-->

163 Titik Longsor Sumut sudah Ditangani, Empat Masih Lumpuh, Jalur Medan-Tapteng Tersendat

Sebarkan:

Akses ruas jalan pascabencana di Sumatera sudah dapat dilalui kendaraan (
Penanganan darurat bencana di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terus menunjukkan perkembangan positif. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kemajuan signifikan dalam perbaikan infrastruktur yang terdampak bencana di sejumlah wilayah, mulai dari Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Dairi, Karo, Medan, Deli Serdang hingga Binjai.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa hingga Rabu, 10 Desember, pihaknya mencatat total 171 titik longsor, 27 titik jalan putus, 38 titik jalan amblas, 4 oprit jembatan putus, serta 28 titik genangan banjir.

“Sebagian besar titik sudah tertangani. Dari total itu, 163 titik longsor sudah kami bersihkan, kemudian 10 titik jalan putus dan 18 titik jalan amblas sudah ditangani. Genangan banjir di 28 lokasi juga sudah surut,” ujar Abdul.

Meski demikian, Abdul menyebut masih ada empat koridor utama yang belum bisa dilalui karena mengalami kerusakan berat. “Ruas Tarutung–Sibolga, Tarutung–Sipirok, Sibolga–Batangtoru, dan Batangtoru–Singkuang masih terputus di beberapa titik. Beberapa ruas amblas total dan oprit jembatan juga putus, sehingga butuh penanganan khusus,” jelasnya.

Untuk sementara, akses menuju Sibolga dialihkan melalui jalur Sidikalang–Barus–Sibolga. Sementara itu, pengganti jalur Tarutung–Sipirok yang terputus adalah rute Siborong-borong–Pangaribuan–Sipirok sepanjang 114 kilometer. Namun akses tersebut masih terbatas. “Ruas alternatif ini hanya bisa dilewati kendaraan kecil karena ada tiga titik amblas yang menggerus setengah badan jalan,” kata Abdul.

Ia menerangkan bahwa ruas dengan kerusakan terparah adalah Batas Kota Tarutung–Batas Kabupaten Taput–Sibolga dengan 96 titik kerusakan dan ruas Tarutung–Sipirok dengan 54 titik terdampak. Pada ruas Rampa–Poriaha (Mungkur), terdapat 12 titik longsor dan amblas, tujuh di antaranya longsor besar yang memutus jalan total.

“Dari total 31 titik jalan putus, 10 badan jalan dan 3 jembatan sudah selesai ditangani. Sisanya sedang kami kerjakan secara bertahap,” ucapnya.

Abdul menyampaikan bahwa penanganan pada ruas Tarutung–Sipirok telah mencapai 50 dari 54 titik. “Masih ada satu titik jalan putus di STA 10+125 yang sedang kami siapkan badan jalan sementara. Di titik lain seperti STA 08+200, akses sudah terbuka meski pemadatan belum optimal karena cuaca,” jelasnya.

Pada ruas Tarutung–Sibolga, penanganan telah dilakukan di 78 dari 96 titik. Namun masih terdapat longsor besar sepanjang 100–150 meter yang belum bisa dijangkau alat berat. “Jumlah titik kerusakan kemungkinan masih bertambah karena akses makin terbuka dan lokasi baru teridentifikasi,” tambah Abdul.

Untuk percepatan pemulihan, BNPB dan kementerian terkait telah mengerahkan 106 unit alat berat ke sejumlah lokasi. “Kebutuhan BBM alat berat untuk operasi sehari sudah terpenuhi sebanyak 10.600 liter. Material seperti geobag, bailey bridge, dan aramco juga terus kami penuhi,” tuturnya.

Selain penanganan darat, operasi modifikasi cuaca (OMC) juga terus dilakukan. Pada Rabu pagi, pesawat PK-YNA melakukan tiga sorti dan menebar 3.200 kilogram bahan semai NaCl. Secara total sejak 9–10 Desember, sudah dilakukan enam sorti dengan 4.000 kilogram NaCl dan 800 kilogram CaO.

“Tim saat ini mempersiapkan sortie keempat untuk wilayah perairan barat Tapanuli Tengah. Kami gunakan 800 kilogram NaCl pada misi ini,” ujar Abdul. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini