-->

AHY Optimalkan Jalur Laut untuk Pengiriman Bantuan, Jalan Darat Menuju Tapteng Mulai Pulih

Sebarkan:
Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono meninjau Kapal KRI Sutedi Senaputra yang akan berangkat menuju Aceh dari Pelabuhan Belawan untuk membawa bantuan bagi korban bencana. Penyaluran harus dilakukan melalui jalur laut di Belawan karena jalan darat sudah terputus akibat banjir dan longsor.

Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bekerja keras untuk memenuhi janjinya menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi bencana di Sumatera, baik itu di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga dan juga sejumlah wilayah Aceh. Karena kesulitan mengiriman bantuan melalui jalur darat, AHY berupaya mengoptimalkan pengiriman melalui jalur laut.

Guna memastikan pengiriman bantuan berjalan lancar, AHY yang didampingi dua staf khususnya, Agust Jovan Latuconsina dan Sigit Raditya  serta  Menteri Transmigrasi Bapak Mohamad Iftitah Sulaiman Suryanegara mengunjungi Pelabuhan Belawan Senin pagi untuk memastikan kesiapan sarana di sana dalam pengiriman bantuan. 

Saat berada di Belawan, AHY disambut  Wadan Koda Eral I, Drikjen TNI Marinir Alibahar Saragi dan Komandan KRI Sutedi Senaputra 378 yaitu Letkol Pelaut M Suryo serta keluarga besar TNI AL. Mereka meninjau seluruh bahana makanan di atas kapal yang sudah siap angkut ke Lokasi bencana.

Kehadiran AHY di Belawan memperkuat sikap pemerintah dalam menangani bencana Sumatera agar lebih cepat. Di saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto juga meninjau langsung lokasi bencana yang ada di Tapanuli tengah dan Sibolga.

“Kami berada di Sumatera Utara selama 2-3 hari guna memastikan bantuan bisa disalurkan ke lokasi bencana. Saat yang sama, perbaikan infrastruktur yang rusak juga akan terus kita pacu,” kata AHY. 

Sikap itu menunjukkan kalau  Pemerintah pusat akan terus mengawal proses tanggap darurat bencana di 3 provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Kita tahu ada cukup banyak kabupaten kota yang terdampak langsung. Kita akan mempercepat pemulihan di lokasi bencana itu,” katanya.

Bersamaan dengan kunjungan itu, AHY juga melepas keberangkatan KRI Sutedi Senaputra yang membawa kurang lebih 50 ton beras -- masing-masing 40 ton dari Kementerian Transmigrasi, 10 ton dari Kementerian Sosial – yang kesemua tentu  merupakan bantuan dari Presiden Prabowo Subianto untuk menjangkau masyarakat yang terisolir dan membutuhkan bantuan di Lokasi bencana. Ada juga sembako yang lain, termasuk mi instan dan obat-obatan yang diperlukan.

Diharapkan dalam waktu sekitar 17-18 jam, Kapal itu bisa tembus ke Lhoksumawe, setelah itu 5 jam bisa tembus ke Idi Rayeuk, dua Lokasi bencana yang terisolair di Aceh.

“Selebihnya tentu saya ingin memastikan pada kesempatan yang ada, saya berupaya juga untuk datang ke lokasi-lokasi yang terdampak langsung, baik di Aceh, Sumatera Utara maupun Sumatera Barat. Sekali lagi tugas kami memetakan infrastruktur yang rusak, karena setelah tanggap darurat insya Allah bisa dilalui dengan baik, tugas penting berikutnya adalah bagaimana membangun Kembali,” tegasnya.

Jalur Tarutung–Sibolga Terbuka

Kehadiran AHY di Sumatera Utara selama dua hari ini turut mendorong percepatan upaya perbaikan infrastruktur yang rusak. Hasilnya tidak sia- sia, pada Senin hari ini,  sepanjang 40 kilometer jalan lintas di Tarutung–Sibolga, Sumatra Utara sudah berhasil ditembus tim gabungan menggunakan alat berat. 

Kerja keras untuk membuka jalur jalan yang longsor menuju lokasi bencana di Tapanuli Tengah
Keberhasilan ini juga dipastikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari keterangan yang diterima di Medan, Senin 1 Desember.

Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan tersebut melaporkan bahwa meski baru sebagian kecil terapi pembukaan jalur tersebut menjadi kemajuan signifikan demi mempercepat penyaluran bantuan dan operasi pencarian serta pertolongan (SAR) di wilayah terdampak, khususnya Kabupaten Tapanuli Tengah.

Posko Pendukung Nasional di Tapanuli Utara menerima laporan bahwa jalur Tarutung–Sibolga terputus di sejumlah titik hingga hampir ratusan kilometer akibat longsor, termasuk akses menuju beberapa desa di Parmonangan dan Adiankoting yang hingga kini belum dapat dijangkau.

Menurut Suharyanto karena kondisi tersebut lebih dari 12.000 warga terisolasi dari jangkauan distribusi logistik dan belum bisa dievakuasi oleh tim petugas gabungan dari Basarnas, TNI-Polri. BNPB mengkonfirmasi bahwa kondisi itu pula yang menjadi salah satu faktor yang membuat warga terpaksa mengambil logistik sembako di sejumlah toko swalayan dan gudang pemerintah dua hari lalu.

Dengan begitu upaya normalisasi pembukaan jalur darat, menurut Suharyanto dipastikan berlanjut pagi ini yang meliputi jalan lintas Kabupaten Mandailing Natal jalur Singkuang–Tabuyung serta ruas Batang Natal–Muara Batang Gadis yang masih terputus di beberapa titik sehingga menyebabkan isolasi sejumlah kecamatan.

Dalam kesempatan yang sama petugas dibawah koordinasi teknis daru Kementerian Pekerjaan Umum juga membuka lintasan akses secara bertahap menggunakan alat berat pada ruas jalan nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung.

Termasuk sejumlah akses lain di Provinsi Sumatra Utara dan Aceh yang juga dilaporkan masih terputus, yakni perbatasan Sumatra Utara-Aceh Tamiang dan, jembatan Meureudu di perbatasan Pidie Jaya–Bireuen yang mengalami kerusakan parah.

Data terbaru BNPB menyatakan jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus bertambah menjadi 442 jiwa. Sementara itu untuk total korban hilang di tiga provinsi mencapai 402 jiwa.

Sampai dengan Senin atau hari ke tujuh ini darurat bencana ini petugas gabungan menangani pengungsian yang tersebar di sejumlah titik, antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini