Tidak hanya
Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara maupun Tapanuli Selatan ]yang
merasakan dampak buruk bencana banjir yang melanda Sumatera Utara sejak 25
November lalu. Wilayah Kota Medan juga merasakan dampak buruk yang tidak kalah beratnya. Yang paling parah dirasakan
warga kawasan Medan Utara dan sekitarnya. Sampai Jumat 5 Desember,
masih ada sejumlah warga yang mengungsi di wilayah itu karena rumah mereka dipenuhi lumpur.
Korban banjir di wilayah Medan Utara yang masih mengungsi karena rumah mereka dipenuhi lumpur. Para pengungsi membutuhkan bantuan dari para dermawan.
Para pengungsi belum banyak yang mendapat bantuan. Sampai hari ini mereka masih banyak yang tidur di masjid terdekat atau di rumah sanak saudara yang tidak terkena banjir. Sementara rumah mereka mengalami kerusakan karena setidaknya sudah kali diserang genangan banjir yang cukup parah dalam dua pekan ini.
Untuk membantu meringankan penderitaan para korban , sekelompok Musisi Marelan menggagas konser amal untuk mengundang masyarakat beramai-ramai memberikan donasinya. Konser amal sederhana itu berlangsung dua hari, yakni pada Kamis dan Jumat (4-5 Desember 2025) di pelataran parkir Lumbung Kuliner, Marelan.
Pada konser hari pertama Kamis 4 Desember, kelompok Musisi itu telah berhasil mengumpulkan berbagai bantuan dari masyarakat, antara lain, beras, sendal, tikar, mi instan, air mineral, pakaian bekas, roti, dan uang sebesar Rp 5,467,500.
Pada konser Jumat ini, diharapkan donasi akan bertambah sehingga bantuan yang diperoleh tidak hanya diberikan bagi korban banjir di Medan Utara, tapi juga korban bencana di Langkat yang sampai hari ini kondisinya masih cukup parah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan mencatat sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat terdampak banjir di seputaran Kota Medan. yang terparah adalah wilayah Medan Utara, kawasan yang memang terkenal rentan banjir di Medan.
Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus melakukan pembersihan di area permukiman warga pascabanjir hebat yang melanda kawasan Medan Utara.
“Ada banyak rumah yang lumpurnya masih sangat tebal sehingga warga masih harus mengungsi. Air sudah surut, namun pembersihan masih berlangsung. Saat ini kami bersama OPD lain dan pihak kewilayahan masih fokus melakukan pembersihan,” katanya. Apalagi saat banjir terjadi, ketinggian air di sejumlah lokasi di Medan Utara mencapai pinggang orang dewasa.
Yunita mengungkapkan, genangan air diperkirakan benar-benar surut di Medan Utara apabila dalam tiga hari ke depan tidak turun hujan dan cuaca panas.
“Jika kondisinya panas, kita prediksi tiga hari lagi sudah surut, mengingat Medan Utara merupakan daerah hilir sehingga butuh waktu bagi air untuk keluar. Namun yang pasti, fokus kita saat ini adalah pemenuhan kebutuhan warga di pengungsian, mulai dari makanan hingga kebutuhan lainnya. Kita juga terus memantau perkembangan di lapangan,” pungkasnya. ***
