryono langsung bertolak ke Kabupaten Karo guna mengunjungi beberapa siswa yang masih mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Salah satunya yang dirawat di Rumah Sakit Efarina Etaham Brastagi.

Begitu sampai di rumah sakit itu, Sudaryono langsung mendapat semburan dari salah seorang orangtua murid, Fitriani br Sijabat, yang anaknya pelajar SMAN 1 Berastagi termasuk salah satu korban keracunan makanan itu.

Di depan orang kepercayaan Presiden Prabowo itu, Fitriani meluapkan emosinya sambil terisak menahan tangis menyampaikan kondisi anaknya. 

Fitriani cukup kesal, sebab anaknya Agnesia Paruliana br Silitonga termasuk yang mengalami penderitaan cukup parah akibat keracunan makanan itu. Saat pertama mengalami keracunan, Paruliana mengalami gangguan pernapasan hingga mengalami sesak. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit.

Pada Sabtu (15/8/2026) Paruliana sempat pulang  ke rumah dengan kondisi yang lebih baik. Tapi tidak lama kemudian kondisinya memburuk lagi. Ia kembali mengalami mual dan gatal-gatal hingga akhirnya kembali dilarikan ke RS Efarina Etaham.

Dengan suara bergetar dan berlinang air mata, Fitriani mempertanyakan penyebab gangguan kesehatan yang dialami anaknya. Ia meminta BGN memberikan penjelasan secara terbuka mengenai zat atau makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

“Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya, agar kami tahu cara mengobatinya,” ujar Fitriani.

Sambil menahan tangis dan emosi, dirinya mengatakan informasi terkait paparan racun ini penting agar pengobatan yang diberikan kepada anaknya sesuai dengan penyebab penyakit yang dialami. Ia khawatir, pemberian obat yang tidak tepat justru menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

“Aku tidak mau salah obat. Nanti rusak ginjalnya, siapa lagi yang bertanggung jawab," ucapnya.

Ia juga mengatakan, keinginannya untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan tersebut tidak terlepas dari pengetahuan pengobatan tradisional yang berkembang di masyarakat Karo.

“Intinya kami mau obat yang cocok dengan penyakitnya,” katanya.

Fitriani juga mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban dari BGN terhadap para korban. Menurutnya, orang tua hingga kini masih membutuhkan penjelasan yang lebih jelas mengenai kondisi anak-anak mereka serta langkah penanganan yang dilakukan pemerintah.

Menanggapi kemarahan orangtua murid itu, Kepala BGN Sudaryono tidak kuasa berkata apa-apa. Ia hanya lebih banyak mendengar. Sudaryono hanya bisa berjanji, kasus serupa tidak akan terjadi lagi. Ia sudah memerintahkan pengawasan ketat kepada semua dapur MBG yang ada di berbagai daerah.

Kepada wartawan yang mewawancainya, Sudaryono  mengingatkan bahwa ia akan memperketat system penyediaan makanan bagi para pelajar. Ia pun mengingatkan agar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar bekerja serius.

Sudaryono mengancam akan mencabut status ASN PPPK yang bekerja ala kadarnya.

Diketahui, Sudaryono selama memimpin lembaga penyelenggara program MBG mengaku telah menutup 1.300 SPPG yang tidak memenuhi standar keselamatan pangan.  Langkah tegas tersebut diambil oleh BGN guna mengevaluasi adanya kasus keracunan makanan di Brastagi serta menjaga kualitas pemenuhan gizi anak-anak di Indonesia.

Namun di tengah kebijakannya yang menutup sejumlah SPPG, ternyata masih ada rencana BGN  menambah SPPG baru. Bahkan jumlahnya cukup besar. Sebagian SPPG itu ditangani yayasan di bawah lindungan Ormas, Polisi, TNI dan para tokoh politik.  Jangan heran sebab ada cuan di balik proyek MBG itu.

Makanya MBG Watch -- sebuah lembaga masyarakat sipil yang memantau program ini -- merasa kecewa dengan  langkah BGN itu. Mereka menuding upaya menutup SPPG itu hanya tipu daya semata.  

“Dasar setan. Ini kebijakan yang dazzal,” kata Annette Mau dari MBG Watch dalam aksi yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu (15/8/2026).

Bahkan Annette Mau yakin, BGN tidak akan berani menutup dapur milik Kodim yang ada di Brastagi. Paling dapur itu hanya disanksi sementara, setelah itu akan dibuka kembali. Mungkin saja dengan nama baru.  Maklum, investasi yang dikeluarkan untuk pengembangan dapur itu cukup besar. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini