-->

USU Didengungkan dalam Kendali Genk Solo, Muryanto Kembali Mendaftar sebagai Calon Rektor

Sebarkan:
Rektor USU petahana Muryanto Amin percaya diri maju sebagai calon rektor USU meski kasus korupsi mendera dirinya. Muryanto disebut-sebut berafiliasi dengan genk Solo untuk wilayah Sumut dibawah kepemimpinan Bobby Nasution 

Isu korupsi yang sedang menerpa Muryanto Amin tidak mengganggu niatnya untuk kembali maju sebagai calon rektor USU periode 2026-2031. Pejabat incumbent ini merasa masih didukung oleh genk Solo yang dimotori menantu Jokowi dan juga Gubernur Sumut, Bobby Nasution. Muryanto resmi mendaftar sebagai calon rektor ke kantor panitia pemilihan pada pekan pertama September 2025.

Sampai saat  ini Muryanto yakin sebagian besar dari 112 anggota senat akademik USU akan berpihak kepadanya karena mereka semua telah dikondisikan sejak awal.

“Para anggota senat itu adalah ‘Ternak Muryanto’ yang memang sudah dipilihnya pada pemilihan senat akademik pertengahan tahun lalu,” kata salah seorang dosen senior di USU.

Sebanyak 112 anggota senat akademik itu adalah pihak yang akan memberikan suara pada tahap pertama untuk memilih tiga kandidat rektor yang akan diajukan ke Majelis Wali Amanat. 

Sebagai rektor petahana, sejak awal Muryanto telah melakukan seleksi kepada Senat Akademik itu sehingga sebagian besar mereka adalah orang-orang yang berpihak kepadanya. Malah beredar kabar kalau beberapa tokoh senior Senat Akademik telah mendapat kucuran dana agar konsisten mendukung dirinya. 

Senat Akademik senior itu pula yang bergerak mempengaruhi senat lainnya agar tidak berpaling dari Muryanto.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Muryanto memiliki finansial yang kuat karena mendapat dukungan dana dari Bobby Nasution.

Sempat mencuat kabar kalau dana itu berasal dari uang korupsi proyek jalan yang menghebohkan belakangan ini, sehingga kasus itu pula yang membuat Muryanto harus dipanggil KPK untuk menjalani pemeriksaan. 

Namun ada saja cara cerdik Muryanto untuk mensiasati panggilan itu. Ia tidak mau menghadiri panggilan KPK itu tanpa alasan yang jelas sehingga seakan-akan namanya masih bersih. Kalaupun KPK akan memanggilnya untuk kedua kali, Muryanto dipastikan  kembali mangkir.  Hanya saja caranya lebih cerdik lagi, sebab dalam waktu dekat ia akan umroh.

Keputusannya untuk melakukan Umroh adalah langkah Muryanto agar tidak hadir pada pemanggilan kedua yang kabarnya akan dilakukan KPK dalam waktu dekat ini. Dengan demikian Muryanto tetap merasa tidak tersentuh hukum sehingga tidak masuk ketegori calon rektor yang melanggar etika.

Yang lebih lucu lagi, kelompok pendukung Muryanto sedang mengembangkan isu bahwa pemanggilan KPK terhadap rektor itu bukan karena keterlibatannya dalam kasus korupsi, melainkan karena kepentingan KPK yang membutuhkan keteranganya sebagai konsultan.

Padahal KPK tegas mengatakan bahwa Muryanto dipanggil karena adanya indikasi aliran dana korupsi yang mengalir kepada dirinya. KPK juga tahu kalau Muryanto merupakan satu cyrcle pergaulan dengan Gubernur Bobby Nasution dan Topan Ginting, mantan Kepala Dinas PUPR yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan KPK di Sumut.  

Tapi semua isu itu telah dibelokkan sehingga seakan-akan Muryanto sama sekali tidak bermasalah dengan KPK.

Satu lagi kabar yang beredar di USU adalah anggapan bahwa pengaruh kubu Jokowi masih sangat kuat di kampus itu.  Hal itu tergambar dari dukungan Bobby Nasution yang terus menerus diberikan kepada Muryanto sebab rektor itu adalah konsultan politiknya.

Sedangkan di tingkat Majelis Wali Amanat (MWA), Muryanto dipastikan bakal mendapatkan dukungan dari Agus Andrianto selaku ketua MWA USU. MWA adalah pihak yang akan memberikan suara pada tahap pemilihan akhir. 

Agus Andrianto yang juga menjabat Menteri Imigrasi dan Lembaga Pemasyarakatan memang dikenal sebagai barisan pendukung Jokowi yang aktif memainkan peran “Partai Colkat” dalam membantu Bobby Nasution di dua Pilkada di Sumut. 

Namun Agus Andrianto bukanlah penguasa tunggal di MWA. Masih ada 18 anggota Wali Amanat lainnya yang akan memberikan suara. Yang terbesar adalah suara dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sain  dan Teknologi yang nilainya 35 persen. Kabarnya Mendikti yang dijabat oleh  Brian Yuliarto enggan memberikan suara kepada Muryanto karena dianggap gagal membangun kampus USU sebagai kampus independen dan berdedikasi dalam pendidikan tinggi.

Meski demikian, kubu pendukung Muryanto membalas dengan mendengungkan kabar bahwa USU tidak bergantung kepada Mendikti Riset, tapi tunduk kepada genk Solo. Terbukti, genk Solo masih mengendalikan USU di bawah pengaruruh Bobby Nasution dan Agus Andrianto. Hal ini yang menguatkan Muryanto untuk kembali maju sebagai calon rektor.

Jika kembali dipimpin Muryanto, pada akhirnya kampus USU kembali dijadikan sebagai alat  politik demi mendukung Bobby Nasution kembali terpilih sebagai gubernur pada Pilkada 2029 dan naiknya Gibran Rakabuming menjadi Presiden di Pemilu 2029.

Terkait masalah ini. Muryanto sama sekali tidak mau memberi komentar. Sejak terendus terlibat kasus korupsi proyek jalan di Sumut, Ia selalu enggan memberikan keterangan kepada wartawan.  Muryanto lebih fokus membangun kekuatan di Senat Akademik karena ia sangat yakin kelompok ini pasti tunduk kepada dirinya. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini