-->

Harga Beras terus Melonjak, Siapa yang Berkoar-koar RI Swasembada Beras? Dasar Pembohong..!

Sebarkan:

Walau Pemerintah berkoar-koar kalau produksi beras Indonesia meningkat pesat, nyatanya  harga beras selama delapan bulan terakhir terus mengalami kenaikan. Bahkan beras premium kini mulai langka di pasaran.

Fakta ini semakin meragukan argumen pemerintah yang mengklaim Indonesia telah swasembada beras. Logikanya, kalau stok beras mencukupi di pasaran, semestinya tidak ada kelangkaan barang. Harga pun seharusnya stabil.

Nyatanya, kenaikan harga terus terjadi karena barang yang dicari relatif sulit didapat. Malah untuk beras premium kini menjadi barang langka.  Lalu, masih percaya Indonesia telah swasembada beras?

Sebelumnya data BPS  selalu menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia terus meningkat.

Ya, itu data BPS. Tentu saja ini meragukan sebab BPS  berada dalam kendali penguasa.  Mereka cenderung menyenangkan pimpinannya dengan data-data yang membuat pemimpinnya tersenyum. Padahal di lapangan, kondisi tidak sesuai dengan yang dilaporkan.

Sampai 1 September 2026,  harga beras di tingkat penggilingan naik 1,32%. Begitu juga di tingkat grosir dan eceran yang masing-masing naik 0,80% dan 0,42%. Hal ini sekaligus menjadikan tren kenaikan harga beras terus terjadi sejak awal tahun.

"Ini adalah rekor. Rekor lain yang patut dicatat adalah selama delapan bulan beruntun pula harga beras selalu menjadi penyumbang inflasi," ujar Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dalam catatannya, dikutip Kamis (3/9/2026).

Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan klaim BPS yang selama ini mengaku bahwa Indonesia kelebihan produksi  beras.

Khudori mengatakan, BPS pernah mengklaim kalau stok beras di Bulog saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton, sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Apalagi, pemerintah belakangan juga menyebut produksi beras nasional sangat melimpah dan telah mencapai swasembada.

Faktanya, sejak awal tahun, harga beras selalu andil menjadi komoditas penyumbang inflasi.

Per Agustus 2025, beras juga menjadi penyumbang inflasi kategori volatle food atau harga bergejolak selain daging ayam ras dan cabai rawit.

"Kalau kenaikan harga beras terjadi seminggu dua minggu, amat mungkin ada spekulan yang bermain-main untuk menangguk untung. Akan tetapi, kalau kenaikan harga berlangsung berbilang minggu dan bahkan berbulan-bulan, perlu diperiksa lebih teliti," tutur Khudori.

Khudori lantas menyoroti efektivitas program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Per 31 Agustus, Bulog melaporkan penyaluran beras SPHP mencapai 731,23 ribu ton atau mendekati target yang dipatok sebesar 828 ribu ton.

Persoalannya, kata dia, adalah bukan semata-mata berapa banyak beras yang telah disalurkan, melainkan dari jalur mana dan dalam bentuk apa beras itu mengalir. Khudori mencatat, dari total itu, sebanyak 275,6 ribu ton atau 37,69% disalurkan lewat pelaksanaan gerakan pangan murah.

Sementara, sebanyak 171,1 ribu ton atau 23,4% disalurkan lewat rumah pangan kita; sebanyak 168,5 ribu ton melalui pengecer pasar rakyat. Lalu, penyaluran lewat ritel modern disalurkan sebesar 23,6 ribu ton atau 3,2%, sekaligus menjadi yang terendah.

"Kalau harga beras di pasar tetap naik, kemungkinannya ada empat: jumlah aliran kurang besar, BULOG "salah obat" jenis beras, salah tempat jualan, dan ada isu kualitas," kata Khudori.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras per hari ini, Rabu, juga mayoritas masih naik. Beras kualitas medium I dan II masing-masing naik 0,3% dan 0,31% menjadi Rp16.550 dan Rp16.350/kg.

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini