Ruas strategis Lintas Timur di Sumatera Utara yang
menghubungkan Medan–Binjai–Pangkalan Brandan–Tanjung Pura hingga perbatasan
Aceh telah kembali dapat dilalui, seiring percepatan penanganan infrastruktur
jalan dan jembatan.
Jalan Tol Kualanamu- Medan-Tebing Tinggi masih dalam perbaitan setelah terjadinya tanah amblas di Km 41
Kementerian Pekerjaan Umum (PU telah menurunkan 96 unit alat berat, enam unit alat pendukung, serta 1.957 unit bahan dan material penanganan bencana yang difokuskan pada pembukaan akses, perbaikan darurat, dan pembersihan material banjir. Sementara Pemerintah Provinsi Sumut hanya berperan sebagai pembantu. Gubernur Sumut tidak punya kemampuan dalam mengerahkan alat berat untuk menangani persoalan jalan itu. Tetap harus Kementerian yang turun.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan Kementerian PU terus melakukan penanganan jalan dan jembatanan untuk memastikan akses masyarakat dan distribusi logistik berjalan normal.
“Pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pembukaan kembali jalur transportasi menjadi prioritas utama sebelum pemerintah berbicara lebih jauh mengenai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur,” kata Dody dalam keterangan resmi, Minggu, 14 Desember.
Berdasarkan pendataan sementara, kata Dody, bencana berdampak pada 12 ruas jalan nasional dan empat jembatan nasional, serta 21 ruas jalan daerah dan empat jembatan daerah di berbagai kabupaten/kota.
“Penanganan darurat terus dilakukan secara bertahap untuk memastikan jalur vital tetap berfungsi,” ujarnya.
Konsultasi pemerintah
Di jaringan jalan tol, seluruh ruas terdampak di Sumatera Utara telah kembali beroperasi normal. Namun, pada ruas Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi masih diberlakukan rekayasa lalu lintas contraflow sejak 4 Desember 2025. Kementerian PU menargetkan ruas tersebut dapat kembali beroperasi normal sepenuhnya sebelum 16 Desember 2025 setelah terjadinya jalan amblas di Km 41.
Selain pemulihan konektivitas, penanganan bencana di Sumatera Utara juga difokuskan pada pengendalian banjir dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Di sektor Sumber Daya Air, tercatat sebanyak 51 sungai, tujuh bendung, dan sembilan sistem air baku terdampak bencana di Sumatera Utara. Kementerian PU terus melakukan identifikasi kerusakan dan penanganan darurat untuk menjaga fungsi infrastruktur pengendalian banjir dan ketersediaan air.
Pada sektor permukiman, Kementerian PU telah mengidentifikasi kerusakan infrastruktur SPAM dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) sebanyak 34 unit. Untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, dukungan darurat disalurkan berupa 66 hidran umum, delapan mobil tangki air, 21 unit toilet portable, empat unit biority, tiga mobil toilet, serta satu unit pipa mobile.
Selain itu, bencana juga berdampak pada prasarana strategis sosial, meliputi 231 unit sekolah, 121 unit madrasah, 39 unit pondok pesantren, 18 unit pasar, sembilan fasilitas kesehatan, serta 36 rumah ibadah. Data ini menjadi dasar penyiapan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. ***