-->

Disertasinya Membahas Tantangan Politik Gen Z, Jovan Latuconsina Raih Gelar Doktor dari Unair

Sebarkan:
Agust Jovan Latuconsina saat menyampaikan presentasi penelitiannya tentang Tantangan dan Dinamika Politik Gen Z pada sidang promosi Doktor di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis 3 September 2026

Tantangan dan dinamika politik Generasi (Gen) Z – sebutan untuk generasi kelahiran 1995 hingga 2012 – merupakan topik yang diangkat Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Agust Jovan Latuconsina untuk menggapai gelar Doktor di Universitas Airlangga (UNAIR) pada sidang promosi yang berlangsung Kamis 3 September 2026. Topik penelitian itu sangat menarik sehingga sidang itu berlangsung cukup mengundang perhatian banyak pihak.

Dalam sidang itu, Jovan, panggilan akrab tokoh ini, menjelaskan tentang pentingnya bagi parpol memberi perhatian bagi  dinamika politik Gen Z mengingat jumlah pemilih pada kelompok cukup banyak. Bahkan mencapai 56% dari total pemilih.

Jovan menjabarkan tentang dinamika politik Gen Z itu berdasarkan amatannya selama Pemilu 2024. Disertasi itu ia beri judul "Pengaruh Demokrasi Digital, Literasi Politik, dan Post Truth Politics Terhadap Partisipasi Politik Generasi Z Pada Pemilu 2024 di Indonesia".

Secara garis besar Jovan menegaskan bahwa peningkatan partisipasi anak muda harus diimbangi dengan literasi politik yang kuat agar tidak terjebak dalam arus disinformasi, politik identitas, maupun post-truth politics.

Tingginya peran Gen Z pada Pemilu lalu bakal berlanjut pada Pemilu 2029. Oleh karena itu Jovan mengingatkan partai politik untuk memberi perhatian kepada kelompok pemilih anak muda ini. Apalagi pada Pemilu berikutnya, Gen Z ini tidak hanya sebagai pemilih, tapi juga banyak yang bermain dalam kompetisi politik.

Sebagai seorang politisi, Jovan tertarik dengan dinamika politik Gen Z sebab ia sendiri sedang mendorong Partai Demokrat agar menghadirkan banyak program guna menarik bagi pemilih kelompok ini. Jovan banyak mengamati dinamika politik Gen Z ini di tengah-tengah  kesibukannya sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Tim guru besar Unair selaku pihak yang menguji disertasi itu sangat mengapresiasi penelitian tersebut sehingga Jovan resmi melengkapi gelarnya sebagai Doktor ilmu politik.

Dengan kapasitas intelektual, pengalaman lapangan, serta fondasi akademik yang ia miliki selama ini, Jovan semakin yakin melangkahkah kaki dalam dunia politik. Ia diproyeksikan bakal mengambil peran lebih besar pada kontestasi politik ke depan,  termasuk mengisi pos Daerah Pemilihan (dapil) Bogor-Cianjur pada Pemilu 2029.

Sidang terbuka promosi doktor tersebut berlangsung khidmat dan istimewa karena dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara dan elit partai, mulai dari Menko Infraswil yang juga Ketua Umum Partai Demokrat AHY, Menteri Transmigrasi, Menteri Ekonomi Kreatif, Sekjen Demokrat Herman Khaeron, dan lainnya.

Kehadiran para tokoh ini mencerminkan solidnya ikatan persahabatan serta pentingnya substansi riset yang diangkat bagi lanskap politik nasional ke depan.

Jovan memiliki latar belakang sebagai perwira TNI-AD dengan rekam jejak cemerlang. Sosok politisi ini  dikenal bersahabat dekat dengan AHY sejak keduanya sama-sama menjalani Pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Persahabatan mereka berlanjut di TNI. Keduanya sama-sama abituren Akmil 2000.

Adapun awal karier Jovan di TNI dimulai sebagai pejabat Komandan Peleton (Danton) di Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti di jajaran Kodam I/Bukit Barisan (2002 – 2006). Selanjutnya ia dipercaya menjabat sebagai Perwira Seksi 2 - Operasi (2006 – 2008) dan Komandan Kompi Senapan B (2009 – 2010) di satuan yang sama.

Pada 2008, saat masih berpangkat kapten, Jovan mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan perwira di Amerika Serikat, satu tahun mendahului rekan seangkatannya. Pendidikan yang diikutinya adalah Maneuver Captain Career Course (MCCC) yang berlangsung di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat, selama 7 bulan.

Pengukuhan gelar Doktor bagi Agust Jovan Latuconsina
Pada 2010, masih di pangkat yang sama, ia mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan S2 Program Studi Manajemen Pertahanan, di Universitas Pertahanan (UNHAN).  Setelah lulus pada Mei 2012, Jovan ditugaskan di Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) Bandung menjabat sebagai Kepala Seksi Material Satuan (Kasimatsat) di bawah Staf Direktur Pembinaan Kesenjataan (Sdirbinsen) Pussenif (2012 – 2013).

Pada September 2013, Jovan sempat bergabung di Staf Kepresidenan RI Bidang Komunikasi Strategis (2013 – 2014) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lalu delapan bulan kemudian ia berangkat mengikuti Pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di Nanjing Army Command College (NACC) di Tiongkok, dan lulus sebagai salah satu siswa terbaik asal luar negeri dengan predikat Excellent Student.

Usai mengikuti pendidikan itu, Jovan didapuk sebagai Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan (Kabagrendik) Akmil (2015 – 2016) di bawah Direktur Pembinaan Pendidikan (Dirbindik) Akmil. Di sini ia sempat berjibaku untuk menyelesaikan revisi kurikulum Taruna Akmil yang digunakan saat ini.

Delapan bulan berdinas di Akmil, ia kemudian ditarik menjadi Kepala Staff Pribadi (Kaspri) Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) di tahun 2016 (2016 – 2017).

Selanjutnya promosi sebagai Kaspri Pangkostrad dan menjabat Komandan Batalyon Infanteri Raider 323 Divisi I Kostrad (2017 – 2019), atau biasa dikenal dengan sebutan Batalyon Buaya Putih.

Pada awal 2019 Jovan memutuskan pensiun dini dari dunia militer yang sudah digelutinya selama 19 tahun, untuk  berpindah ke jalur politik. Ia bergabung di Partai Demokrat dan saat ini dipercaya mengemban jabatan  Wakil Sekjen Dewan Pengurus Pusat. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini