![]() |
| Gibran Rakabuming dan Dedi Mulyadi, akankah berpasangan pada Pemilu 2029? |
Maka itu, beredar kabar Jokowi dan PSI sedang menggadang-gadang agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dipersiapkan untuk menjadi pasangan Gibran.
Untuk mendukung misi itu, politisi PSI sudah menyebarkan kabar kalau Dedi Mulyadi akan mundur dari Partai Gerindra. Namun kabar itu langsung dibantahnya. Dedi mengaku sama sekali tidak ada rencana mundur dari partai itu.
Terlepas dari perdebatan soal partai, pegiat politik, sosial, dan ekonomi Arif Wicaksono menilai, Dedi Mulyadi akan sangat mengecilkan nilai politiknya kalau saja ia mau perpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka di Pilres 2029.
Sebagai politisi, Dedi punya kualitas, punya latar belakang perjuangan yang jelas, dan merupakan sosok yang merangkak dari bawah.
Berbeda dengan Gibran Rakabuming yang sarat masalah. Selain jenjang pendidikannya yang dipertanyakan orang, kualitas individunya benar-benar di bawah standar. Latar belakang politiknya juga sangat tidak jelas.
Gibran melaju dalam dunia politik samata-mata karena dukungan orangtuanya. Basis massa pendukung Gibran juga sangat diragukan karena kemampuan komunikasi politiknya sangat tidak jelas. Malah beredar kabar kalau di saat remaja, Gibran pernah tersangkut kasus narkoba.
Kasus narkoba itu yang membuat Jokowi mengirimkan ke Singapura dan selanjutnya mengikuti kursus Bahasa Inggris selama 6 bulan di Australia. Belakangan kursus Bahasa Inggris itu kemudian dianggap setingkat dengan SMA oleh Kementerian Pendidikan RI.
Langkah Kementerian Pendidikan mengeluarkan surat penyetaraan itu tentu saja atas perintah dari Jokowi yang saaat itu menjabat sebagai presiden. Surat itu yang kemudian menjadi modal Gibran melangkah dalam dunia politik sehingga ia bisa duduk sebagai Walikota Solo (2020-2025) dan wakil presiden (2025-2030).
Gibran merupakan andalan Jokowi agar keluarga mereka untuk kembali berkuasa di dunia politik. Maka itu, persiapan untuk mencari pasangan Gibran pada Pemilu 2029 sedang dipersiapkan oleh Jokowi dan PSI . Nama Dedi Mulyadi berada di urutan pertama untuk mendampingi Gibran.
Sejauh ini Dedi belum pernah menanggapi kabar ini. Tapi kalau saja scenario ini benar adanya, maka Dedi Mulyadi akan masuk kategori politisi Goblok.
Betapa tidak, sebagai publik figur, Dedi sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan sosok Gibran. Justru ia akan sarat masalah kalau perpasangan dengan putra Jokowi itu.
Sebaliknya, Gibran lah yang sangat membutuhkan Dedi Mulyadi. Gibran bakal memperoleh banyak keuntungan apabila berhasil menggandengan dengan gubernur Jawa Barat itu.
Penilaian tersebut merujuk pada hasil survei Media Survei Nasional (Median) yang menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 19,8 persen, sementara Gibran hanya berada di angka 2 persen.
"KDM nggak butuh Gibran. Yang butuh justru sebaliknya. Kalau KDM rela jadi pasangan itu, artinya dia sendiri yang ngecilin nilainya: 19,8% berbanding cuma 2%. KDM apa mau dipinjam popularitasnya?" tulis pengamat politik Arif Wicaksono di akun X pribadinya, dikutip Selasa (22/9).
Berdasarkan survei Median, Prabowo Subianto memang masih memimpin simulasi terbuka calon presiden dengan elektabilitas 32,2 persen. Dedi Mulyadi berada di urutan kedua dengan 19,8 persen, disusul Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 19,5 persen. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka hanya memperoleh 2 persen dukungan.
Gibran meraih nilai itu semata-mata karena posisinya sebagai wapres.
Sedangkan dalam simulasi semi terbuka calon presiden, Prabowo Subianto meraih elektabilitas 32,4 persen. Dedi Mulyadi mendapat 20,6 persen, Anies Baswedan mengantongi 20,5 persen, sedangkan Gibran Rakabuming Raka mencatatkan elektabilitas sebesar 2,6 persen.
Survei tersebut dipublikasikan pada 1 September 2026 berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Merujuk kepada survey itu, tentu saja Gibran dalam posisi terancam. Makanya Jokowi pun sibuk melakukan safari politik ke sana kemarin untuk memperkuat PSI dan dukungan bagi keluarga mereka. Harapannya, tentu akan bisa mendongkrak posisi Gibran.
Jokowi sama sekali tidak peduli soal kecerdasan dan kepantasan anaknya untuk menjabat pemimpin negara. Yang penting, ia bisa membohongi pemilih untuk mendukung Gibran, sehingga kekuatan politik keluarga mereka kembali bisa Berjaya.
Jika tidak, alamat bakal banyak kasus hukum keluarga itu yang dibongkar ke permukaan. ***
