-->

Ketua dan Rais Am NU Terpilih Merupakan pendukung Prabowo-Gibran, Istana Bahagia

Sebarkan:

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai ketua umum NU yang baru
Jangan pernah percaya kalau Nahdlatul Ulama (NU) akan kembali ke khittah menjadi organisasi yang peduli dengan pembinaan umat. Pada akhirnya ormas ini tetap lebih banyak bermain di politik dengan menjual isu-isu agama.  Semua itu bisa dibaca dari  hasil akhir  muktamar yang  berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin 31 Agustus pagi.

Dua tokoh yang terpilih dalam muktamar itu adalah sosok yang memang sejak digadang-gadang istana untuk memimpin Ormas Islam tersebut. 

Adapun kedua tokoh yang terpilih itu adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai ketua umum, sedangkan posisi Rais Am masih dipercayakan kepada Kiai Haji Miftahul Akhyar. Keduanya terpilih sebagai pimpinan tinggi NU periode 2026-2031.

Ketua tokoh Islam Jawa ini dikenal sebagai pendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran pada Pemilu 20204 lalu. Tak heran jika terpilihnya kedua sosok ini sejalan dengan keinginan istana. Scenario penguasa untuk mengendalikan NU kembali berhasil.

Sejak awal istana memang  sangat mendorong agar dua pasangan ini terpilih sebagai Ketua Umum dan Rais Am NU. Ada dua menteri di kabinet Prabowo yang berperan mengendalikan muktamar NU itu, yakni Menteri sosial  Syaifullah Yusuf, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang. Nusron Wahid.

Berkat peran kedua menteri itu,  akhirnya sosok yang digadang-gadang istana berhasil menguasai proses muktamar.  Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa NU kembali akann menjadi alat politik istana. Ulama-ulama NU kembali akan menjadi penjilat penguasa.

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sedangkan KH Miftachul Akhyar merupakan  pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya. Keduanya memang dikenal sebagai sosok yang lama berkesimpung dalam NU.

Sebelumnya, ada lima kandidat ketua umum PBNU yang diajukan kepada tim formatur atau ahlul halil wal aqdi (AHWA) selaku pihak yang berhak memilih ketua NU. Selain Gus Kikin, empat calon lainnya adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta KH Abdul Ghaffar Rozi.  Semuanya adalah ulama di Jawa. 

Kiai Haji Miftahul Akhyar kembali menjabat Rais Am di tubuh NU
Maklum, NU memang Ormas Islam yang berkembang di Jawa. Sedangkan yang di luar jawa hanya jadi penggembira saja. Tidak banyak berperan dalam muktamar itu.

Bagi KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, ini merupakan jabatan pertamanya sebagai ketua PBNU, sedangkan bagi KH Miftachul Akhyar, jabatan sebagai Rais Am merupakan yang kedua berturut-turut baginya. Rais Am merupakan pemimpin tertinggi dalam NU, namun roda organisasi tetap dijalankan oleh Ketua Umum.

Terpilihnya kedua sosok ini tentu saja membuat istana sangat gembira. Dengan demikian bisa dipastikan NU kembali dalam kendali penguasa. NU pun bahagia karena kedekatan mereka dengan penguasa akan memberi jaminan bahwa kucuran anggaran negara untuk organisasi ini tetap cair. Enaknya jual isu agama…!**

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini